Sukses

FimelaHood

Indonesia Sneaker Team, Koleksi Alas Kaki dengan Passion

Fimela.com, Jakarta Alas kaki merupakan salah satu bagian dari kebutuhan pokok manusia. Dari sekian banyak alas kaki, sepatu adalah salah satunya. Kendati berada di bagian paling bawah tubuh ini, tapi sepatu menjadi salah satu item yang mendapat sorotan, terutama di dunia fashion. Jadi, tidak heran jika banyak orang yang menggandrungi sepatu tidak hanya sebagai alas kaki, tapi juga untuk dikoleksi.

Seperti yang dilakukan oleh orang-orang di Indonesia Sneaker Team (IST) berikut ini, misalnya. Berawal dari forum di Kaskus, IST menjadi salah satu tempat yang mewadahi para pecinta sepatu jenis sneakers dari berbagai brand. Pandu Raditya Birmawan, salah satu inisiator IST menceritkan terbentuknya komunitas yang ia garap.

"Berawal dari komunitas di Kaskus namanya Sneakers Addict, gua juga ikutnya nggak dari awal, sampai di 2011, 20 orang dari forum itu kumpul terus memutuskan untuk bikin logo, bikin komunitas, lalu untuk bikin komunitas ini hidup dengan cara kumpul itu start-nya 2011, lupa di bulan apa," kenang pria yang akrab disapa Polo saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.  

Pandu berharap, dengan adanya IST, ia dan inisiator lainnya bisa mengedukasi para anggota. Mulai dari produk asli hingga membedakan keaslian sneakers yang dibeli dari berbagai cara. "Kami mau educate sepatu asli, nggak mungkin kan sebuah komunitas, sorry to say, pedagang sepatu palsu di pasar malam juga bisa masuk, appreciate-nya, sih," ujar Pandu.

Hal itu pula yang menjadi salah satu syarat tak tertulis IST bagi anggotanya. "Karena kami bawa nama Indonesia, jadi siapa pun bebas mau bisa masuk, syaratnya pakai sepatu asli, yang kedua bisa sosialisasi, ya kalau lo datang tapi diam doang di pojokan ya ngapain kumpul, kami pun merangkul, tapi kan capek ya merangkul terus, toh ini bukan playgroup, sudah sama-sama dewasa, kami sangat terbuka jika ada anggota yang mau bantu di internal," jelas pria kelahiran Jakarta ini.

Sebagai komunitas, anggota IST tidak hanya sebagai tempat untuk berbagi informasi soal sneakers. Di sana, para anggota juga melakukan transaksi jual beli sepatu. "Jual beli pasti, banyak tuh sepatu satu lobang ramai-ramai hahaha, dari yang ngumpul ngomongin sepatu, sampai sudah kenal keluarga masing-masing karena sering ajak keluarga, intinya sih ngumpul, jual beli, bikin event, sama ikutan event, entah kerja sama as media partner, isi booth, legit checker," kata bapak satu anak ini.

2 dari 2 halaman

xo

Salah satu kegiatan sharing yang telah berjalan di IST adalah Sunday Trade. Di sana, para anggota membuka forum kecil dan lapak berjualan antar anggota. "Di hari Minggu itu kami mengadakan ngobrol-ngobrol santai, bukan sekadar jualan, anggota yang datang boleh bawa sepatunya maksimal lima pasang untuk dijual, tapi yang utama adalah trade-nya itu ke knowledge, kayak misalnya anggota ada yang punya usaha reparasi sepatu, ya sharing deh tuh," imbuh pria kelahiran 3 Januari 1988 ini.

Menurut Pandu, anggota yang masuk ke IST ada dua jenis, yakni orang yang sudah jadi kolektor dan yang bukan. "Ada dua tipe, ada yang baru menemui wadahnya, seperti kolektor, misalnya, ada juga yang baru punya satu dua, ya akhirnya diracuninnya di kami, nanti pas kumpul lagi koleksinya nambah dan terarah seleranya," jelas pria yang mulai koleksi sejak duduk di bangku kuliah ini.

Rupanya, kendati telah mengoleksi sekitar 30 pasang sneakers, hobi Pandu mengumpulkan sepatu hingga menjadi inisiator komunitas pecinta sepatu seperti sekarang, tidak pernah mendapat dukungan dari orang-orang terdekatnya. "Nyokap, bokap, pacar yang sekarang sudah jadi istri nggak ada yang pernah support, tanggapannya, sih, palingan 'ngapain, sih, banyak banyak' atau disuruh jual," katanya.

Pun teman-teman di IST menurutnya tidak mendukung sepenuhnya. Bagi Pandu, teman-teman di komunitasnya malah menjadi rem di saat hasrat membeli sepatu Pandu sedang memuncak. "Alhamdulillah dapat teman-teman di komunitas yang mengingatkan prioritas, sudah sampai ke tahap itu pertemanan kami, mereka nggak lantas mendukung kecuali memang sepatu yang ingin dibeli benar-benar murah, kalau teman yang jual pun bayarnya bisa dicicil," ujar Pandu.

 

Sebab, menurut Pandu, orang-orang di IST adalah mereka yang mengoleksi sneakers dengan passion dan itulah yang membedakan IST dengan komunitas lain serupa.

"Kalau gue merasa IST itu terkumpul dari orang-orang yang passion, semua komunitas pasti passion ya, tapi gue bisa lihat, lah, masing-masing kayak bagaimana cintanya sama sepatu, banyak yang sudah nggak aktif karena masalah prioritas, bukan karena nggak cinta lagi sama sepatu, jadi kami mengoleksi bukan dari kalangan tajir terus pada kumpul tapi dari passion," ungkap Pandu.

Hal serupa pun diamini oleh Kevin, salah satu anggota IST yang bergabung sejak 2014 lalu. Menurutnya, mengoleksi sneakers "Gue koleksi karena passion dong, kalau nggak ada passion nggak dapet feel-nya, nggak semua yang lagi happening gue beli, ada daftarnya," jelas Kevin di kesempatan terpisah.

Bergabung di IST membuat dirinya mendapat banyak, tak hanya soal jaringan pertemanan yang meluas dan pengetahuan sneakers, tapi juga bagaimana tren fashion yang sedang in saat ini.

"Alasan gue gabung ke IST selain nambah pertemanan ya karena gue pengin dapet ilmu tentang brand-brand sneakers yang ada, gue juga dapat ilmu banyak banget dari sana. Seperti berita berita sepatu yang akan realese terus kenal bahan bahan apa aja yang ada di sepatu itu. Selain itu gue juga bisa belajar bagaimana menyelaraskan cara berpakaian gue karena dari sana juga gue tahu style anak zaman sekarang kayak gimana," kata pria yang memiliki 20 pasang sepatu ini.

Punya kegemaran mengoleksi sepatu? Tertarik untuk gabung dengan Indonesia Sneaker Team? Follow Instagram mereka @indosneakerteam_ untuk mengetahui info ter-update sneakers dan kegiatan mereka.

Artikel Selanjutnya
Komunitas Jalan Pendaki: Hobi yang Melelahkan, tapi Bikin Ketagihan
Artikel Selanjutnya
Pencinta Harmonika, dari Forum ke Tempat Umum
: