Sukses

FimelaMom

Anak Merasa Lebih Dihargai, Ini Kebiasaan Kecil yang Bisa Dilakukan Orangtua

Fimela.com, Jakarta - Membesarkan anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memastikan mereka merasa didengar, diterima, dan dihargai. Dalam keseharian yang sibuk, perhatian sederhana seperti menanggapi cerita anak atau meluangkan waktu untuk berbincang sering kali terlihat sepele. Padahal, kebiasaan tersebut dapat membantu membangun kedekatan emosional antara orangtua dan anak.

Dilansir dari Harvard University, interaksi responsif antara orangtua dan anak dikenal sebagai serve and return, berperan penting dalam perkembangan otak serta keterampilan sosial dan komunikasi anak. Interaksi ini terjadi ketika orangtua merespons sinyal anak melalui tatapan, kata-kata, atau sentuhan yang sesuai.

Dalam praktiknya, orangtua tidak harus selalu memberikan nasihat atau solusi setiap kali anak bercerita. Terkadang, anak hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi. Ketika perasaan dan pendapatnya mendapat ruang, anak dapat belajar bahwa dirinya memiliki arti dalam keluarga.

Menghargai anak juga bukan berarti selalu menuruti keinginannya. Orangtua tetap dapat menetapkan aturan sambil menjelaskan alasannya dengan cara yang penuh hormat. Melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, anak dapat merasakan bahwa dirinya dicintai bukan hanya karena pencapaian, melainkan juga karena dirinya sendiri.

Mendengarkan dan Menghargai Perasaan Anak

Salah satu cara sederhana untuk membuat anak merasa dihargai adalah memberikan perhatian penuh ketika mereka berbicara. Di tengah kesibukan pekerjaan rumah, aktivitas kantor, atau penggunaan ponsel, orangtua bisa meluangkan beberapa menit untuk mendengarkan cerita anak tanpa melakukan hal lain. Kontak mata, respons yang hangat, dan pertanyaan sederhana dapat menunjukkan bahwa cerita mereka penting.

Ketika anak menceritakan pengalaman di sekolah atau mengungkapkan kekecewaan, orangtua sebaiknya tidak langsung memotong pembicaraan untuk memberikan nasihat. Berikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu. Jika mereka sedang marah atau sedih, hindari menganggap perasaannya berlebihan hanya karena masalah tersebut terlihat kecil bagi orang dewasa.

Orangtua dapat menunjukkan empati melalui kalimat seperti, “Kamu pasti kecewa karena hal itu terjadi,” atau “Ibu ingin tahu lebih banyak tentang yang kamu rasakan.” Respons semacam ini membantu anak memahami bahwa emosinya boleh diungkapkan, meskipun tidak semua perilakunya dapat dibenarkan.

Selain mendengarkan, menghargai pendapat anak juga penting. Libatkan mereka dalam keputusan sederhana, seperti memilih kegiatan akhir pekan atau menentukan buku yang ingin dibaca bersama. Orangtua tetap memiliki tanggung jawab untuk menetapkan batasan, tetapi memberikan ruang bagi anak untuk berbicara membuat mereka merasa dilibatkan. Dengan begitu, komunikasi keluarga dapat tumbuh menjadi lebih terbuka dan saling menghormati.

Kebiasaan Kecil yang Membantu Anak Lebih Percaya Diri

Membuat anak merasa dihargai juga bisa dimulai dengan mengapresiasi usaha mereka, bukan hanya hasil akhirnya. Ketika anak mencoba merapikan mainan, menyelesaikan tugas sekolah, atau belajar melakukan sesuatu yang baru, orangtua dapat memberikan pujian yang spesifik. Misalnya, “Kamu sudah berusaha menyelesaikan tugas itu dengan teliti,” sehingga anak memahami bahwa proses dan ketekunannya turut diperhatikan.

Kebiasaan ini penting agar anak tidak merasa bahwa kasih sayang orangtua hanya diberikan ketika mereka memperoleh nilai bagus atau berhasil memenangkan sesuatu. Anak tetap membutuhkan dukungan ketika melakukan kesalahan. Alih-alih langsung memarahi, orangtua dapat mengajak mereka memahami apa yang terjadi dan memikirkan langkah yang bisa dilakukan berikutnya.

Memberikan kesempatan untuk mandiri juga merupakan bentuk penghargaan. Sesuaikan tanggung jawab dengan usia anak, seperti memilih pakaian sendiri, menyiapkan perlengkapan sekolah, atau membantu pekerjaan rumah sederhana. Ketika anak diberi kepercayaan, mereka memiliki kesempatan untuk belajar mengambil keputusan sekaligus memahami konsekuensinya.

Di sisi lain, orangtua perlu menghindari kebiasaan membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya. Setiap anak memiliki kemampuan dan proses perkembangan yang berbeda. Fokuslah pada kemajuan mereka sendiri, sekecil apa pun itu.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading