Sukses

Lifestyle

Pria yang Terus Menyiksa Batin, Nggak Layak Dipertahankan!

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Saat itu aku baru putus dengan pacarku, kisah sesaat yang sangat menyakitkan menurutku.
Terakhir kabar kuketahui dari temanku bahwa ada seorang wanita di kotanya yang sedang mendekatinya. Kami beda kota masih satu provinsi dengan jarak satu jam saja. Saat itu aku sangat sedih.

Tepatnya awal Februari aku mendapat pemberitahuan dari atasan bahwa aku ditugaskan di kota pulau seberang, lumayan jauh pikirku, saat itu aku bimbang. Bimbang harus meninggalkan keluarga dan teman-teman karena di kota itu aku tidak punya siapa-siapa. Di sisi lain, aku ingin melupakan pacarku yang entah kenapa sangat aku sayangi padahal belum banyak kisah yang kami ukir karena kami pacaran baru tiga bulan.

Aku diberi waktu satu minggu untuk berpikir oleh atasanku, mau tidak mau aku tahu pasti aku juga yang akan dikirim ke sana. Hari ke-3 aku memberi jawaban kepada atasanku setelah aku berembuk pada orangtuaku. Ayah tidak masalah melepaskanku, karena aku cewek tomboy dan mandiri. Namun di sisi lain, ibuku sangat keberatan, karena ibu mengetahui kota itu apalagi di sana tidak ada saudara tempat menitipkanku kalau terjadi sesuatu, padahal ini bukan tugas ke luar kota yang pertama kali, hanya saja keadaannya yang membuat ibuku khawatir. Dan akhirnya izin ibuku pun kuterima. Ya, aku tahu aku bisa.

Ilustrasi wanita./Copyright shutterstock.com

Awal yang sulit di tempat baru, tapi aku harus kuat karena ini adalah pilihanku. Aku jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman, jauh dari kotaku yang dengan gampang kujelajahi di kala aku bosan. PR-ku sangat banyak di sana, aku harus super ekstra mengerjakannya. Karena sifatku yang mudah bergaul dan dekat dengan orang, tidak butuh waktu lama aku sudah akrab dengan rekan-rekan kerjaku. Mereka semua baik, mereka membantu, mengajakku berkeliling kota itu karena kota itu juga termasuk kota wisata. Aku sudah mulai terbiasa dengan pekerjaanku dan kota itu, dan aku suka.
    
Satu tahun sudah aku di kota ini, aku mengajukan kepulanganku ke kantor pusat di kota asalku. Tiga bulan terakhir sebelum aku kembali, aku dekat dengan seorang pria yang satu kota denganku. Selain rindu keluarga, aku juga ingin bertemu pria itu. Karena usia kami yang bisa dikatakan sudah pantas menuju pernikahan maka kami sudah berkomitmen untuk hubungan kami tujuannya akan kemana. Kami pun pacaran saat aku kembali. Semua berjalan baik-baik saja, selama pacaran, aku dan dia sudah saling kenal keluarga bahkan sudah dekat. Rumahnya sudah seperti rumahku begitu juga sebaliknya. Kami pergi liburan ke luar kota bersama teman-temanku, bahkan liburan bersama keluarga.

Dua tahun sudah berjalan hubungan kami tapi aku belum melihat titik terang kapan akan terlaksana niatnya untuk tujuan hubungan ini. Sejuta alasan dikatakannya padaku, aku selalu bersabar meski semua ini sudah tidak sesuai komitmen awal pacaran. Dia seakan masih ingin berjalan seperti adanya dengan pikiran tidak mungkin berpisah karena keluarga sudah saling kenal. Selama pacaran pun aku selalu bersabar akan sifatnya yang cemburuan, selalu menuduh aku selingkuh atau melakukan hal aneh dengan pria lain, dia selalu menuduh aku selingkuh dengan teman kerja yang hanya kebetulan dia lihat berbicara denganku.

Ini gila, pikirku. Tidak mungkin di tempat kerja aku tidak bicara dengan siapapun. Aku juga dilarang pergi jalan bareng teman-teman cowokku, kalau aku pergi dengan cewek dia harus ikut, kalau tidak ikut, aku harus kirim foto. Padahal dulu aku nyantai aja pergi dengan teman-teman cewek atau cowok. Awalnya aku turuti tapi lama-lama dia makin menjadi dan melunjak. Meski sudah aku turuti semua maunya dia tetap menuduhku selingkuh dan segala macam bahkan dia mulai mengeluarkan kata-kata kasar padaku, membentak atau berteriak di depan orang ramai bahkan di depan teman-temanku. Aku marah padanya, dengan emosi kukatakan, “Teman-temanku lebih dulu ada di hidupku daripada kamu, jadi kamu nggak berhak mengusir mereka dari hidupku." Tapi dia tidak mau terima alasan apapun.

Ilustrasi galau./Copyright shutterstock.com

Tiada hari tanpa berantem di hubungan kami, tapi di depan keluarga kami bisa sembunyikan pertengkaran kami seolah-olah semua baik-baik saja, dan hal itu sering dimanfaatkannya, padahal aku tersiksa dengan semua perilakunya. Aku juga tidak pernah cerita ke keluarga tentang masalah ini. Aku tidak mau mereka menilai jelek padanya, karena aku selalu mikirkan hubungan keluarganya dengan keluargaku.

Mustahil sudah sejauh ini untuk berakhir, semua pikiran itu selalu beradu di otakku, hatiku rasanya sesak dan sakit. Beberapa kali kami putus namun balikan lagi karena dia berjanji akan mengubah sifatnya dan dengan pertimbangan keluarga kami. Tapi yang terjadi tetap saja begitu, dia tidak pernah bisa berubah, malah makin menjadi karena dia tahu alasanku adalah keluarga.

Setelah aku pikir baik-baik dengan kesadaran penuh, aku memutuskan untuk benar-benar mengakhiri ini semua. Aku tidak mungkin hidup dengan pria seperti dia, ini bukan tentang masalah keluarga, tapi ini tentang masa depanku, tentang siapa orang yang akan aku lihat setiap pagi aku bangun tidur sepanjang hidupku. Jika aku hidup tertekan batin pasti keluargaku juga pasti akan sedih bukan? Apalagi aku anak perempuan satu-satunya di keluargaku, sungguh pertimbangan yang berat. Tapi aku yakin, keluargaku akan menerima keputusanku dengan sangat bijaksana. Ini juga bukan tentang masalah usia yang bisa dikatakan sudah sangat pantas menikah. Tidak perlu takut dengan usia, ini tentang memantaskan diri untuk menjalankan rumah tangga.

Mengakhiri semua./Copyright shutterstock.com

Dengan susah payah aku mengakhiri hubungan denganya, dengan berbagai janjinya untuk berubah seperti biasa hingga senjata ampuhnya dengan membawa-bawa "keluarga kita sudah saling kenal" tapi aku bersikeras untuk mengakhiri semuanya. Saat itu dia terima perpisahan kami, tapi aku tahu dalam pikirannya mengira kami akan balikan lagi. Tidak, sungguh aku tanamkan dalam hatiku untuk tidak kembali padanya, cukup sudah semua ini, bukan untukku saja, untuk keluargaku juga, orangtua mana yang akan bahagia jika melihat anaknya menderita?

Percayalah untuk kehidupan masa depanmu kamu harus berani melakukan pilihan yang terbaik. Ini bukan tentang sudah berapa banyak usiamu, bukan tentang sudah berapa jauh hubungan antara keluargamu dengan keluarganya, bukan tentang sudah berapa lama usia pacaran kalian, bukan tentang perasaan orang lain. Ini tentang hidupmu, masa depanmu, harus berani menentukan pilihanmu. Lakukan yang terbaik maka kamu akan mendapatkan yang baik. Jodoh itu adalah cerminan dari dirimu dengan tetap berdoa pada Tuhan.





(vem/nda)
What's On Fimela
Loading