Sukses

Fashion

Merayakan Tradisi dan Kreativitas, Mauliate Hadirkan Pesona Baru Wastra Batak

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, akhir tahun selalu menjadi momen untuk kembali bersyukur. Dalam semangat itulah Mauliate, yang berarti “terima kasih” dalam bahasa Batak, hadir sebagai perayaan yang bukan hanya menutup tahun, tetapi juga merayakan warisan budaya, kreativitas, dan nilai keberlanjutan yang terus tumbuh dari tanah Toba.

Acara ini menghadirkan dua pilar besar yang memberi warna pada lanskap budaya dan industri kreatif Tanah Air: PT Toba Pengembang Sejahtra, yang menaruh perhatian pada pembangunan berkelanjutan, serta Tobatenun, sebuah social enterprise yang selama bertahun-tahun menjaga denyut tenun Batak agar tetap relevan di panggung mode kontemporer.

Sopo Del: Superblok dengan Napas Budaya Batak di Tengah Mega Kuningan

Sebagai anak perusahaan dari PT Toba Sejahtra, PT Toba Pengembang Sejahtra telah konsisten menghadirkan hunian dan ruang komersial yang mengutamakan kualitas dan kenyamanan. Salah satu karya perdananya adalah Sopo Del Office Towers + Lifestyle Center, superblok modern yang berlokasi di kawasan strategis Mega Kuningan.

Menariknya, gedung ikonik ini tidak hanya mengutamakan fungsi, tetapi juga mengangkat warisan budaya dari kampung halaman. Fasadnya terinspirasi dari Ulos Tumtuman, Tenun Batak Toba yang khas dengan teknik jungkit atau songket, mewujudkan perpaduan antara arsitektur urban dan identitas Nusantara dalam satu tarikan napas.

 

 

Tobatenun: Melestarikan Tenun Batak Lewat Pemberdayaan Perempuan

Didirikan pada 2018, Tobatenun membawa misi yang jauh lebih besar dari sekadar memproduksi kain. Dikelola oleh Kerri Na Basaria Pandjaitan dan Melvi Tampubolon, Tobatenun adalah rumah bagi lebih dari 300 artisan perempuandari berbagai daerah di Sumatra Utara, mulai dari Medan, Simalungun, Samosir, hingga Humbang Hasundutan.

Melalui kerja sama dengan Jabu Bonang dan Jabu Borna, Tobatenun membangun ekosistem tenun yang berkelanjutan seperti Jabu Bonang menjadi ruang pembinaan perajin, mulai dari pelatihan teknis, literasi keuangan, hingga program kesehatan. Sementara itu, Jabu Borna fokus pada pengembangan pewarnaan alami berbasis botani Danau Toba seperti salaon, kayu jabi-jabi, hingga buah itom. Warna yang dihasilkan pun mengikuti standar internasional seperti Pantone. Pendekatan ini memastikan bahwa wastra tradisional tidak sekadar lestari, tetapi memberikan kesejahteraan yang nyata bagi para perajinnya.

Ulos Sadum dan Tumtuman: Tenun yang Penuh Cerita

Dalam acara Mauliate, dua jenis tenun Batak mendapatkan sorotan khusus: Ulos Sadum dan Ulos Tumtuman. Ulos Sadum dikenal sebagai kain suka cita yang digunakan dalam prosesi adat, termasuk saat mangulosi parboru. Warnanya cerah, penuh harapan.Ulos Tumtuman, berasal dari kata tumtum yang berarti “mengikat”, dahulu digunakan sebagai ikat kepala kaum pria dan menyimpan nilai simbolik kuat dalam tradisi Batak.

Keduanya dibuat dengan teknik jungkit, yang menambahkan pakan ekstra untuk menghasilkan motif timbul. Kini kedua wastra ini hadir dengan inovasi, mulai dari warna-warna lembut hasil pewarna alami hingga penambahan payet yang menjadi ciri khas kreasi Tobatenun.

 

 

 

 

Kolaborasi Mode: Ketika Tradisi Bertemu Estetika Kontemporer

Sahabat Fimela, inti dari perayaan Mauliate adalah bagaimana wastra Batak diterjemahkan ulang ke dalam narasi mode yang lebih modern dan progresif. Tahun ini, beberapa desainer dan label lokal turut mempersembahkan karya eksklusifnya:

1. Rinda Salmun

Mengangkat tema Tao (danau), koleksi ini terinspirasi dari lanskap Danau Toba yaitu air, bebatuan, hingga pegunungan di sekitarnya. Menggunakan material deadstock dan upcycled, Rinda menghadirkan mode yang bukan hanya indah, tetapi juga ramah lingkungan.

2. KANTITA

Melalui koleksi Sora Toba, KANTITA menafsirkan kembali motif Ulos Mangiring, Ulos Sigaragara Heteran, hingga motif rumah tradisional Karo menjadi busana ready-to-wear yang modern dan dekonstruktif.

3. LUNGSIN

Aulia Rusdi memperkenalkan koleksi tas dan aksesori yang memadukan penenunan kontemporer dengan detail ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Motif habut dan detail bicolor membuat koleksinya berkilau seperti permata.

4. Maison Obscura

Label besutan Nur Fatimah ini menghadirkan keanggunan maskulin dengan teknik tailoring presisi, dipadukan bersama kain Tenun Jungkit dari Jabu Bonang, sebuah dialog indah antara klasik dan modern.

5. Studio Jeje

Dikenal dengan detail payet dan bordir tangan, Studio Jeje menampilkan karya yang merayakan keanggunan dan keunikan wastra Batak, dari tradisional hingga kreasi eksploratif yang penuh karakter.

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading