Sukses

FimelaMom

Mengenal Postpartum Rage, Kemarahan Intens yang Sering Tak Terucap Setelah Melahirkan

ringkasan

  • Postpartum rage adalah gangguan suasana hati pascapersalinan yang menyebabkan kemarahan, agresi, dan agitasi intens, berbeda dari stres biasa dan sering terabaikan.
  • Gejala meliputi ledakan kemarahan, keinginan berteriak, tindakan fisik, pikiran kekerasan, iritabilitas, perasaan tidak terkendali, serta rasa bersalah dan malu mendalam setelahnya.
  • Kondisi ini dipicu oleh perubahan hormonal drastis, kurang tidur, stres, kurangnya dukungan, riwayat kesehatan mental, dan perubahan identitas, serta dapat ditangani melalui medikasi, psikoterapi

Fimela.com, Jakarta - Periode pasca persalinan seringkali digambarkan sebagai masa penuh kebahagiaan dan ikatan batin yang mendalam. Namun, bagi sebagian ibu baru, transisi ini juga dapat diwarnai oleh emosi yang membingungkan dan intens, salah satunya adalah postpartum rage. Kondisi ini, yang kadang disebut juga postpartum anger, merupakan gangguan suasana hati yang memicu kemarahan, agresi, dan agitasi ekstrem dalam beberapa minggu hingga bulan setelah melahirkan.

Berbeda dengan stres atau frustrasi biasa yang mungkin dialami ibu baru, kemarahan pascapersalinan dapat terasa meledak-ledak dan luar biasa. Kondisi ini adalah bentuk disregulasi emosional yang bermanifestasi sebagai iritabilitas atau kemarahan yang intens dan sering setelah melahirkan. Menurut Cleveland Clinic, postpartum rage adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan kemarahan, agresi, dan agitasi yang intens dalam beberapa minggu dan bulan setelah melahirkan.

Gejala postpartum rage dapat bervariasi pada setiap individu, namun ada beberapa tanda umum yang patut diwaspadai. Ibu mungkin merasa mudah tersinggung, frustrasi, atau kehilangan kesabaran lebih sering dari biasanya. Perasaan ini bisa mengarah pada ledakan kemarahan yang tidak proporsional terhadap pemicu kecil yang sebelumnya tidak akan mengganggu.

Tanda-tanda perilaku yang muncul bisa meliputi keinginan kuat untuk berteriak pada orang lain, melampiaskan kemarahan, atau melakukan tindakan fisik seperti memukul benda-benda, misalnya setir mobil, atau membanting pintu. Beberapa ibu bahkan melaporkan adanya dorongan untuk memukul atau melempar barang. Selain itu, pikiran atau dorongan kekerasan juga bisa muncul.

Setelah episode kemarahan, perasaan tidak terkendali seringkali diikuti oleh rasa bersalah dan malu yang mendalam. Ibu mungkin juga mengalami gejala fisik seperti rahang mengatup, dada sesak, atau jantung berdebar. Sebuah studi dari University of Arizona Health Sciences menyebutkan bahwa ibu baru yang mengalami postpartum rage mungkin merasa mudah frustrasi, membenci pasangannya, atau lebih sering berteriak daripada sebelum kehamilan.

Faktor Pemicu di Balik Kemarahan Pascapersalinan

Beberapa faktor kompleks dapat berkontribusi pada timbulnya postpartum rage. Salah satu pemicu utama adalah perubahan hormonal drastis yang terjadi setelah melahirkan. Penurunan kadar estrogen dan progesteron secara tiba-tiba dapat memengaruhi suasana hati dan menyebabkan perubahan emosi yang ekstrem. Fluktuasi hormonal yang cepat ini juga dapat membuat sistem respons stres menjadi sangat sensitif. "Setelah melahirkan, terjadi penarikan hormon reproduksi estrogen dan progesteron secara tiba-tiba. Penarikan ini dapat secara signifikan memengaruhi suasana hati dan menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem," jelas Pathlight Mood & Anxiety Center.

Kurang tidur juga merupakan pemicu signifikan yang dapat memperburuk perubahan suasana hati dan intensitas kemarahan. Selain itu, tuntutan menjadi ibu baru yang luar biasa, termasuk tanggung jawab yang meningkat, perubahan gaya hidup, dan ekspektasi sosial yang tinggi, dapat menyebabkan stres berlebihan. Sebuah studi UCLA tahun 2023 menemukan bahwa 70% ibu baru mengalami gejala kemarahan terkait penarikan CRH, namun 82% menyalahkan diri sendiri daripada faktor biologis. Kurangnya dukungan dari pasangan atau komunitas juga dapat memperparah perasaan marah.

Riwayat kesehatan mental pribadi atau keluarga, seperti depresi atau kecemasan, dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami postpartum rage. Pergeseran identitas diri setelah menjadi ibu, serta perubahan pada tubuh dan hubungan, juga menjadi faktor yang berkontribusi. Kondisi ini dapat muncul dalam rentang waktu enam minggu hingga satu tahun setelah melahirkan.

Bukan Sekadar PPD: Memahami Prevalensi dan Perbedaannya

Postpartum rage seringkali diabaikan atau dianggap sebagai gejala depresi pascapersalinan (PPD). Namun, masalah kesehatan mental pascapersalinan cukup umum, dengan hampir 1 dari 4 orang mengalami kondisi kesehatan mental pascapersalinan. Sekitar 21-31% ibu baru melaporkan mengalami kemarahan yang signifikan pada periode pascapersalinan. Penelitian menunjukkan bahwa kemarahan adalah gejala yang sangat umum dari depresi pascapersalinan yang sering terabaikan.

Meskipun postpartum rage dapat menjadi gejala PPD atau kecemasan pascapersalinan (PPA), kondisi ini juga dapat terjadi secara independen. PPD umumnya ditandai dengan kesedihan, tangisan yang sering, kelelahan, rasa bersalah, dan kecemasan. Sementara itu, postpartum rage lebih berfokus pada emosi yang berkaitan dengan kemarahan, seperti frustrasi, iritabilitas, dan mudah kehilangan kesabaran. Penting untuk dicatat bahwa seseorang dapat mengalami kemarahan tanpa mengalami depresi, dan memiliki PPD tidak berarti akan mengalami kemarahan. Namun, ketiga kondisi (depresi, kemarahan, dan kecemasan) dapat terjadi bersamaan.

Postpartum rage tidak terdaftar dalam DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) sebagai kondisi kesehatan mental yang diakui secara medis atau dapat didiagnosis. Meskipun demikian, kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan suasana hati perinatal. Para ahli mengakui bahwa kemarahan dan depresi dapat muncul bersamaan, namun postpartum rage belum sepenuhnya dipahami sebagai gangguan suasana hati tersendiri.

Mengelola dan Mencari Bantuan untuk Postpartum Rage

Penting bagi ibu yang mengalami postpartum rage untuk mencari bantuan profesional. Ada berbagai pilihan penanganan yang tersedia untuk membantu mengelola kondisi ini dan meningkatkan kualitas hidup. Jangan merasa malu atau sungkan untuk berbicara dengan penyedia layanan kesehatan mengenai perasaan yang dialami.

Salah satu pendekatan adalah medikasi, di mana obat-obatan tertentu seperti SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors) atau SNRI (serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors) dapat membantu mengurangi intensitas kemarahan. Selain itu, psikoterapi, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), sangat efektif dalam membantu mengelola pikiran negatif dan meminimalkan kemarahan. Berbicara dengan terapis dapat membantu ibu mengatasi perasaan dan mempelajari mekanisme koping yang sehat.

Dukungan juga berperan penting dalam proses pemulihan. Bergabung dengan kelompok dukungan, baik daring maupun langsung, dapat membantu memvalidasi perasaan dan menyadarkan bahwa ibu tidak sendirian. Membuat perubahan kecil dalam gaya hidup sehari-hari, seperti memprioritaskan tidur, mencari dukungan, dan mengelola stres, juga dapat membantu. Menulis jurnal dapat menjadi alat yang berguna untuk mengidentifikasi pemicu kemarahan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading