Sukses

Lifestyle

Menjadi Istri di Era Victoria

Seksualitas tidak hanya melulu bicara tentang hubungan seks, namun bisa juga tentang peran seseorang dalam sosial terkait dengan seks atau jenis kelaminnya. Lalu, bagaimana peranan seorang wanita setelah menikah pada zaman Victoria?

Terlansir dari laman webpage.pace.edu, sebagai seorang istri, wanita tidak hanya terkontrol oleh suaminya secara fisik(pemukulan dan pemerkosaan dianggap legal pada masa itu), anak-anak dan juga barang yang mereka bawa ke dalam rumah baru mereka juga sepenuhnya menjadi milik dan hak suami.

Oleh hukum, wanita benar-benar berada di bawah kuasa dan pengawasan suaminya. Pandangan-pandangan apapun yang diungkapkan seorang suami dianggap sebagai suatu kebenaran yang tidak boleh dibantah oleh istrinya.

Karena hal ini pula akhirnya kemudian bisa dimengerti mengapa sebagian besar wanita menganggap pernikahan adalah suatu bentuk perbudakan bagi mereka.

Masyarakat era Victoria menganggap bahwa menjadi seorang istri adalah pencapaian posisi terbaik dalam hidup seorang wanita, dan pria setuju akan hal itu dan menganggap bahwa menikah adalah kewajiban seorang wanita.

Ada satu tulisan berupa surat dari seorang pria Victoria yang ditulis untuk temannya dan bercerita mengenai kriteria istri yang sempurna adalah ibarat furnitur atau barang pelengkap di dalam rumah.

Pada kenyataanya, wanita memegang peranan yang sangat penting kala itu karena mereka mengatur kebutuhan rumah tangga beserta pembantunya, membantu menyelesaikan pekerjaan suami, mengurus anak dan mengatur keuangan.

Sedangkan pria menganggap wanita hanya sebagai makhluk emosional yang memang seharusnya diatur oleh mereka, atau yang biasa disebut ‘the Sex’ (Vickery 389). Apakah Anda setuju dengan hal ini, Ladies?

 

Oleh: Ardisa Lestari

(vem/riz)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading