Sukses

Food

6 Cara Menyimpan Wijen agar Awet, Tetap Renyah, dan Bebas Tengik

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, biji wijen sering menjadi pelengkap berbagai hidangan, mulai dari roti, kue, hingga masakan rumahan. Meski ukurannya kecil, wijen bisa menambah aroma dan rasa pada makanan. Agar kualitasnya tetap terjaga, penting untuk mengetahui cara menyimpan wijen agar awet dan tidak cepat kehilangan kesegarannya.

Pernah menemukan wijen yang baru dibeli, tapi beberapa minggu kemudian aromanya berubah atau muncul serangga kecil? Kondisi ini bisa terjadi jika wijen disimpan di tempat yang kurang tepat. Kandungan minyak alami di dalamnya membuat wijen cukup rentan mengalami ketengikan, terutama jika sering terkena udara, panas, dan kelembapan.

Sebenarnya, menyimpan wijen tidaklah sulit, hanya perlu memperhatikan wadah dan tempat penyimpanannya. Dengan beberapa cara sederhana, wijen dapat terjaga kualitasnya dan siap digunakan kapan saja untuk melengkapi hidangan favorit di rumah. Simak cara lengkapnya berikut ini, dirangkum Fimela.com pada Rabu (4/11/2026).

1. Sangrai Wijen Terlebih Dahulu Sebelum Disimpan

Langkah pertama yang sangat direkomendasikan sebelum menyimpan wijen adalah menyangrainya di atas wajan anti lengket tanpa menggunakan minyak. Proses pemanasan ringan ini memiliki tujuan ganda, yakni mengurangi kadar air ekstra yang tersembunyi di dalam biji wijen, sehingga secara otomatis meminimalisir risiko munculnya jamur di kemudian hari.

Selain berfungsi mengawetkan, menyangrai wijen akan merangsang pelepasan minyak atsiri yang membuat aromanya semakin wangi dan teksturnya menjadi jauh lebih renyah saat dikunyah. Pastikan kamu menggunakan api kecil dan terus mengaduknya dengan spatula kayu agar wijen tidak gosong yang justru bisa meninggalkan aftertaste pahit.

Setelah warnanya berubah menjadi kuning keemasan, segera pindahkan wijen ke atas piring lebar dan biarkan hingga benar-benar mencapai suhu ruang. Ingat, jangan pernah memasukkan wijen yang masih dalam keadaan panas ke dalam toples tertutup, karena uap panasnya akan mengembun menjadi tetesan air yang justru membuatnya cepat busuk.

2. Gunakan Wadah Kaca Tebal yang Kedap Udara

Pemilihan material wadah penyimpanan memainkan peran yang sangat krusial dalam memperpanjang usia simpan biji-bijian. Sangat disarankan bagi Sahabat Fimela untuk menggunakan toples kaca tebal yang dilengkapi dengan penutup karet kedap udara (airtight seal) ketimbang menggunakan wadah plastik kemasan biasa.

Kaca merupakan material yang tidak memiliki pori-pori mikroskopis seperti plastik, sehingga sirkulasi udara dan kelembapan dari luar benar-benar terblokir dan tidak bisa merusak kualitas wijen. Selain itu, kaca juga sangat higienis karena tidak akan meninggalkan atau menyerap residu bau dari bumbu lain yang sebelumnya mungkin pernah disimpan di wadah tersebut.

Melansir dari The Spruce Eats, pakar kuliner menyarankan, "Menyimpan biji wijen dalam wadah kedap udara adalah langkah pertahanan pertama yang mutlak untuk mencegah minyak alaminya teroksidasi oleh oksigen bebas."

Oleh karena itu, pastikan terdengar bunyi 'klik' atau pastikan karet penutup toples mengunci rapat setiap kali sehabis digunakan.

3. Jauhkan dari Paparan Cahaya Matahari Langsung

Banyak dari kita yang gemar menata toples bumbu di atas rak dinding dekat jendela dapur karena tampilannya terlihat sangat estetik saat difoto. Sayangnya, membiarkan wijen terpapar siraman cahaya matahari secara langsung adalah kesalahan fatal yang akan mempercepat laju kerusakan minyak alami di dalamnya.

Sinar ultra violet (UV) dari matahari dapat memicu reaksi fotooksidasi pada asam lemak tak jenuh yang terkandung dalam biji wijen. Reaksi kimia inilah yang secara bertahap menghasilkan aroma tengik menyengat dan membuat rasa wijen berubah menjadi apek saat ditaburkan ke atas salad atau hidangan tumisanmu.

Jika kamu telanjur menggunakan toples kaca bening yang estetik, pastikan untuk menyimpannya di dalam lemari kabinet dapur yang gelap dan kering. Alternatif lainnya yang tak kalah cantik, kamu bisa memilih toples kaca berwarna gelap (seperti amber atau hijau tua) yang didesain khusus untuk menangkal penetrasi sinar matahari.

4. Simpan di Dalam Kulkas untuk Stok Jangka Menengah

Jika Sahabat Fimela bukan tipe yang setiap hari menggunakan wijen dalam masakan, membiarkannya tergeletak di suhu ruang dapur mungkin bukan keputusan terbaik. Suhu dapur tropis yang fluktuatif dan cenderung panas saat kompor menyala sangat berisiko merusak kualitas wijen secara diam-diam dalam hitungan minggu.

Untuk mengakali hal ini, kamu bisa memasukkan toples kedap udara berisi wijen tersebut ke dalam kulkas bagian pendingin (chiller). Suhu dingin yang stabil di dalam lemari es akan sangat efektif menidurkan aktivitas bakteri dan memperlambat proses oksidasi minyak alami, menjadikannya tetap segar hingga enam bulan lamanya.

Mengutip dari Epicurious, sebuah platform gastronomi ternama, "Biji-bijian yang mengandung kadar lemak nabati tinggi seperti wijen sebaiknya diperlakukan layaknya produk dairy atau mentega, mereka akan bertahan jauh lebih lama dan renyah saat disimpan dalam lingkungan bersuhu dingin yang stabil."

5. Manfaatkan Freezer Sebagai Solusi Jangka Panjang

Pernahkah kamu memborong wijen dalam jumlah besar karena sedang ada promo belanja bulanan atau sebagai persiapan membuat kue kering menjelang hari raya? Jika kamu berniat menyimpannya untuk waktu yang sangat lama bisa mencapai satu tahun lebih maka laci freezer adalah tempat peristirahatan paling ideal baginya.

Suhu beku di bawah titik nol akan menghentikan seluruh aktivitas mikroorganisme dan proses dekomposisi alami secara total tanpa merusak struktur nutrisinya. Kamu bisa membagi wijen ke dalam beberapa kantong zip-lock kecil sebelum membekukannya, agar saat ingin memasak, kamu cukup mencairkan satu porsi tanpa merusak suhu stok yang lain.

Dan tidak perlu khawatir teksturnya akan berair, lembek, atau menempel satu sama lain. Karena wijen pada dasarnya memiliki kadar air internal yang amat rendah, saat dikeluarkan dari freezer, ia akan sangat cepat menyesuaikan diri dengan suhu ruang sambil tetap mempertahankan sensasi renyah aslinya.

6. Jauhkan dari Sumber Panas Utama di Dapur

Kesalahan tata letak yang paling sering tidak disadari oleh para pemula adalah meletakkan rak bumbu persis di sebelah kompor menyala, oven, atau di atas microwave. Posisi yang terlalu dekat dengan sumber panas ini akan menciptakan siklus perubahan suhu yang sangat ekstrem pada toples wijen milikmu.

Hawa panas yang memancar dari kompor saat kamu sibuk memasak akan memanaskan isi toples, membuat minyak wijen 'berkeringat' secara internal. Ketika kompor dimatikan, suhunya akan mendadak turun siklus naik-turun inilah yang menciptakan kelembapan berlebih di dalam wadah dan mempercepat datangnya ketengikan.

Menurut panduan dari ahli pangan di Food Network, "Fluktuasi suhu ruang yang terjadi secara terus-menerus di dekat area kompor adalah musuh terbesar bagi semua bahan makanan kering yang kaya akan minyak."

Jadi, pastikan lemari penyimpanan wijenmu berada di sudut dapur yang jaraknya paling jauh dari jangkauan hawa panas.

Pertanyaan Seputar Penyimpanan Biji Wijen

1. Apakah wijen yang sudah telanjur berbau tengik masih aman dikonsumsi?

Sebaiknya segera dibuang dan jangan dikonsumsi. Bau tengik menandakan rantai asam lemaknya sudah teroksidasi dan rusak. 

2. Perlukah mencuci biji wijen dengan air sebelum disimpan?

Sangat tidak disarankan. Mencuci wijen hanya akan menambah kadar air secara drastis dan membuatnya sangat rentan berjamur.

3. Bagaimana cara membedakan wijen yang masih layak pakai dan yang sudah rusak?

Wijen yang masih dalam kondisi prima memiliki aroma wangi khas kacang-kacangan dan teksturnya sangat mudah hancur (renyah) saat digigit.

4. Apakah metode penyimpanan ini juga berlaku sama untuk wijen hitam?

Tentu saja, Sahabat Fimela. Baik varian wijen hitam maupun wijen putih memiliki profil kandungan minyak nabati yang serupa, sehingga langkah dan metode penyimpanannya sama persis tanpa ada perbedaan perlakuan.

5. Bolehkah menyimpan wijen menggunakan toples plastik food grade?

Boleh saja, asalkan bahan plastiknya benar-benar tebal, memiliki label BPA-free (food grade), dan dibekali karet segel penutup yang kokoh. 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading