Sukses

Fashion

Diary Fimela: Mengenal Konsep Keberlanjutan dan Slow Fashion yang Sesungguhnya dari Brand Lokal Sukkha Citta

Fimela.com, Jakarta Mungkin kamu juga semakin sering mendengar tentang konsep keberlanjutan yang sekarang sedang marak diterapkan pada industri fashion lokal. Namun, pahamkah kamu tentang apa itu keberlanjutan dan bagaimana brand menerapkan konsep ini pada produk-produk mereka?

Tim FIMELA berkenalan dengan salah satu brand fashion lokal Sukkha Citta untuk Diary Fimela kali ini. Kami berbincang dengan Anastasia A. Setiobudi selaku Head of Creative & COO Sukkha Citta tentang konsep keberlanjutan dan slow fashion yang diterapkan pada brand mereka.

Sukkha Citta didirikan pada tahun 2016 ketika Founder dan CEOnya Denica Riadini-Flesch melihat kondisi nyata yang terjadi di desa-desa tempatnya melakukan survei saat bekerja di salah satu NGO internasional. Sampai di tahap frustasi, Denica menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama bekerja di sana, belum tepat sasaran.

"Denica sempat studi di Belanda dan saat pulang ke Indonesia, bekerja di NGO internasional. Nah, waktu itu Denica sering ke desa-desa untuk survei kondisi di sana dan melihat apa yang bisa dilakukan, tapi ternyata impactnya nggak langsung," cerita Anastasia mengawali tentang awal mula dibuatnya Sukkha Citta.

Dengan Sukkha Citta, Denica berharap bisa membuat impact langsung ke para perajin yang ada di desa-desa. Desa pertama yang diajak bekerjasama dengan Sukkha Citta adalah Desa Jlamprang, di Jawa Tengah dengan keterampilan mereka dalam hal pewarnaan indigo.

"Denica ini memang terkenal sebagai orang yang suka cari masalah. Jadi, kita di Sukkha Citta juga berangkat memang selalu ke tempat-tempat yang ada masalah, lalu kita cari jalan keluarnya."

Nama Sukkha Citta sendiri diambil dari Bahasa Sanskerta yang artinya harfiah, ingin semua yang terlibat di dalam brand ini, dari pembuat hingga pemakai produknya merasakan suka cita. Berangkat sebagai brand yang bergerak di bidang social bussiness, awal mulanya, Sukkha Citta menghadirkan produk-produk kerajinan tangan.

"Dari awal, konsentrasi Sukkha Citta itu sebenarnya adalah craft. Saat survei, Denica menemukan industri craft itu industri terbesar kedua yang paling banyak melibatkan perajin di dalamnya, terutama perempuan, tapi saat dilihat dari segi bisnis, industri ini juga yang paling banyak masalah."

 

 

Sukkha Citta

Seiring berjalannya waktu, Sukkha Citta merambah ke industri fashion dengan memperkenalkan standar #maderight. Standar #maderight di Sukkha Citta memiliki tiga makna, yaitu produk yang dihasilkan harus bisa menghidupi para perajinnya, harus bisa ikut membantu menjaga lingkungan, dan sebagai keberlanjutan dari kebudayaan Indonesia sendiri.

Konsep keberlanjutan di Sukkha Citta diterapkan mulai dari pemilihan bahan-bahan yang digunakan, dipastikan mendukung keberlanjutan itu sendiri. Pewarnaan menggunakan 100% natural dye, bahkan indigonya merupakan hasil dari penanaman sendiri.

"Kalau pewarnaan yang kita gunakan itu dari buah-buahan, kita tunggu buah-buahannya jatuh sendiri, tidak kita petik. Di tahun 2020, kita sudah mulai menanam kapas sendiri dengan perkebunan yang kita bikin seperti hutan kecil, di sekitarnya ditanam tanaman lainnya juga."

Tidak bisa dipungkiri bahwa sampai saat ini, tantangan terberat yang masih dihadapi oleh Sukkha Citta adalah mengedukasi para peminat dan pengguna brand mereka sendiri. Anastasia melihat bahwa sudah banyak orang yang mulai tertarik dengan konsep keberlanjutan dan slow fashion, tapi masih meraba-raba.

"Kalau dulu di awal, banyak yang bilang baju kita mahal. Tantangannya ya ngasih tahu orang kalau bikin baju itu memang seharusnya prosesnya panjang dan lama. Kalau ada yang murah dan cepat, itu berarti ada aspek lain yang mereka sesuaikan. Kita dulu berpikir bahwa pasar kita mungkin akan banyak dari luar negeri, tapi senang sekali, sekarang sudah banyak juga pembeli dari dalam negeri, biasanya mereka yang sudah paham."

Di Sukkha Citta, #maderight juga memastikan bahwa setiap produk yang dihadirkan bisa ikut menjamin kehidupan yang lebih baik bagi para perajinnya. Hingga saat ini, Sukkha Citta telah membina 7 desa yang tersebar di seluruh Indonesia dengan sekitar 340 ibu-ibu yang menjadi perajin dan total 1432 orang di dalamnya.

"Nah, karena kita ini bergerak di bidang social enterprise atau social bussiness, saat pandemi, kita nggak boleh berhenti, walaupun kena dampaknya juga, orang kan nggak ada yang beli baju, sedangkan kita punya misi sosial, jadi nggak boleh berhenti gitu aja, para perajin kita gimana dong?"

Ya, pandemi yang melanda Indonesia sepanjang tahun 2020 lalu menjadi momen paling tak terlupakan bagi Sukkha Citta. Diakui Anastasia bahwa melewati tahun 2020 bukan hal yang mudah bagi Sukkha Citta.

"The whole year, tapi kita semua berhasil ngelewatinnya. Itu sih, momen paling berat yang pernah kita lewatin selama ngejalanin Sukkha Citta."

Sukkha Citta

Sukkha Citta juga memiliki Rumah Sukkha Citta yang disebar di 4 desa binaan sebagai tempat memberi pelatihan bagi para ibu-ibu perajin sesuai dengan keterampilan setiap desa. Rumah Sukkha Citta juga dibangun berdasarkan masalah yang ditemukan oleh Denica.

"Salah satu masalah yang ditemuin Denica adalah banyaknya makelar, jadi kita bangun Rumah Sukkha Citta gunanya untuk memberikan pelatihan bagi para ibu-ibu perajin agar mereka bisa kasih nilai pada karya produksi mereka sendiri, nggak ditipu lagi."

Sejak 2016 sampai sekarang, Sukkha Citta telah melahirkan 9 koleksi yang masing-masing memiliki cerita tersendiri. Range harga produk-produk di Sukkha Citta adalah dari Rp1.050.000 hingga Rp5.250.000 untuk baju dan Rp185.000 hingga Rp950.000 untuk aksesori.

"Di Sukkha Citta, koleksinya akan selalu ada, karena setiap koleksi itu kita punya cerita masing-masing, jadi orang beli produk kita itu bukan cuma beli produk, tapi juga dapat cerita di baliknya."

Menariknya, saat membeli produk Sukkha Citta, 56% dari hasil penjualan akan langsung diberikan untuk membangun desa binaan, lewat Yayasan Rumah Sukkha Citta. Yayasan ini lebih berfokus untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi di desa binaan Sukkha Citta.

Di akhir tahun ini, Sukkha Citta akan memperkenalkan koleksi yang tak kalah menarik untuk dinantikan. Koleksi kapsul yang dihadirkan ini tetap dengan standar #maderight dan merupakan cerita dari perjalanan panjang brand Sukkha Citta dari awal hingga sekarang.

"Di koleksi kapsul nanti, kita berusaha nggak ada sampah yang dibuang, jadi produk yang akan kita rilis itu dari kain-kain sisa koleksi pertama sampai yang terbaru. Nanti di setiap pembelian, kita sertakan juga ada tag info tentang produk kita."

Terakhir, Anastasia bicara tentang bisnis yang dijalani di Sukkha Citta. Menurutnya, membangun dan mengembangkan bisnis sendiri harus dimulai dari menemukan angle yang unik, tidak asal ikut tren.

"Untuk bisnis sendiri, find your own story. Lalu, harus persistent dan konsisten, no matter how hard it is. Jangan pernah merasa cukup, harus mau untuk terus belajar. Kalau masalah modal, beruntung kalau punya modal besar, tapi yang utama adalah bagaimana manajemen pengaturannya agar bisnis tetap bisa berlanjut," jelas Anastasia di akhir wawancara.

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Berkonsep to Go yang Praktis, Kopi Konnichiwa Kenalkan Kopi ala Jepang yang Kekinian
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Brand Lokal Monaetic Fashion Garap Konsep Mewah Tapi Tetap Terjangkau