Sukses

FimelaMom

Cara Mudah Membantu Anak Konsentrasi saat Belajar di Rumah

Fimela.com, Jakarta Pernahkah kamu mendapati anak sudah duduk di meja belajar, tapi pikirannya ke mana-mana? Kadang ada suara TV atau notifikasi ponsel yang berbunyi tanpa henti. Wajar saja, rumah memang identik dengan tempat bermain dan bersantai, sehingga membuat fokus belajar anak bisa jadi tantangan tersendiri. Banyak orang tua merasa kewalahan karena harus berulang kali mengingatkan. Namun, ada cara sederhana yang bisa membantu anak lebih konsentrasi meski belajar di rumah.

Melansir laman ielc.co.id cobalah membuat rutinitas belajar yang konsisten. Tentukan waktu khusus setiap harinya agar anak terbiasa beralih ke mode “belajar” tanpa harus diingatkan berkali-kali. Misalnya, setelah makan malam dijadikan waktu tetap untuk mengerjakan PR. Sertakan juga jadwal tidur yang teratur, karena anak yang cukup istirahat lebih mudah berkonsentrasi dan jarang rewel saat belajar. Jangan lupa sisipkan waktu istirahat singkat agar mereka tidak cepat lelah. 

Kedua, siapkan ruang belajar yang nyaman dan bebas distraksi. Hindari menempatkan anak belajar di depan TV atau dekat area lalu lalang orang, karena itu bisa membuat fokus cepat buyar. Simpan juga perlengkapan belajar seperti buku, alat tulis, atau laptop di tempat yang mudah dijangkau, supaya anak tidak sering teralihkan hanya karena mencari barang. Ruang belajar yang rapi juga membantu pikiran anak lebih terorganisir.

Ketiga, batasi distraksi dari gadget dan hiburan lain. Jika tidak benar-benar dibutuhkan, sebaiknya ponsel atau tablet disimpan dulu selama anak belajar. Orang tua bisa memberi contoh dengan melakukan hal yang sama, misalnya ikut menyingkirkan ponsel saat menemani anak belajar. 

Ajarkan anak menetapkan tujuan, mengatur waktu, dan menemukan gaya belajar

Keempat, bantu anak menetapkan tujuan belajar yang jelas. Misalnya, menyelesaikan dua halaman latihan matematika atau membaca satu bab buku sebelum beristirahat. Dengan target kecil yang terukur, anak akan merasa lebih termotivasi, apalagi jika setiap pencapaiannya diapresiasi. 

Kelima, ajarkan anak mengatur waktu dengan baik. Orang tua bisa memperkenalkan kalender belajar atau planner sederhana. Dari situ, anak bisa melihat kapan ada ujian atau tugas yang harus dikumpulkan, lalu menyusun langkah kecil untuk menyelesaikannya tanpa terburu-buru di akhir. Contohnya, jika ada projek besar yang harus diselesaikan dalam sebulan, bantu mereka membagi pekerjaan ke dalam bagian kecil yang bisa dikerjakan setiap minggu. Dengan begitu, anak tidak hanya belajar manajemen waktu, tetapi juga belajar bertanggung jawab pada jadwal yang sudah dibuat.

Keenam, kenalkan teknik belajar yang sesuai dengan gaya anak. Beberapa anak lebih mudah mengingat lewat catatan ringkas, ada yang terbantu dengan gambar atau mind map, ada juga yang suka memakai trik hafalan sederhana. Orang tua bisa membantu dengan mencoba berbagai metode hingga menemukan yang paling efektif. Misalnya, gunakan kartu kecil untuk menghafal kosa kata bahasa asing, atau membuat gambar sederhana untuk menjelaskan konsep sains. 

Peran orang tua dalam menumbuhkan fokus dan rasa percaya diri anak

Ketujuh, beri kesempatan anak belajar mandiri. Tahan keinginan untuk selalu ikut campur setiap kali mereka kesulitan. Biarkan mereka mencoba dulu mencari solusi, lalu dampingi jika memang diperlukan. Sikap ini akan melatih rasa percaya diri dan kemampuan problem solving mereka. Saat anak berhasil menyelesaikan masalah sendiri, hargai usaha tersebut agar mereka semakin percaya diri. 

Kedelapan, jangan lupakan pentingnya waktu istirahat. Terapkan metode belajar singkat seperti teknik pomodoro yaitu 25 menit belajar fokus, lalu 5 menit istirahat. Aktivitas singkat seperti peregangan, minum air putih, atau mendengarkan musik bisa membantu anak kembali segar sebelum melanjutkan pelajaran. Bahkan, ajak anak untuk sesekali keluar kamar dan menghirup udara segar agar pikirannya lebih rileks. Waktu istirahat ini bukan membuang-buang waktu, justru membantu otak bekerja lebih optimal saat kembali belajar.

Terakhir, selalu tunjukkan dukungan sebagai orang tua. Luangkan waktu untuk menanyakan bagaimana pengalaman belajarnya, apa yang terasa sulit, atau apa yang mereka sukai. Apresiasi usaha kecil mereka agar anak merasa dihargai, bahkan ketika hasilnya belum sempurna. Kehadiran orang tua sebagai pendukung utama akan memberi rasa aman dan nyaman, sehingga anak tidak melihat belajar sebagai beban. Dengan kombinasi rutinitas, lingkungan yang mendukung, serta perhatian dari orang tua, konsentrasi belajar anak di rumah bisa meningkat secara alami dan bertahan dalam jangka panjang.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading