Sukses

FimelaMom

5 Penyebab Anak Merasa Kesepian yang Jarang Disadari Orangtua

Fimela.com, Jakarta - Melihat anak duduk sendiri di sudut halaman sekolah atau jarang bercerita tentang teman-temannya sering kali membuat hati orangtua terasa tidak nyaman. Banyak orangtua berusaha menenangkan diri dengan berpikir, “Mungkin dia memang suka menyendiri,” atau “Nanti juga punya teman sendiri.” Padahal, kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang sangat berbeda. Anak boleh saja menikmati waktu sendiri, tetapi kesepian adalah pengalaman emosional yang menyakitkan dan tidak boleh diabaikan.

Mengutip laman imom.com, sebuah artikel di Forbes yang mengutip penelitian dari Institute of Psychiatry, Psychology & Neuroscience (IoPPN) di King’s College London mengingatkan bahwa kesepian pada masa kanak-kanak berkaitan erat dengan risiko depresi, kecemasan, dan rendahnya harga diri. Bahkan, menurut Dr. Timothy Matthews, peneliti utama studi tersebut, kesepian yang hanya berlangsung sementara pun dapat meninggalkan dampak jangka panjang dalam kehidupan seseorang. Artinya, perasaan sepi pada anak bukan fase remeh yang bisa dibiarkan begitu saja.

Sebagai orangtua, kita adalah orang pertama yang bisa membantu anak memahami, menghadapi, dan perlahan keluar dari rasa sepi itu. Sayangnya, ada beberapa penyebab anak merasa kesepian yang sering luput dari perhatian orangtua. Berikut lima di antaranya.

1. Kurangnya Ruang dan Waktu untuk Bersosialisasi

Banyak orangtua mengira anak sudah cukup bersosialisasi hanya dengan bersekolah. Padahal, realitas pendidikan saat ini sering kali menyisakan sedikit ruang bagi anak untuk benar-benar berinteraksi secara hangat. Jam istirahat yang semakin singkat, padatnya kurikulum, hingga berkurangnya kegiatan seni dan olahraga membuat anak lebih banyak duduk, belajar, dan mengejar target akademik.

Di sisi lain, kehadiran gawai juga diam-diam menggerus interaksi sosial. Saat ada waktu luang, anak-anak justru sibuk dengan layar masing-masing. Mereka tampak “sibuk”, tetapi sebenarnya terisolasi.

Orangtua dapat membantu dengan menyediakan kesempatan bersosialisasi di luar sekolah. Kegiatan setelah sekolah yang mendorong interaksi, seperti teater, pramuka, kelompok remaja, atau olahraga beregu, memberi anak ruang untuk berbincang, bekerja sama, dan merasa menjadi bagian dari kelompok. Di sinilah anak sering kali menemukan rasa diterima yang tidak selalu ia dapatkan di ruang kelas.

2. Punya Teman, tetapi Tidak Merasa Dekat dengan Siapa Pun

Tidak sedikit anak yang terlihat memiliki banyak teman, tetapi tetap merasa kesepian. Mereka mungkin tergabung dalam kelompok pertemanan, ikut bercanda, dan tertawa bersama, namun tidak memiliki satu pun teman yang benar-benar dekat secara emosional. Tidak ada sosok yang membuatnya merasa didengar, dipahami, dan diterima apa adanya.

Kesepian jenis ini sering kali tidak terdeteksi karena dari luar anak tampak baik-baik saja. Padahal, di dalam dirinya ada perasaan hampa dan sendirian.

Orangtua dapat membantu dengan mendorong interaksi yang lebih personal. Mengajak anak mengundang satu teman ke rumah, atau merencanakan aktivitas kecil bersama, seperti menonton film atau bermain bersama keluarga, bisa menjadi awal terbentuknya kedekatan emosional. Hubungan satu lawan satu memberi ruang bagi anak untuk membangun kepercayaan dan keintiman yang tidak selalu muncul dalam kelompok besar.

3. Kepercayaan Diri Anak yang Rendah

Harga diri atau kepercayaan diri dan kesepian sering kali saling terkait. Anak dengan kepercayaan diri rendah cenderung ragu mendekati orang lain karena takut ditolak atau merasa dirinya tidak cukup menarik. Sebaliknya, anak yang sudah merasa kesepian lama-kelamaan bisa kehilangan kepercayaan diri karena berpikir bahwa tidak ada yang ingin berteman dengannya. Ini menjadi lingkaran yang melelahkan secara emosional.

Di sinilah peran orangtua menjadi sangat penting. Anak perlu diingatkan bahwa dirinya berharga, terlepas dari seberapa banyak teman yang ia miliki. Orangtua dapat membantu anak mengenali kekuatan, bakat, dan pencapaiannya, sekecil apa pun itu.

Penelitian yang dimuat dalam Children and Youth Services Review juga menunjukkan bahwa kelompok anak atau remaja di komunitas, termasuk kelompok keagamaan atau sosial, dapat membantu meningkatkan perilaku sosial dan harga diri. Kelompok semacam ini sering memberi ruang interaksi yang lebih alami, tanpa tekanan akademik, sehingga anak merasa lebih bebas menjadi dirinya sendiri.

4. Minat Anak Berbeda dari Lingkungannya

Setiap anak unik, termasuk dalam hal minat. Namun, perbedaan minat ini kadang justru membuat anak merasa terasing. Anak yang tidak menyukai olahraga di lingkungan yang sangat sporty, atau anak yang tidak aktif di media sosial di tengah teman-temannya yang selalu online, bisa merasa “berbeda” dan tersisih.

Sayangnya, orangtua kadang tanpa sadar ikut mendorong anak untuk menyesuaikan diri secara berlebihan, alih-alih membantu anak menemukan lingkungan yang sesuai dengan dirinya.

Cobalah membantu anak mencari komunitas di luar sekolah yang sejalan dengan minatnya, baik itu seni, sains, literasi, teknologi, atau kegiatan kreatif lainnya. Saat anak bertemu dengan teman-teman yang memiliki ketertarikan serupa, rasa keterhubungan biasanya tumbuh dengan lebih alami. Bahkan, di era digital, beberapa anak menemukan teman yang sefrekuensi melalui komunitas daring yang positif dan terpantau dengan baik.

5. Perbedaan Tingkat Kematangan Emosional

Tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama, baik secara emosional maupun sosial. Anak yang tampak “lebih kekanak-kanakan” dibanding teman sebayanya sering kali merasa tertinggal dan tidak nyambung. Ia mungkin masih menyukai hal-hal yang dianggap “tidak keren” oleh lingkungannya, sehingga merasa tidak punya tempat.

Menurut penulis di Child Mind Institute, perbedaan tingkat kematangan ini adalah hal yang wajar. Banyak anak akan mengejar ketertinggalannya seiring waktu. Namun, selama proses itu berlangsung, anak bisa merasa bingung dan kesepian.

Yang paling dibutuhkan anak dalam fase ini adalah kesabaran dan penerimaan. Orangtua tidak perlu memaksa anak untuk cepat “dewasa” demi menyesuaikan diri. Sebaliknya, berikan kesempatan pada anak untuk berinteraksi dalam aktivitas yang sesuai usianya, sambil terus menegaskan bahwa ia dicintai apa adanya. Rasa aman di rumah akan menjadi fondasi kuat bagi kepercayaan dirinya di luar.

Kesepian pada anak sering kali tidak ditandai dengan tangisan atau keluhan yang jelas. Rasa kesepian bisa hadir dalam bentuk anak yang lebih pendiam, mudah marah, atau menarik diri. Di balik itu semua, ada kebutuhan besar untuk merasa terhubung dan dipahami.

Sebagai orangtua, kita mungkin tidak selalu bisa menghilangkan semua rasa sepi anak. Akan tetapi, kehadiran kita yang hangat, konsisten, dan penuh empati dapat membuat perbedaan besar.

Anak yang tahu bahwa orangtuanya selalu ada, mau mendengar, dan mau berusaha memahami, akan memiliki kekuatan emosional untuk melewati masa-masa sulitnya.

Ingatlah, sebagian besar fase sulit dalam hidup tidak berlangsung selamanya. Hanya saja, cara kita mendampingi anak di masa-masa itu akan membentuk cara ia memandang dirinya sendiri dan dunia, bukan hanya hari ini, tetapi juga di masa depan.

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading