Sukses

Lifestyle

Editor Says: Traveling Makin Murah, Untung atau Buntung?

Fimela.com, Jakarta Mahal dengan banyak macam-macam biaya yang mesti dikeluarkan, itulah kiranya citra traveling lima sampai enam tahun sebelum ini. Tapi, secara perlahan namun pasti, kamu mungkin juga menyadari kalau sisihan budget bisa tak sebanyak dulu, meski mengunjungi tempat yang sama.

Ya, traveling makin murah di hari-hari belakangan. Tak perlu menabung terlalu lama (apalagi kalau kamu memang sebegitu disiplin) untuk menyambangi tempat yang dulu terasa cukup mahal. Sekarang, kamu mungkin bisa memangkas setengah waktu menabung untuk mendapatkan liburan ke tempat yang sama, hanya saja dengan fasilitas berbeda.

Ketika ditanya mengapa, jawabnya bisa jadi sangat beragam dan menyoroti banyak aspek. Bermunculannya rute-rute baru low-cost carrier boleh jadi salah satu faktor pendukung, lantaran tak sedikit traveler yang sempat mengeluhkan biaya transportasi. Dengan pangkasan budget yang lumayan banyak itu, wajar kalau minat traveling meningkat.

Faktor lain yang tak kalah penting dari fenomena meminimalnya pengeluaran perjalanan ini pun adalah penyebarluasan informasi, terutama lewat media sosial. Dari satu foto yang diunggah, bukan tak mungkin ada orang lain yang tergugah untuk datang. Lambat-laun, tempat tersebut bisa jadi populer dan didatangi lebih banyak pelancong.

Traveling Makin Murah, Untung atau Buntung? (Sumber Foto: kadekarini/Instagram)

Bisa juga dengan banyaknya destinasi baru, seperti yang terjadi di Jawa. Melihat minat yang demikian meningkat, kemudian lahirlah tempat-tempat menginap baru dengan tawaran fasilitas berbeda satu sama lain. Tak hanya hotel, pilihanmu sudah sampai hostel, guest house, homestay, bahkan menyewa tenda yang bisa didirikan di tepi pantai.

Seperti banyak perihal di hidup, nuansa traveling yang seperti sekarang pun menghadirkan keuntungan, juga dibuntuti lekat oleh kerugian. Ada enak-nggak enak, suka-kurang suka dari fakta traveling yang kian memurah. Mari kita bahas satu per satu!

Dilema Traveling Murah

Karena akan jadi sangat mudah bila membicarakan yang senang-senang lebih dulu, jadi bijak untuk menyoroti 'buntungnya' fenomena traveling murah. Harus disadari benar kalau perjalanan sekarang sudah tak se-eksklusif dulu, dan saya, kamu, juga jutaan manusia lain harus menerima kenyataan itu.

Kita harus pintar-pintar mencari momen, di mana satu tempat kurang ramai, namun tetap di waktu terbaiknya. Ia masih berada di paras yang eloknya jadi alasan utama untuk datang. Kalaupun tak bisa, berarti opsi lainnya adalah berdamai dengan keadaan ramai yang mungkin membuat traveling jadi kurang nyaman. Lebih murah sih, tapi kok ya begini banget?

Traveling Makin Murah, Untung atau Buntung? (Sumber Foto: ditaaapus/Instagram)

Karena banyaknya pengunjung, keadaan di sekitar jadi kurang bisa dikontrol, apalagi soal kebersihan. Kamu mungkin sama seperti saya yang tiba-tiba sedih saat melihat sampah ada lanskap-lanskap memukau, juga ketika kabar menyebutkan Machu Picchu sekarat. Bukan karena llama tentu saja, kita, manusialah yang membuat puing peninggalan suku Inca itu terancam eksistensinya.

Bukan berarti pelakunya hanya para pelakon travel on a budget lho. Penekanan saya di sini adalah kuantitas manusia yang sedemikian banyak itu bisa saja mengubah saya, kamu, dan banyak orang jadi sedikit acuh, mungkin tapi ya. Tak menutup kemungkinan tanggung jawab lebih malah datang dari mereka yang bersyukur karena traveling memurah hari demi hari.

Berbicara dari sisi seberangnya, traveling murah adalah harap dan asa tiada bertepi. Kian terjangkaunya budget perjalanan ke satu atau malah sekaligus tempat adalah gerbang angan dari petualangan yang mungkin hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup. Semakin populernya traveling membuat lebih banyak manusia terhubung.

Traveling Makin Murah, Untung atau Buntung? (Sumber Foto: fdevena/Instagram)

Kalau dulu sangat individual di hotel, sekarang bisa melebur dengan lebih mudah di hostel. Bercerita tentang apa-apa saja yang ingin atau sudah dilihat. Saling belajar untuk bekal diri yang bisa jadi lebih baik. Kita tak mungkin memutar balikkan waktu dan memuat traveling hanya milik golongan-golongan tertentu (terdengar tak adil ya?).

Yang penting dilakukan sekarang adalah menjadi pribadi adaptif yang tak meninggalkan nilai dan identitas diri sendiri. Bila Yogyakarta sudah demikian ramai di musim libur, mengalahlah dan datang di luar waktu-waktu itu, atau sesederhana menerima keriuhan tersebut. Kamu kan tak tahu kejutan apa yang menunggu saat travelingJadi, mau ke mana dalam waktu dekat ini?

 

Asnida Riani,

Editor Food & Travel Bintang.com

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
WNI Bisa Liburan ke Singapura Tanpa Karantina Mulai 29 November
Artikel Selanjutnya
Ingin Berpergian ke Luar Negeri? Ketahui Dulu Daftar Negara Level 4 Covid-19 Berikut Ini