Sukses

Lifestyle

Aku Bukan Sok Berani, Aku Memilih Menjadi Wanita Mandiri

Kisah ini dikirim oleh salah satu Sahabat Vemale bernama Wientarsih.

-oOo-


Pada semua perempuan yang hari ini masih duduk di belakang, menanti tumpangan atau sekedar enggan menyentuh setir sepeda motor. Maka katakan ini pada diri sendiri, aku berani menaklukan si roda kuda besi, bukan karena aku berani, tetapi karena aku mandiri.

Tak pernah terbayangkan ketakutan lima belas tahun dulu, mampu aku lawan tiga bulan lalu. Setiap kali melihat sepeda motor, hanya rasa takut yang ada dibenakku. Takut jatuh, berdarah, nabrak, atau takut ditabrak oleh kendaraan lain membuatku takut setengah mati. Belum lagi berita banyaknya kecelakaan lalu lintas sepeda motor membuatku semakin tak mau menyentuh kendaraan yang paling banyak digunakan di Indonesia itu. “Sudahlah, aku takut, titik!”. Gumam ku setiap kali disindir karena menginjak usia dua puluh tahunan ini masih belum bisa mengendarai sepeda motor.

Selama waktu itu pula, aku berlindung di dalam rasa takutku. Aku berusaha membela diri, membela ketakutanku sendiri. Selama lima belas tahun terakhir itu pula aku ternyata menyadari banyak mengorbankan waktu orang-orang di sekitarku, hanya untuk mengantarku pulang dan pergi. Masa-masa sekolah kuhabiskan di jok belakang sepeda motor Bapak yang rela mengantarku pergi-pulang, di tengah terik matahari dan guyuran hujan. Belum lagi lima tahun masa kuliahku membuat Bapak setiap hari harus menunggu aku turun dari Bus untuk menjemputku pulang ke rumah.  

Perjalanan naik sepeda motor Bapak ke rumah, sebenarnya menjadi perjalanan yang paling  aku suka sekaligus selalu membuat aku ingin menangis. Aku senang, saat menghabiskan perjalanan pulang bersama orang yang paling aku sayangi. Namun, saat menatap pundak Bapak dari jok belakang sepeda motor, selalu mampu membuat aku melelehkan air mata. Ingin rasanya aku yang memegang kemudi itu, dan memboceng bapak di belakangku. Namun, rasa takut, membuatku tak mampu melakukan itu hingga bapak pergi.

Hingga aku lulus kuliah, meraih gelar sarjana dan bekerja, belum mampu membuatku bisa melawan ketakutan mengendari sepeda motor. Aku lebih rela menjadi angkoters, naik kendaraan umum satu ke kendaraan umum lain. Atau disebut nebengers, menanti belas kasihan menunggu tumpangan. Dibandingkan harus bergelut dengan kerasnya jalanan para bikers. Namun, semuanya seolah berubah.

Seiring dengan naiknya ongkos angkot yang tak lagi murah, dan wajah yang semakin merah jika terus meminta bantuan tumpangan teman atau saudara. “Apakah aku ingin menghabiskan waktu bergantung pada orang lain?”. Berdiri di kaki sendiri, berusaha mandiri, membuatku semakin menguatkan diri melawan rasa takutku. Hingga akhirnya, aku mampu beraktivitas setiap hari menggunakan sepeda motor. Bukan karena aku berani, tetapi karena aku memilih untuk menjadi wanita mandiri.

-oOo-

Semoga kisah ini memberi inspirasi dan motivasi untuk pembaca Vemale. Menjadi Kartini tidak harus dengan membuka sekolah atau melakukan hal-hal super besar. Dengan memperjuangkan impian Anda dan bermanfaat sekecil apapun untuk orang lain, maka Andalah Kartini itu.

 

LOMBA MENULIS VEMALE.COM

ANDALAH KARTINI ITU

 

Dalam rangka menyambut Hari Kartini, Vemale.com mengadakan sebuah lomba menulis kisah nyata yang dapat memberi inspirasi untuk banyak wanita.

Kirimkan kisah Anda mengenai suka duka menjadi wanita dan bagaimana Anda berjuang untuk menjadi wanita mandiri tanpa melupakan kodrat ke email redaksivemale@kapanlagi.net dengan subjek: KARTINI VEMALE 

10 kisah yang ditayangkan akan mendapat bingkisan cantik dari kami. Kami tunggu kisah Anda hingga tanggal 30 April 2015.

 

Some people say I'm not a very pretty woman, but I'm a very beautiful woman inside. - Anne Ramsey

(vem/yel)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading