Sukses

Fashion

Terbuat dari Serbet Bekas, Desainer Ini Ciptakan Baju Stylish.

Fimela.com, Jakarta Selina Sanders, seorang desainer berbasis di California, Amerika Serikat, memanfaatkan serbet bekas untuk dijadikan produk yang berkelanjutan yakni baju atasan. Lini busana daur ulang milik Sanders dimulai ketika ia menemukan tagar dari seorang influencer, Beth Jones, yang mendorong orang-orang berdandan hanya untuk diri mereka sendiri. 

Melalui tagar #alwaysplaydressup, Sanders melihat sekelompok orang yang tidak hanya mengunggah busana menawan, tapi juga menciptakan sesuatu untuk mereka sendiri. Terinspirasi, ia pun membuat kemeja pertamanya dari serbet bekas.

"Saya punya seikat serbet bermotif bunga, jadi saya mengambil satu dengan motif bunga indah di atasnya, dan memasangkannya dengan selimut vintage dari tahun 90-an," kata Sanders, kepada Vogue. Setelah Jones mengunggah ulang kreasi Sanders, tak sedikit orang langsung jatuh hati pada karyanya.

Setahun kemudian, sang desainer mengkhususkan diri mengubah serbet, selimut, dan taplak meja jadi atasan beraksen balloon sleeve, kemeja berkancing, dan gaun bergaya vintage. Karya-karyanya pun laris manis, bahkan sempat dibeli secara cepat oleh salah satu dari 43 ribu pengikut Instagram-nya.

Mengetahui sisi gelap industri fast fashion

Perempuan kelahiran Laoag, Filiphina ini sebenarnya tidak asing lagi dengan membuat sesuatu dari bahan bekas. Ibunya merupakan seorang desainer ternama di era 1970-an. Semasa kecilnya, ia dan ibunya selalu membuat sesuatu dari kain yang tidak biasa. "Ketika kakek nenek saya kembali ke rumah, sering kali semua tirai dan seprai mereka hilang," ucapnya.

Sanders juga telah bekerja di industri fashion selama 15 tahun, termasuk di St. John, BCBG, dan Target. Selama itu, Sanders menyadari sisi gelap dari industri fast fashion yang merusak lingkungan. 

“Inilah mengapa saya hanya menggunakan bahan bekas dan bahan vintage untuk membuat pakaian,” kata Sanders.

 

Hanya tersedia satu potong untuk satu model

Semua produk yang dibuat Sanders hanya tersedia satu potong untuk satu model. Dengan estetika unik dan bahan nonkonvensional, kreasinya tentu layak mendapat tempat di lemari pakaian fashionista. 

Untuk sesuatu yang benar-benar unik, klien juga dapat mengiriminya tekstil bekas milik mereka, dan ia akan menggabungkannya dengan stok kain vintage miliknya. "Saya seorang kolektor tekstil vintage, terutama apapun yang digerakkan oleh printed atau selimut,” kata Sanders tentang stoknya.

Meski menggunakan semua jenis tekstil, dari seprai, bantal, hingga taplak meja, serbet telah menjadi bahan yang paling banyak diminta sejauh ini. "Serbet yang saya gunakan awalnya dijadikan dekorasi tambahan saat menyajikan teh, tapi di Amerika, itu lebih sering jadi suvenir." kata Sanders. 

Dengan mempertimbangkan keberlanjutan, Sanders berharap dapat menginspirasi pengikutnya untuk menjadi konsumen yang sadar. Dia bertujuan untuk mendorong bisnis lokal dan kecil, serta berinvestasi dalam pakaian yang tak lekang oleh waktu dan sejenisnya.

 Penulis: Hilda Irach

#Elevate Women

Loading
Artikel Selanjutnya
Terpapar Covid, Desainer Alber Albaz Meninggal Dunia
Artikel Selanjutnya
Mantan Direktur Kreatif Lanvin, Alber Albaz Meninggal Dunia di Usia 59 Tahun