Sukses

Lifestyle

Dua Hati yang Terlalu Berbeda Sulit untuk Disatukan Bersama

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Tievani Justin - Jakarta

“Tiv, besok ada tugas nggak?” sekiranya kalimat itu yang masih saya ingat tentang kisah cinta yang kandas beberapa bulan yang lalu setelah menjalin hubungan selama empat tahun lamanya. Pertemuan kami memang tak manis, pernyataan cintanya juga tak manis, tapi bagaimana sifatnya kepadaku sungguh manis.

Kami bertemu di masa putih abu-abu, memang benar masa putih abu-abu sungguh indah. Berawal dari pertanyaan tugas melalui chat hingga pertanyaan, "Mau nggak jadi pacar gua?" secara langsung. Setelah kami berdua lulus, kami memilih jalan yang berbeda. Dengan jurusan dan lingkungan kampus yang berbeda sehingga saya dan dia menjadi jauh.

Saya yakin, konflik dalam hubungan merupakan sesuatu yang wajar. Tetapi yang salah adalah ketika persepsi yang berbeda tetap ingin disatukan dengan pengalaman dan pemahaman yang berbeda menjadi satu. Saya dan dia telah berkali-kali untuk memahami bagaimana lingkungan kami memengaruhi cara kami berpikir dan bertindak. Saya terlalu berambisi dalam melihat sesuatu dan dia terlalu santai dalam menanggapi sesuatu.

Hubungan Tak Bisa Dipertahankan

Sampai pada akhirnya kami lelah, lelah untuk mempertahankan. Kami berbicara secara baik-baik atas kegerahan satu sama lain. Bagi saya, saya selalu ingin mengeksplorasi hal baru dan tidak suka diatur karena saya merasa bisa menjaga diri. Dan bagi dia, saya tidak bisa menjaga diri saya sendiri ketika diluar, ia menganggap bahwa saya genit. Sifatnya yang cenderung posesif terkesan membatasi saya serta sifat pencemburu yang sudah tidak saya tahan lagi.

Saya sedih karena harus berpisah dengan "my human diary". Tapi akhirnya saya sadar, bahwa yang terjadi pada kami adalah proses pendewasaan. Baik kami, situasi dan lingkungan pasti akan berubah. Tergantung bagaimana kami menyikapi. Pilihan yang bisa diambil oleh orang yang sedang pacaran cuma dua, yaitu melanjutkan hubungan atau mengakhiri hubungan.

Entah mana yang lebih baik, setidaknya saya sadar. Dari luka ini, saya dan mungkin juga dia harus lebih berjuang. Kami tahu dunia itu tidak keras, tapi kami yang belum siap. Kami belajar untuk sama-sama memantaskan diri ke depannya nanti, baik itu dalam masa perkuliahan maupun masa pencarian kerja dan masa depan. Entah dia atau orang lain yang akan menjadi pendamping saya, setidaknya saya ingin berterima kasih kepada dia. Berkat lukanya, sekarang saya bisa lebih berusaha dan berjuang untuk memantaskan diri dan dipantaskan.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Lomba Menulis My Love Life Matters
Artikel Selanjutnya
Jika tak Berjodoh, Sebuah Pertemuan takkan Menetap Lama