Sukses

FimelaMom

Fakta Unik: Cuti Ayah Lebih Lama Tingkatkan Keberhasilan Menyusui

ringkasan

  • Cuti ayah minimal dua minggu meningkatkan kemungkinan bayi disusui hingga usia 8 minggu sebesar 31% dan tingkat keberlanjutan menyusui 25%.
  • Ayah berperan krusial dalam keberhasilan menyusui dengan memberikan dukungan langsung pada perawatan bayi dan memastikan kebutuhan ibu terpenuhi.
  • Amerika Serikat masih tertinggal dalam penyediaan cuti orang tua berbayar, yang berdampak pada rendahnya akses bagi sebagian besar pekerja.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, kehadiran seorang bayi adalah momen penuh kebahagiaan yang juga membawa banyak tantangan baru bagi pasangan. Salah satu aspek krusial dalam tumbuh kembang bayi adalah menyusui, yang dikenal memiliki segudang manfaat bagi ibu dan buah hati. Namun, tahukah Anda bahwa peran ayah ternyata sangat berpengaruh dalam keberhasilan proses menyusui ini?

Sebuah studi menarik dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa dukungan ayah saat cuti meningkatkan keberhasilan menyusui secara signifikan. Penelitian ini menyoroti bagaimana cuti ayah yang lebih panjang dapat menjadi faktor penentu dalam durasi dan keberlanjutan menyusui. Temuan ini memberikan perspektif baru tentang pentingnya dukungan ayah di masa-masa awal kehidupan bayi.

Studi yang dipimpin oleh Dr. John James Parker dari Northwestern University ini menganalisis data dari survei PRAMS for Dads. Hasilnya, ayah yang mengambil cuti setidaknya dua minggu setelah kelahiran bayi, memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk melaporkan bayi mereka masih disusui pada usia delapan minggu. Ini adalah informasi penting bagi setiap keluarga yang mendambakan proses menyusui yang optimal.

Dukungan Ayah, Kunci Keberlanjutan Menyusui

Penelitian ini secara jelas menunjukkan korelasi positif antara cuti ayah yang lebih lama dengan tingkat menyusui yang lebih tinggi. Ayah yang mengambil cuti minimal dua minggu setelah kelahiran bayi, 31% lebih mungkin melaporkan bahwa bayi mereka masih disusui pada usia delapan minggu, dibandingkan dengan ayah yang cutinya lebih singkat.

Bahkan di antara keluarga yang sudah memulai menyusui, tingkat keberlanjutan menyusui pada usia delapan minggu 25% lebih tinggi jika ayah mengambil cuti setidaknya dua minggu. Angka-angka ini tetap konsisten bahkan setelah disesuaikan dengan berbagai karakteristik ayah, ibu, dan bayi. Ini membuktikan bahwa kehadiran ayah di rumah memberikan dampak nyata pada proses menyusui.

Dukungan ini sangat krusial karena menyusui memberikan manfaat kesehatan penting bagi ibu dan bayi. Bayi yang disusui memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan risiko lebih rendah terhadap penyakit seperti meningitis bakteri, asma, dan obesitas. Meskipun demikian, tingkat menyusui eksklusif di AS masih suboptimal, dengan hanya 46,5% bayi yang disusui secara eksklusif hingga usia tiga bulan.

Peran Vital Ayah dalam Perawatan Bayi dan Ibu

Dr. John James Parker, penulis utama studi ini, menegaskan bahwa ayah memainkan peran kunci dalam keberhasilan menyusui. Peran ini tidak hanya sebatas dukungan moral, tetapi juga melibatkan bantuan langsung dalam perawatan bayi. Ayah dapat membantu mengganti popok, menyendawakan, menimang, dan memberikan ASI perah kepada bayi.

Selain itu, ayah juga bertanggung jawab memastikan ibu mendapatkan nutrisi, hidrasi, dan istirahat yang cukup untuk pemulihan pascapersalinan. Semua aktivitas pendukung ini menjadi jauh lebih mudah dilakukan ketika ayah memiliki waktu cuti yang lebih memadai. Kehadiran ayah memungkinkan pembagian tugas yang lebih seimbang di rumah, mengurangi beban ibu, dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk menyusui.

Dukungan ini sangat penting mengingat masa pascapersalinan seringkali menjadi periode yang menantang bagi ibu. Dengan adanya cuti ayah, suami dapat mendampingi istri, membantu mengurus bayi, serta memberikan dukungan emosional agar ibu tidak merasa sendirian. Hal ini juga berkontribusi pada kesehatan mental ibu yang lebih baik, mengurangi risiko depresi dan kecemasan pascapersalinan.

Tantangan Cuti Ayah di Amerika Serikat

Meskipun manfaatnya jelas, Amerika Serikat masih tertinggal jauh dari negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya dalam penyediaan cuti orang tua berbayar. Sebuah studi tahun 2022 menemukan bahwa hanya 23% pekerja sipil di AS yang dapat memperoleh cuti keluarga berbayar, dan hanya 13% perusahaan yang menawarkan cuti ayah berbayar kepada semua karyawan pria mereka.

Sebagian besar ayah yang mendapatkan cuti berbayar hanya mengambil satu minggu atau kurang. Akses terhadap cuti keluarga dan medis berbayar ini paling rendah bagi kelompok yang paling membutuhkan, dengan kecenderungan akses lebih tinggi pada orang dewasa bergelar sarjana dan bergaji lebih tinggi. Orang kulit hitam dan Latin memiliki akses yang lebih rendah dibandingkan orang kulit putih.

Hingga tahun 2024, Amerika Serikat adalah satu-satunya negara di antara 38 negara anggota OECD yang belum mengesahkan undang-undang yang mewajibkan perusahaan menawarkan cuti melahirkan berbayar kepada karyawan mereka. Undang-Undang Cuti Keluarga dan Medis (FMLA) tahun 1993 hanya mewajibkan 12 minggu cuti tidak berbayar setiap tahun bagi orang tua bayi baru lahir atau anak adopsi baru, dan itu pun hanya untuk perusahaan dengan 50 karyawan atau lebih.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading