Sukses

FimelaMom

Mengenal Parenting Quiet High Five, Cara Sederhana Menumbuhkan Percaya Diri Anak

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, setiap orang tua tentu ingin melihat anak tumbuh percaya diri dan berani mencoba hal baru. Namun sering kali, tanpa sadar orangtua terlalu fokus pada hasil akhir seperti nilai bagus, juara lomba, atau pencapaian besar, hingga lupa merayakan proses kecil yang sebenarnya sangat berarti.

Dilansir dari berbagai sumber termasuk melpeirce.com, salah satu cara sederhana namun berdampak besar untuk mendukung tumbuh kembang anak adalah melalui parenting quiet high five. Sebuah bentuk apresiasi nonverbal yang hangat, sederhana, dan penuh makna.

Apa Itu Parenting Quiet High Five?

Parenting quiet high five adalah kebiasaan memberikan high five secara tulus kepada anak saat mereka berhasil melakukan sesuatu, sekecil apa pun itu. Bisa saat anak berani presentasi di kelas, mencoba mengikat tali sepatu sendiri, atau tetap berusaha meski sebelumnya gagal. Berbeda dari pujian panjang seperti, “Kamu memang pintar sekali,” quiet high five lebih menekankan pada momen kebersamaan dan perayaan bersama. 

 

 

 

 

Dampak Positif untuk Percaya Diri Anak

Anak-anak setiap hari menghadapi pengalaman baru yang bisa memicu rasa takut, cemas, atau ragu. Ketika orang tua memberikan quiet high five, anak belajar satu hal penting kalau kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi yang dihargai adalah usahanya. 

High five menjadi simbol kepercayaan. Bahkan ketika anak belum sepenuhnya percaya pada dirinya sendiri, orang tua telah lebih dulu menunjukkan keyakinan itu.

Dalam jangka panjang, kebiasaan kecil ini membantu anak untuk lebih berani saat mencoba hal baru, tidak mudah menyerah saat melakukan kesalahan, memiliki ketahanan emosional, dan merasa dihargai tanpa tekanan berlebihan. 

Cara Menerapkan Parenting Quiet High Five

Sahabat Fimela, untuk menerapkannya kamu bisa memulai dari langkah-langkah sederhana yang terasa natural dalam keseharian, seperti: 

1. Rayakan usaha, bukan hanya hasil

Fokuslah pada proses yang dilalui anak. Misalnya, ketika ia kembali mencoba mengerjakan soal yang sempat salah, berani maju ke depan kelas, atau berusaha merapikan tempat tidur sendiri. Saat itulah quiet high-five menjadi sangat bermakna. Dengan begitu, anak belajar bahwa keberanian mencoba dan ketekunan lebih penting daripada sekadar hasil sempurna.

 

 

2. Gunakan di momen spontan

Quiet high five terasa tulus ketika diberikan secara spontan. Contohnya, saat anak berhasil menuangkan minum tanpa tumpah, menyelesaikan puzzle, atau menahan diri untuk tidak marah. Momen sederhana seperti ini membantu anak merasa dilihat dan dihargai setiap hari.

3. Tambahkan kontak mata dan senyum hangat

High five bukan hanya tentang sentuhan telapak tangan. Tatapan mata yang lembut dan senyum tulus akan memperkuat pesan emosionalnya. Anak akan merasakan bahwa kamu benar-benar hadir dan terhubung secara emosional. Kehadiran inilah yang membuat anak merasa aman dan didukung.

4. Biarkan anak ikut merayakan dirinya

Setelah memberi high five, ajak anak mengucapkan afirmasi sederhana seperti, “Aku bisa!” atau “Aku sudah berusaha.” Kebiasaan ini membantu mereka membangun self talk positif sejak dini. Lama-kelamaan, anak tidak hanya menunggu validasi dari luar, tetapi juga mampu memberi apresiasi pada dirinya sendiri.

5. Gunakan sebagai bentuk dukungan saat anak ragu

Quiet high five juga bisa diberikan sebelum anak melakukan sesuatu yang membuatnya gugup. Misalnya sebelum tampil di panggung atau mengikuti ujian. High five kecil sambil berkata, “Mama percaya kamu,” dapat menjadi suntikan keberanian yang besar.

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading