Sukses

FimelaHood

Komunitas Perempuan Pelestari Budaya: Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?

Fimela.com, Jakarta Beberapa waktu lalu atau tepatnya 2 Oktober 2018 masyarakat Indonesia merayakan Hari Batik Nasional. Hari tersebut diadakan untuk memperingati batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces ot the Oral and Intangible Heritage Humanity) oleh UNESCO. Dan tentunya bukan hanya batik saja yang harus dijaga karena Indonesia memiliki beragam budaya yang harus dilestarikan.

Menjaga serta melestarikan budaya tradisional dan nilai luhur bangsa Indonesia itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa perempuan-perempuan ini akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas yang bernama Komunitas Perempuan Pelestari Budaya. Selain itu, juga ada beberapa alasan lainnya seperti yang diutarakan oleh Pendiri Komunitas Perempuan Pelestari Budaya Diah Kusumawardhani Wijayanti saat berkunjung ke redaksi Fimela.com beberapa waktu lalu.

“Aku sama dua sahabatku, Dewi dan Susan merasa sedih banget lantaran budaya dan tradisi Indonesia makin lama makin terkikis. Coba kita bayaknya, anak dan cucu kita nanti nggak mengenal kebudayaannya. Ya, dari situlah semua dimulai,” jelas perempuan yang juga dikenal sebagai founder yayasan tari dan musik gratis, Yayasan Belantara Budaya Indonesia (BBI) itu.

Perempuan yang merupakan ibu dua orang anak tersebut juga menyadari bahwa ia sendiri harus memulai sebuah gerakan supaya apa yang ditakutkan olehnya dan juga teman-temannya tersebut tidak menjadi kenyataan. “Kami ingin memberikan pemahaman bagaimana si Indonesia itu. Satu Indonesia itu sangat beragam. Kita mulai dari kita dulu deh, mencintai kayak kebaya, pakai kain yang batiknya tuh benar-benar batik tulis, batik asli,” ungkap Diah.

Sejak dibentuk pada 2017, hingga kini anggota Komunitas Perempuan Pelestari Budaya sudah memiliki 30 anggota, yakni perempuan Indonesia yang berasal dari beragam profesi, suku bangsa dan agama. “Kami berharap adanya komunitas ini bisa menjadi motor bagi usaha pelestari budaya tradisional Indonesia. Tentunya kami juga sangat berharap budaya tradisional kembali menjadi identitas bangsa Indonesia, yang menunjukkan kebhinekaan,” ungkap Diah.

Beranggotakan perempuan dengan visi yang sama

Saat berkunjung ke redaksi Fimela.com, Diah tak sendirian, ia membawa serta beberapa anggota Komunitas Perempuan Pelestari Budaya. Sesuai dengan namaanya, Diah dan teman-temannya kali ini menunjukan kecintaannya terhadap budaya Indonesia dengan mengenakan kain batik serta atasan serba hitam.

Diah dan teman-temannya terlihat sangat kompak dan tak berhenti menebar senyum. “Ya, beginilah, kan harus diawali dari kita dulu. Jadi kalau kumpul terkadang kita seragaman. Seenggaknya pakailah produk lokal,” terang Diah saat ditanya soal kekompakannya dalam berbusana dengan para anggota Komunitas Perempuan Pelestari Budaya.

Sudah satu tahun berjalan, mengapa Komunitas Perempuan Pelestari Budaya hanya beranggotakan 30 orang, kira-kira itulah pertanyaan yang langsung terlintas dan ternyata mendapatkan jawaban yang cukup unik dari Diah. “Memang nggak gampang masuk ke komunitas ini. Bukannya sok eksklusif,” jelas Diah sambil tertawa.

Ternyata sebelum meluluskan seseorang menjadi anggota Komunitas Perempuan Pelestari Budaya, Diah dan anggota komite akan lebih dulu melakukan seleksi, terutama dengan melihat sosial media si calon anggota. “Kita nggak mau teman-teman kita yang bergabung nantinya ng-share di media sosial sesuatu yang beda pemikirannya dengan kita, ng-share sesuatu yang provokatif, tidak baik, hoax. Siapa dia kan sekarang tergambarkan di media sosialnya,” pungkas Diah.

;
Loading