Sukses

FimelaMom

Dari Pesta Ellie Goulding, Terkuak Masalah Besar Baby Shower yang Jarang Dibicarakan

ringkasan

  • Baby shower tradisional, seperti pesta mewah Ellie Goulding, secara tidak langsung memperkuat peran gender usang dengan menempatkan pengasuhan anak sebagai tanggung jawab eksklusif wanita.
  • Pengecualian peran ayah dalam baby shower dan layanan kesehatan mental perinatal berkontribusi pada normalisasi ketidakhadiran ayah dan menghambat perubahan stereotip gender.
  • Meskipun ada masalah ini, tren baby shower campuran gender mulai muncul sebagai upaya untuk menciptakan perayaan yang lebih inklusif dan seimbang.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, acara baby shower selebriti memang selalu menarik perhatian. Baru-baru ini, penyanyi Ellie Goulding mengadakan pesta mewah bertema 1970-an yang terinspirasi dari serial Apple TV 'Palm Royale' untuk menyambut anak pertamanya. Pesta tersebut dimeriahkan penampilan boyband Blue, menciptakan suasana yang meriah dan penuh kebahagiaan.

Namun, di balik kemewahan dan kegembiraan tersebut, terdapat sebuah masalah besar terkait tradisi baby shower yang jarang sekali dibicarakan secara terbuka. Charlotte Cripps, seorang penulis senior di Independent.co.uk, menyoroti bagaimana acara ini justru dapat memperkuat peran gender kuno dalam pengasuhan anak.

Artikel ini akan mengupas tuntas perspektif tersebut, mengajak kita melihat lebih dalam dampak sosial dari perayaan yang tampaknya tidak berbahaya ini. Kita akan menelusuri bagaimana baby shower tradisional, meskipun dikemas sebagai momen kebersamaan, berpotensi melanggengkan stereotip gender yang sudah usang dan dampaknya pada keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

Baby Shower: Lebih dari Sekadar Pesta, Ini Masalah Gender Usang

Baby shower tradisional seringkali hanya berfokus pada calon ibu, dengan daftar tamu yang didominasi perempuan. Ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa bayi adalah tanggung jawab eksklusif wanita.

Sementara itu, para pria secara tradisional merayakan kelahiran anak dengan acara "wet the baby's head" bersama teman-teman mereka setelah anak lahir. Pola ini memperkuat peran gender kuno dalam pengasuhan anak dan dianggap sudah ketinggalan zaman.

Meskipun dikemas sebagai sesi ikatan yang menyenangkan bagi wanita, acara ini juga menempatkan pengasuhan anak sebagai pekerjaan eksklusif wanita. Hal ini dapat menormalisasi ketidakhadiran ayah dalam proses pengasuhan sejak awal.

Ritual sosial semacam ini mendorong wanita untuk menerima peran sebagai ibu, sekaligus berpotensi menopang heteropatriarki. Ini menghambat upaya untuk memecah stereotip gender yang sudah usang, di mana wanita masih melakukan sebagian besar pengasuhan anak.

Dampak pada Ayah dan Kesenjangan 'Pink-Blue Divide'

Pengecualian peran ayah dari perayaan seperti baby shower memiliki dampak yang lebih luas. Ayah juga sering dikecualikan dari layanan kesehatan mental perinatal khusus di Inggris.

Padahal, hingga 13 persen ayah diperkirakan mengalami depresi selama kehamilan dan masa awal menjadi orang tua. Ayah yang tinggal di rumah juga seringkali tidak dilibatkan dalam percakapan dengan pusat pembelajaran anak usia dini, karena pesan yang disampaikan tetap bahwa semuanya tentang ibu.

Norma-norma ini dapat menciptakan "pink-blue divide" yang membentuk persepsi diri, peluang karier, dan ekspresi diri. Kesenjangan ini membatasi baik pria maupun wanita dalam peran yang diharapkan masyarakat.

Akibatnya, banyak ayah merasa terpinggirkan dari pengasuhan anak atau menyerahkannya sepenuhnya kepada pasangan wanita mereka. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada keinginan untuk kesetaraan, praktik sosial tertentu masih menghambat kemajuan.

Survei dan Pergeseran Menuju Baby Shower Campuran Gender

Data dari survei mendukung pandangan bahwa peran gender tradisional masih kuat dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga. Sebuah survei yang dilakukan oleh situs pengasuhan anak Netmums pada tahun 2019 mengungkapkan bahwa hampir tiga perempat (74 persen) wanita mengatakan mereka masih melakukan sebagian besar pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

Ini terjadi terlepas dari jam kerja atau siapa yang berpenghasilan lebih banyak. Hal ini menunjukkan bahwa pria secara historis mengambil peran sekunder dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

Baby shower melanggengkan keyakinan bahwa urusan bayi adalah kegembiraan dan tanggung jawab wanita semata. Namun, Sahabat Fimela, ada kabar baik! Tren mulai bergeser dengan munculnya baby shower campuran gender (co-ed baby showers).

Acara ini dirancang untuk melibatkan kedua orang tua dan teman-teman dari kedua jenis kelamin. Ini menunjukkan adanya kesadaran yang berkembang untuk menciptakan perayaan yang lebih inklusif dan mencerminkan realitas pengasuhan anak modern yang lebih seimbang.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading