Sukses

Health

Stop Stress Eating! Cara Ampuh Mengendalikan Nafsu Makan Saat Emosi Kacau

Fimela.com, Jakarta Pernahkah kamu langsung ingin membuka kulkas atau mencari camilan saat merasa stres, sedih, atau jengkel? Banyak orang mengalaminya. Di tengah emosi yang kacau, makanan sering dianggap sebagai “pelarian cepat” yang menawarkan kenyamanan instan. Mulai dari makanan manis, asin, bahkan pedas sekalipun bisa menjadi tujuan dikala emosi yang tak menentu.

Melansir laman healthline.com kebiasaan makan yang muncul sebagai respons terhadap emosi ini dikenal sebagai stress eating atau yang biasa juga dikenal sebagai emotional eating. Hampir semua orang pernah melakukannya, terutama saat suasana hati sedang tidak baik. Wajar saja, karena makanan memang memicu sistem reward di otak yang membuat kita merasa lebih tenang sesaat.

Namun, masalah mulai muncul ketika perilaku dari stress eating berubah menjadi kebiasaan yang otomatis. Jika setiap kali stres kamu selalu mencari makanan sebagai solusi, tubuh dan pikiran bisa semakin bergantung pada cara ini tanpa pernah benar-benar menyelesaikan akar masalahnya.

Belajar membedakan kebutuhan emosi dan nafsu makan

Makanan tidak bisa menghilangkan rasa cemas, sedih, jenuh, atau lelah. Efek nyaman yang diberikan hanya sementara. Setelah itu, banyak orang justru merasa bersalah atau menyesal karena makan berlebihan, sehingga emosi negatif yang dirasakan semakin menumpuk. Pada akhirnya, pola ini bisa berubah menjadi siklus yang sulit diputus.

Hubungan emosional dengan makanan sebenarnya sangat manusiawi. Makanan hadir dalam momen bahagia, sebagai bentuk perhatian, hingga cara kita terhubung dengan orang lain. Karena itu, wajar jika makanan punya makna lebih dari sekadar sumber energi. Namun, ketika hubungan ini membuatmu sulit mengenali kebutuhan emosimu sendiri, penting untuk mulai mengamati kembali pola makan dan perasaan yang menyertainya.

Tujuan utamanya bukan memutus hubungan ini, tetapi membantumu lebih sadar memilih kapan dan bagaimana kamu makan. Ada saat-saat ketika makanan bisa menjadi bagian dari pengelolaan emosi, tetapi di banyak momen lainnya, tubuh dan pikiran membutuhkan cara coping yang lebih sehat. Dengan kesadaran ini, kamu bisa membangun hubungan yang lebih seimbang.

Hubungan antara emosi, otak, dan nafsu makan

Pemicu stress eating bisa bermacam-macam, mulai dari tekanan pekerjaan, masalah finansial, kesehatan, hingga konflik hubungan. Selain faktor eksternal, ada juga pemicu internal seperti sulit mengenali emosi, tidak mampu mengatur perasaan, atau pola stres tubuh yang tidak seimbang. Semakin sering makanan dijadikan pelarian, semakin kuat juga kebiasaan tersebut terbentuk.

Meski begitu, stress eating bukanlah gangguan makan. Namun, kebiasaan ini bisa menjadi bagian dari disordered eating, terutama jika kamu sering membatasi makanan secara ketat, merasa bersalah setelah makan, atau memiliki pola makan tidak teratur. Kamu tetap berhak mencari bantuan profesional meski belum memenuhi kriteria gangguan makan secara klinis.

Munculnya keinginan makan saat stres juga dipengaruhi oleh dopamine, zat kimia otak yang memberikan rasa senang. Lama-kelamaan, otak terbiasa mengasosiasikan stres dengan makan. Apalagi makanan mudah ditemukan di mana saja, membuatnya menjadi coping mechanism paling cepat diakses. Itulah mengapa penting untuk mengenali pola ini dan mulai membangun cara-cara baru yang lebih sehat untuk meredakan emosi.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading