Sukses

Fashion

Diary Fimela: Bisnis Sajadah Travel Membuka Pintu Rezeki Anggia dan Suami, Intip Pencapaiannya

ringkasan

  • Berawal dari hobi traveling dan kesulitan dalam membawa dan mencari sajadah, pasangan Paramukti dan Anggia Pino membuat bisnis sajadah travel praktis
  • Bermodalkan Rp1,2 juta bisnis sajadahnya pun mulai dibuat.

Fimela.com, Jakarta Berawal dari hobi traveling dan kesulitan dalam membawa dan mencari sajadah, pasangan Paramukti dan Anggia Pino mengawali bisnisnya menciptakan sajadah pocketable atau sajadah lipat. 

Dari beberapa pengalaman bisnis Anggia, kemudian menikah, di tahun 2018 terciptlah ide untuk membuat sajadah lipat yang diberi nama Gumun, dari bahasa Jawa yang artinya terpukau. 

“Lulus kuliah langsung kerja di agensi dan media karena aku jurusan periklanan. Namun setelah beberapa tahun, aku sadar bukan orang yang suka diatur. Akhirnya penasaran ikut kelas bisnis, terus tertarik bikin usaha sendiri. Awalnya aku usaha kuliner, jasa dekor, dan yang akhirnya bertahan agensi design sampai berkesempatan ngisi kelas di UKM tentang kemasan yang bagus,” papar Anggia ketika dihubungi Fimela. 

Anggia menceritakan, sejak lama memang bermimpi memiliki brand sendiri. Bermodalkan Rp1,2 juta memimpi tersebut pun terwujud.

“Di tahun 2018 kami berdua masih pengantin baru, kebetulan suami kantor di Yogya harus tutup, karena tidak mau LDR kita putusin bisnis berdua, dengan modal hanya Rp1 jutaan karena uang juga sudah habis untuk biaya menikah,” paparnya.

Dari modal tersebut, Anggia pun memanfaatkannya dengan riset, membeli kain, dan jahit hingga pemasaran. Dari tekat dan kerja keras mereka berdua bisnisnya menjadi pioner dalam menciptakan sajadah yang tidak hanya praktis dibawa kemana-mana, namun juga memiliki kelebihan water resistant, dan odorless yang mudah dibersihkan.

“Waktu itu Ramadan, pas sholat subuh terpikir bikin sajadah travel. Karena pas travel biasanya kan berat bawa sajadah, trus akhirnya selimut hotel untuk alas sholat. Ada sajadah travel tapi kecil dan licin bikin ngga nyaman,” tambahnya.

Pioner Sajadah Lipat 

Anggia mengklaim jika Gumun merupakan pioner sajadah travel yang nyaman. Ia mengatakan pada tahun 2018, hanya satu-satunya di Indonesia bisnis yang bermain di sajadah travel.

“Kita pertama bikin sajadah travel dengan kualitas yang baik namun harga masih terjangkau. Ada di Jepang, harganya mahal banget. Spesifikasi sajadah ini sesuai kebutuhan muslim aktif di Indonesia,” paparnya. 

Berjalanya waktu, kompetitor mulai bermunculan. Ntah mantan karyawan atau teman yang memiliki bisnis yang sama.  “Bangga juga bisa menginspirasi banyak orang,” paparnya. 

Dari modal terbilang tidak banyak, bisnis pun maju pesat. Jika awalnya, hanya berdua suami menjalankan bisnis, kini sudah ada 15 orang yang membantu. Bahkan, tahun 2020 di tengah pandemi ini bisnisnya justru naik 500 persen.

“Pencapaian step by step, karena sesuai misi berkembang untuk lebih baik,” paparnya.

Bahkan, Gumun bukan hanya tersebar di Indonesia, melainkan sudah ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapore, Brunei Darusalam, Dubai, Kuwait, Australia Selatan, dan ingin menjajaki Swedia.

“Kita punya distributor influencer Malaysia, sudah berjalan dua tahun. Ia terkesan saat pertama kali karena kualitas dan harganya yang cukup terjangkau,” ungkap Anggia. 

Anggia mengatakan jika Gumun sudah tidak masuk zona UMKM lagi karena omzetnya lebih dari 2,5M setahun.

Tak Hanya Sajadah

Setelah berhasil dengan sajadah travelnya, Gumun pun melebarkan sayap dengan berbagai inovasi produknya, seperti hijab instan Hijab Go!, parfum sajadah hingga kaos kaki. 

“Kami berinovasi untuk menunjang muslim aktif. Hijab Go ini nyaman, mengikuti bentuk wajah. Jadi wajah bulat tetap bagus pake hijab instan. Ada reguler, medium dan long. Serta parfume dan kaos kaki anti bakterial” ujarnya.

Anggia mengatakan, tahun ini akan meluncurkan produk fashion  sustainable yang bisa digunakan untuk beberapa model dalam satu pakaian. Ia juga berpesan jika ingin berbisnis, sebaiknya tidak hanya modal nekat saja. Melainkan harus terarah, punya ilmu produksi, dan mencari patner dengan satu tujuan yang sama.

“Sebelum bisnis kita harus tau bagaimana diri sendiri, harus suka sama bisnis karena berani ambil risiko. Sebelum di Gumun ini saya pernah bisnis gagal sampe rugi miliaran. Usaha itu harus bener-bener cari patner yang pas tujuannya sama, kalau ngga dapet mending sendiri. Rajin ikut kelas bisnis, seminar, pencapaian aku sekarang buah dari usaha,” tutupnya. 

#elevate women

;
Loading