Sukses

FimelaMom

Kenali 10 Cara Mengarahkan Anak pada Bakatnya Sejak Dini agar Tumbuh Percaya Diri

Fimela.com, Jakarta - Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh optimal, percaya diri, dan bahagia dengan apa yang ia lakukan. Tak sedikit pula yang berharap anak memiliki bakat tertentu, entah di bidang akademik, seni, olahraga, atau kemampuan lain yang dianggap menjanjikan di masa depan. Namun, mengarahkan anak pada bakatnya sering kali menjadi tantangan tersendiri, terutama jika dilakukan terlalu dini atau dengan cara yang kurang tepat.

Banyak orang tua masih beranggapan bahwa bakat adalah sesuatu yang sudah “dibawa sejak lahir”. Padahal, bakat tidak selalu muncul begitu saja tanpa proses. Dibutuhkan waktu, pengalaman, latihan, dan dukungan lingkungan agar potensi anak bisa berkembang maksimal. Ketika anak dipaksa menekuni sesuatu yang sebenarnya tidak ia minati, hal ini justru bisa memicu stres, menurunkan kepercayaan diri, hingga membuat anak kehilangan motivasi.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa peran utama mereka adalah sebagai pendamping, bukan penentu jalan hidup anak. Dengan pendekatan yang tepat, orang tua dapat membantu anak mengenali minatnya sendiri dan mengasahnya menjadi bakat yang bermakna. Dilansir dari Little Thinkers, berikut berbagai cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mengarahkan anak pada bakatnya tanpa tekanan berlebihan.

1. Jangan Terburu-buru dan Hindari Tekanan

Kesalahan yang kerap terjadi adalah mendaftarkan anak ke terlalu banyak kegiatan dengan harapan salah satunya “cocok”. Jadwal yang terlalu padat justru bisa membuat anak kelelahan secara fisik dan mental. Beri anak waktu untuk mencoba, mengeksplorasi, dan merasakan sendiri aktivitas yang ia sukai tanpa tuntutan harus langsung berprestasi.

2. Pahami Dunia dan Generasi Anak Saat Ini

Tidak semua anak tertarik pada kegiatan konvensional seperti melukis, menari, atau bermain alat musik. Anak zaman sekarang tumbuh di era digital yang sarat teknologi. Jika anak tertarik pada gawai, arahkan ketertarikan tersebut ke hal positif seperti coding, desain digital, atau pembuatan konten kreatif yang edukatif.

3. Ajarkan bahwa Kesalahan adalah Bagian dari Proses

Saat anak mulai mencoba suatu aktivitas, wajar jika mereka merasa frustrasi karena belum bisa langsung mahir. Orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses belajar. Dari kesalahan, anak belajar ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk mencoba lagi.

4. Bangun Hubungan Orang Tua dan Anak yang Sehat

Anak akan lebih berani mengeksplorasi minatnya jika merasa aman dan diterima. Hindari menunjukkan kekecewaan berlebihan saat anak melakukan kesalahan. Sikap orang tua yang tenang, suportif, dan penuh empati akan membuat anak merasa dihargai dan dipercaya.

5. Dorong Anak Memiliki Grit dan Ketekunan

Bakat bukan hanya soal kemampuan awal, tetapi juga tentang kemauan untuk berproses. Ajarkan anak bahwa latihan, kerja keras, dan konsistensi adalah kunci utama dalam mengembangkan keterampilan. Dengan begitu, anak belajar bahwa hasil tidak datang secara instan.

6. Terbuka pada Ide dan Aspirasi Anak

Orang tua mungkin memiliki harapan tertentu, namun anak tetaplah individu dengan minat dan impiannya sendiri. Dengarkan ide anak, meskipun terdengar berbeda dari ekspektasi kamu. Ketika anak merasa didengarkan, mereka akan lebih percaya diri dalam mengekspresikan diri.

7. Apresiasi Usaha, Bukan Sekadar Bakat Alami

Daripada memuji anak karena “pintar” atau “berbakat”, lebih baik berikan apresiasi atas usaha dan kerja kerasnya. Pujian seperti ini membantu anak memahami bahwa perkembangan datang dari proses, bukan semata-mata karena kemampuan bawaan.

8. Fokus pada Progres, Bukan Kesempurnaan

Hindari tuntutan agar anak selalu sempurna. Tekankan bahwa setiap kemajuan, sekecil apa pun, patut dihargai. Dengan begitu, anak tidak mudah menyerah dan tetap menikmati proses belajar.

9. Dorong Anak Belajar dengan Meniru Sosok Inspiratif

Meniru bukanlah hal negatif dalam proses belajar. Anak bisa belajar banyak dengan mengamati mentor, pelatih, atau tokoh yang ia kagumi. Dari sana, anak dapat memahami teknik, etika, dan semangat yang dibutuhkan untuk mengembangkan bakatnya.

10. Beri Ruang dan Saksikan Anak Berkembang

Ketika anak mulai menemukan minat dan bakatnya, berikan ruang untuk berkembang sesuai ritmenya sendiri. Orang tua cukup menjadi pendukung di belakang layar—memberi semangat, mendengarkan, dan menemani saat anak menghadapi tantangan.

Sahabat Fimela, mengembangkan bakat anak bukanlah perjalanan singkat. Dibutuhkan kesabaran, kepercayaan, dan dukungan yang konsisten dari orang tua. Dengan pendekatan yang tepat, anak tidak hanya menemukan bakatnya, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan bahagia menjalani pilihannya sendiri. 

Penulis: Siti Nur Arisha

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading