Sukses

Fashion

Tas Ratusan Juta, Investasi dalam Bentuk Cantik?

Weekend kemarin saya menemani seorang teman yang menurut pengakuannya sedang punya uang lebih. Uang lebihnya itu otomatis dialokasikan untuk beli tas. Tas branded pastinya. Saya pun kebagian mengantarkan ke beberapa butik kecil di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, yang memang terkenal menjual tas branded second atau baru. Second di sini artinya bekas pakai, keadaan layak pakai/jual, kadang masih mulus nyaris tanpa cela seperti baru. Bahasa eBay-nya mint condition or like new (we’ll talk some more about eBay, later).

hermes kelly

Di toko pertama, pilihannya bisa dibilang banyak dan beragam, dari Louis Vuitton sampai Hermès, kisaran harga dari 1 juta (flats Marc Jacobs) sampai ratusan juta (Hermès Birkin). Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Pertama dalam bentuk tas Chanel Maxi warna hitam, yang dijual dengan harga 15 juta lebih murah dibanding di toko. And it's new. Kedua, seorang sosialita pemegang kedudukan tinggi (direktur) tertangkap melihat-lihat sebuah tas (second) Bottega Venetta. Dan menurut si penjaga butik, Ibu M cukup sering menitipkan beberapa tas untuk dijual dan juga beli. Dipikir-pikir, saya yakin dia mampu untuk beli versi barunya. Tapi sepertinya, nggak ada batasan gengsi dalam cara kepemilikan tas branded. Baru atau bekas dianggap sah-sah saja, asalkan sudah jatuh hati. Dan didukung dengan fakta, butik-butik sejenis cukup mudah ditemui di mana-mana. Istilah ekonominya, supply and demand. Sejenak tawar-menawar, teman saya sah menjadi pemilik tas LV dengan kondisi mint. Harga? Sekitar 7 juta, so much cheaper than buying new. Di butik ketiga, jantung saya seperti berhenti berdetak, napas tertahan. Dan saya pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Hermès Kelly Rouge Garance a.k.a. merah darah. Simple, mulus, seperti baru. Harganya? 125 juta. *sigh

Harga ratusan juta untuk tas, apalagi untuk brand yang menjunjung tinggi craftsmanship seperti Hermès memang sudah nggak menjadi bahasan atau pertanyaan. Pertanyaannya justru, kenapa untuk sebuah tas, orang (perempuan) rela untuk merogoh kantung dalam-dalam? Saking dalamnya, bisa untuk membeli sebuah mobil standar keluaran Jepang, yang sekarang merajai jalanan saking banyaknya. Ditanya lebih baik beli tas atau mobil, beberapa fashionista termasuk saya (walaupun saya bukan fashionista), mengaku lebih pilih beli tas. Dengan alasan, tas bisa dipakai, dipandang, dipeluk, nggak seperti mobil yang perlu maintenance, dibelikan bensin dan bayar uang parkir. Jawaban yang lebih mengada-ada (menurut para lelaki) tas mahal dianggap sebagai salah satu investasi. Saya sih, penganut paham tas mahal adalah bentuk investasi. Soalnya sedikit banyak sudah terbukti. Kalau bosan atau butuh uang, tinggal jual saja. Lagi-lagi eBay masih jadi andalan, selain lewat teman-teman.

Tas mahal, selain jadi jaminan pendongkrak gengsi, juga dianggap sebagai pilihan pembelian yang pintar. Kenapa? Karena buatannya dijamin bagus, kuat, tahan lama. Siapa yang pengen punya barang yang gampang rusak, ya nggak? Selain itu, modelnya yang nggak usah dipertanyakan lagi, pasti cantik memesona. Soal pasaran atau banyak yang pakai, mungkin nggak usah dibahas, asal cocok dengan penampilan dan suka serta punya uang, sampai di situ saja pertimbangannya. Satu hal lagi, bisa dibilang, branded bags cukup long lasting dalam hal tren. Jarang yang bilang, satu jenis tas branded ketinggalan jaman, apalagi sekelas Hermès. So it’s like a lifetime investment. Yes?

Saya bukan tipe feminin yang menyandang tas di lekuk lengan, tapi saya jatuh cinta dengan model Kelly, sama seperti cerita Garance Dore dan Kelly-nya. Tas seperti Hermès untuk perempuan sama seperti mobil mewah buat laki-laki. Nggak cuma sekedar status tapi it’s a treat. It’s a success symbol. Oh, saya memang belum menyandang status sebagai pemilik si cantik Hermès Kelly Garance. But I know, someday I will. But, sssh, maybe we should not tell my partner. Cheers!

 

image via: Garance Dore

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading