Sukses

FimelaMom

Kenali Tanda-Tanda Anak Siap Toilet Training

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, banyak orangtua bertanya kapan waktu terbaik memulai toilet training. Faktanya, tidak ada usia yang benar-benar sama untuk setiap anak. Yang terpenting adalah melihat kesiapan fisik, emosional, dan kemampuan anak memahami instruksi sederhana. Ketika proses dimulai di waktu yang tepat, anak biasanya lebih mudah bekerja sama dan risiko stres pun berkurang.

Dilansir dari American Academy of Pediatrics (AAP), sebagian besar anak mulai menunjukkan kesiapan toilet training pada usia sekitar 18 hingga 24 bulan, meski ada pula yang baru siap setelah usia 2 tahun. Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain popok tetap kering selama dua jam atau lebih, anak mulai memberi tahu saat ingin buang air, mampu melepas dan memakai celana sendiri, serta menunjukkan ketertarikan melihat orang lain menggunakan toilet.

Kesiapan ini menunjukkan bahwa anak mulai mampu mengenali sinyal dari tubuhnya sekaligus mengikuti arahan sederhana. Orangtua tidak perlu membandingkan perkembangan si kecil dengan anak lain karena setiap anak memiliki ritme yang berbeda. Memulai toilet training berdasarkan kesiapan, bukan tekanan, akan membantu proses belajar terasa lebih nyaman dan minim drama.

Kapan Toilet Training Sebaiknya Ditunda?

Semangat mengajarkan anak menggunakan toilet memang baik, tetapi ada beberapa kondisi yang membuat proses ini sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Misalnya ketika keluarga baru pindah rumah, anak sedang sakit, baru memiliki adik, atau mulai masuk daycare. Perubahan besar dalam rutinitas dapat membuat anak merasa tidak nyaman sehingga lebih sulit fokus mempelajari kebiasaan baru. Memberikan waktu bagi anak untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut dapat membantu mereka merasa lebih tenang sebelum mulai belajar menggunakan toilet.

Dilansir dari Mayo Clinic, memulai toilet training saat anak menghadapi banyak perubahan dapat meningkatkan kemungkinan anak menolak menggunakan toilet atau membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Orangtua disarankan memilih masa ketika aktivitas keluarga relatif stabil sehingga anak merasa lebih aman dan nyaman. Selain itu, hindari memaksa anak duduk terlalu lama di toilet atau memarahinya ketika masih mengompol. Respons yang sabar, konsisten, dan penuh apresiasi dapat membangun rasa percaya diri anak selama proses belajar. Orangtua juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda sehingga tidak perlu terburu-buru mengejar target tertentu. Dengan pendekatan yang positif, toilet training dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membantu anak belajar mandiri sesuai tahap perkembangannya.

Dampingi Anak dengan Cara yang Positif

Proses toilet training tidak hanya bergantung pada kesiapan anak, tetapi juga cara orangtua mendampinginya setiap hari. Membuat rutinitas sederhana, seperti mengajak anak ke toilet setelah bangun tidur, sebelum mandi, atau setelah makan, dapat membantu mereka mengenali pola buang air secara perlahan. Orangtua juga dapat mengenalkan potty atau toilet tanpa paksaan agar anak merasa lebih nyaman dan tidak takut mencoba.

Dilansir dari National Health Service (NHS) UK, memberikan pujian ketika anak berhasil menggunakan toilet dapat meningkatkan rasa percaya diri dan membuat mereka lebih termotivasi untuk mengulang kebiasaan tersebut. Sebaliknya, memarahi atau mempermalukan anak saat masih mengompol justru dapat membuat mereka cemas dan enggan mencoba lagi. Jika sesekali terjadi “kecelakaan”, anggap hal tersebut sebagai bagian normal dari proses belajar. Konsistensi, kesabaran, dan komunikasi yang hangat akan membantu anak memahami kebiasaan baru tanpa merasa tertekan. Dengan dukungan yang tepat, toilet training dapat menjadi pengalaman positif yang sekaligus melatih kemandirian anak sejak usia dini.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading