Sukses

Entertainment

Nenny Soemawinata, Bicara Tentang Pendidikan & Pemberdayaan Perempuan

Next

Sempat menekuni berbagai bidang pekerjaan yang semuanya justru tak berhubungan dengan ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah—Computer Programming di Auckland University of Technology, Selandia Baru—Nenny mengungkapkan alasannya, “Coba liat deh, bidang apa pun yang saya tekuni berkaitan dengan komunikasi. Padahal background saya IT, tapi saya sama sekali tak pernah berkarier di bidang itu. Setelah lulus, saya memang tak tertarik ke sana. Saya mencari pekerjaan yang saya sukai. Karenanya, saya bekerja di hotel untuk berinteraksi dengan banyak orang. Saya memulai dengan posisi front office. Kemudian, tertarik ke sales setelah melihat teman-teman di sana tak cuma berinteraksi, tapi juga mengandalkan otak, strateginya. Saya lantas mencoba bidang itu.”

Nenny rupanya masih belum merasa tertantang. Ia yakin masih bisa melakukan lebih dari pekerjaannya saat itu. “Kemudian saya pindah lagi ke bidang advertising dan bertahan selama 15 tahun karena banyak sekali pelajaran yang saya dapat. Waktu selama itu membentuk saya untuk berpikir strategis. Namun, posisi sebagai President Director lagi-lagi menggerakkan saya untuk mencari tantangan yang baru karena karier saya sudah mentok. Itulah kenapa kemudian saya masuk ke dunia pertelevisian sambil membuka usaha sendiri,” paparnya.

Tak tanggung-tanggung, perempuan kelahiran India, 31 Januari 1954, ini pernah menduduki posisi penting di sejumlah perusahaan. Ia pernah menjabat sebagai President Director Indo-Ad/Ogilvy, General Manager & Chief Operating Officer ANTV, Director of Operations RCTI, Konsultan MRA Group, Chief Operating Officer O-Channel, dan Head of Programming U Television Sdn Bhd, Berjaya Group, Malaysia, sebelum diminta secara khusus oleh Putera Sampoerna untuk bergabung dengan PSF—Institusi bisnis sosial pertama di Indonesia dengan visi mencetak calon pemimpin dan wirausahawan handal.

“Intinya, kita membantu anak-anak supaya mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik, menciptakan pemimpin bangsa di masa depan yang mampu bersaing dan tak takut dengan globalisasi, ” terang Nenny. Berkebalikan dengan pekerjaannya selama puluhan tahun di dunia bisnis murni, pekerjaan terakhir yang menjadi pilihannya adalah bisnis sosial.

Next

Perempuan yang berjuang memberdayakan perempuan…

 “Pertama masuk ke PSF, saya fokus menangani pemberdayaan perempuan. setelah tiga bulan berjalan, bidang lainnya juga mulai saya pegang. Jadilah semua menjadi tanggung jawab saya. Mungkin karena saya sudah lama mengenal keluarga ini (Putera Sampoerna). Dari zaman Sampoerna belum dikenal, belum pernah pasang iklan, sampai saya terlibat di dalamnya. Dalam bekerja kan, harus ada chemistry. Itulah yang membuat saya tertarik bergabung. Selain karena tantangan baru, saya juga mengingat usia. Sudah waktunya saya memberikan sesuatu untuk negara. Tidak bisa memberi materi, ya saya akan membantu dalam bentuk pemikiran,” jelasnya kemudian. Nenny, lewat PSF, memberdayakan perempuan lewat pelatihan dan akses untuk keuangan, “Karena, ketika nantinya dia sudah memiliki keterampilan, dia pun perlu modal untuk merealisasikan keahliannya tersebut dalam bentuk wirausaha. Dan ketika sudah cukup produktif, para perempuan membutuhkan pasar untuk menjual produk mereka. Kami selalu memikirkan keberlanjutan dari sebuah program yang kami buat, sampai tuntas.”

Next

Antara hobi, karier, dan keluarga

Dari caranya bercerita penuh semangat, Ibu dua anak seakan tak pernah kehilangan alasan untuk berhenti berkarya. Usia yang terbilang matang pun tak dijadikan penghalang untuk tetap melanjutkan visinya di bidang sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Sampai ia merasa lelah dan tak mampu lagi, katanya. Bahkan, di sela kesibukannya, ia yang mengaku hobi berbagi pengalaman dan pengetahuan ilmu manajemen hingga periklanan ini terus menyempatkan diri mengisi bermacam program pelatihan. Kata Nenny sambil tersenyum, “Karena sudah tidak sempat mengajar di luar, namun saya harus terus melakukan hobi saya yang satu ini, saya rutin menjadwalkan in-house training yang berkaitan dengan presentasi, sales & marketing, communication di foundation, bebas untuk siapa pun yang mau belajar.”

Cerita suksesnya sangat menarik disimak, namun semua tak lepas dari perjuangan panjang, jatuh-bangun dari awal berkarier hingga mampu menjalin relasi luas seperti sekarang. Termasuk soal keluarga. Pekerjaannya membuat Nenny harus sering pulang larut malam, meninggalkan kedua anaknya. Namun, Nenny sangat bersyukur karena mereka mengerti kesibukan sang ibu. Terbukti, mereka bisa bersekolah di sekolah negeri terbaik, bahkan anak pertamanya kini tengah menyelesaikan pendidikan S2 di Inggris. “Semua tentang manajemen waktu. Sejak mereka masih kecil saya sudah sering bilang hari Senin sampai Jumat saya bekerja. Barulah Sabtu saya menjadi milik mereka. Tapi, komunikasi dan interaksi terus berjalan. Kalau bisa begitu, tidak akan ada kesulitan, kok,” papar Nenny menceritakan kedekatannya dengan anak-anak.

Penasaran dengan kisah lengkap Nenny Soemawinata? Dalam rangka merayakan hari jadi yang kedua, FIMELA.com akan menggelar serangkaian acara FimelaFest yang penuh dengan hiburan sekaligus ilmu dan pesan inspiratif yang memotivasi para perempuan Indonesia untuk kian maju. Atas impian besar itulah kami menggelar Indonesia Wor(l)ds of Women 2012 (IWOW). IWOW merupakan seminar satu hari yang menghadirkan beberapa pembicara perempuan dari beragam bidang dan latar belakang untuk berbagi kisah perjalanan mereka meniti karier dan mewujudkan impian sesuai dengan passion masing-masing. Daftarkan dirimu di sini dan datang ke Pullman Hotel, Central Park Mall, Jakarta, 9 November 2012.

What's On Fimela
Loading