Sukses

Lifestyle

Kadang Seseorang Hadir Bukan untuk Menetap, tapi Menghadiahkan Perubahan

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagan yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: icyblueaugust - Jakarta

Beberapa tahun silam, statusku masih sebagai perantau newbie di belantara metropolitan Jakarta. Statusku sebagai alumni dari sebuah fakultas dan universitas negeri yang cukup bergengsi di Jawa Tengah, tidak menjamin diriku untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang memadai. Selain itu aku juga tidak berasal dari keluarga yang berkelimpahan, sehingga angan-angan untuk melanjutkan kuliah terpaksa harus pupus karena kendala biaya. Dilengkapi dengan kepribadian pemalu, penakut, serta terlalu banyak pertimbangan, membuatku harus berpuas diri menerima pekerjaan yang tersedia saat itu walau dengan gaji yang sangat pas-pasan. Gajiku hanya cukup untuk menyewa petak kos berukuran 2x3 meter yang hanya cukup untuk berbaring dan meletakkan satu lemari saja, petak yang bahkan tidak layak disebut kamar.

Saat itulah aku berkenalan dengannya, sesama perantau yang bermimpi hendak menaklukkan Jakarta. Dipersatukan oleh keadaan, kami menjadi dekat, lalu sepakat mengikrarkan janji untuk bersama. Demi masa depan yang lebih baik, aku mulai berpikir untuk meraih karier yang lebih tinggi atau penghasilan yang lebih baik, begitu juga dirinya. Interview demi interview dia jalani, namun semuanya menguap tanpa memberikan hasil.

Ketika itu aku juga menemukan kesempatan untuk mencoba peruntungan sebagai pegawai tidak tetap (PTT) dari pemerintah, walaupun posisi yang dibutuhkan di luar Jawa. Suatu tugas yang harus diemban oleh profesiku untuk mengabdi selama minimal setahun di wilayah-wilayah yang masih jauh dari hiruk pikuk dunia modern, yang tidak pernah aku lirik sebelumnya karena terlalu menantang untuk jiwa penakutku. Namun jika kesempatan itu ternyata memberikan kesempatan hidup yang lebih baik, atau menjadi jalur untuk mempermudah seleksi pendidikan spesialis, kenapa tidak dicoba. Memikirkan masa depan kami berdua membuatku dipenuhi hasrat untuk mencoba. Biarlah aku mencoba peruntungan di pulau lain, toh cuma setahun.

Meraih Impian Lebih Besar

Masa-masa perantauan di Jakarta adalah pengalaman pertamaku untuk tinggal di kota lain, terpisah dari orang tua. Sejak lahir hingga lulus pendidikan profesi, aku tak pernah meninggalkan rumah oran tuaku. Dibanding adik-adikku yang sempat mengecap kehidupan kos dan kuliah di kota lain, aku memang paling tak mandiri. Hanya saja, ada sebersit keinginan untuk hidup sendiri, menantang diri sendiri untuk jauh dari orangua, maka itu aku bulatkan tekad mencari pekerjaan di metropolitan.

Kesempatan untuk melihat tempat lain yang jauh dari tempat tinggalku pun sedikit membangkitkan gairah, maka bersama dia aku mulai memberanikan diri untuk melamar formasi PTT tersebut. Bulan pertama, aku tidak masuk seleksi. Seleksi berikutnya, ia banyak membantuku, dari mempersiapkan semua dokumenku, mengirimkan berkasnya ke Kementerian Psat, hingga menemaniku melempar kertas undian untuk memilih kabupaten penugasan. Berita baiknya, aku lolos seleksi dan mendapatkan tugas di satu kabupaten kecil di Kalimantan Tengah.

Sebelum berangkat, perasaanku campur aduk, selain karena harus menginjak wilayah yang baru dan sangat asing, aku juga tidak memiliki kenalan ataupun sanak saudara di ana. Perasaan berat karena harus berpisah dengannya, benar-benar menguras emosiku. Tapi aku menetapkan diri untuk berangkat, dengan janji tahun depan aku akan kembali ke Jakarta.

Masa penugasanku ternyata berlangsung lancar, kadang sesuatu yang kita takutkan memang hanya bayangan belaka. Masyarakat di desa tempatku bertugas beserta semua staf menyambut baik. Aku mulai bisa menabung untuk masa depan dan sekolah. Bahkan demi menambah pundi-pundi, aku memperpanjang masa tugasku. Di masa itu hanya sekali aku ke Jakarta untuk menghilangkan rinduku akan dirinya. Malam-malamku sebelum terlelap di Kalimantan, selalu aku habiskan untuk berkisah padanya, yang dibalas dengan segala dukungannya agar aku bersabar dan selalu berorientasi pada masa depan. Dengan begitu hari demi hariku bisa kulewati dengan mulus walau dalam kesendirian di Kalimantan.

Dia Tidak Menetap

Namun hidup tidak semulus roda, apa yang kita rencanakan sering tinggal menjadi rencana saja. Bayang-bayang buyarnya masa depanku bersamanya terjadi ketika kepercayaanku padanya mulai goyah. Hidup terasing dan jauh darinya membuatku sedikit paranoid, lengkap ketika salah satu sahabatku mengaku bahwa antara dia dan kekasihku telah terjalin kedekatan, maka istana yang kubangun pun hancur berkeping-keping.

Sejak itu aku tidak bisa benar-benar percaya lagi dengannya. Pertengkaran demi pertengkaran kami lewati walau hanya lewat telepon, dan benang itu benar-benar putus setelah aku menyelesaikan penugasan dan kembali ke Jakarta. Ketika itu, aku kembali ke Jakarta untuk memulai hari baru bersamanya, namun semua pudar ketika ia justru mengakui bahwa dia hendak pulang ke kampung halaman, karena ada tawaran kerja yang lebih menarik, dan dia juga melarangku untuk mengikutinya.

Sejak itu jalinan mimpi kita berdua berakhir, dia pulang ke kotanya, menetap dan tak kembali lagi. Kami tak pernah berhubungan lagi sejak itu, kudengar, dia sudah menikah dan memiliki dua anak. Aku sendiri? Dengan kekuatan tersisa, modal pengalaman dan sedikit keberanian yang sudah berkembang karena berani menantang diriku sendiri untuknya, akhirnya diterima kerja di salah satu lembaga penelitian.

Kehidupanku jauh lebih baik dari dulu, aku berhasil menyelesaikan sekolah pasca sarjanaku, dan mendapatkan laki-laki lain yang mendampingiku hingga sekarang. Tapi tak kupungkiri, kebersamaanku dengannya-lah yang memupuk keberanianku untuk keluar dari zona nyamanku, dan menerima tantangan baru demi masa depan yang lebih baik. Mungkin jika tak bertemu dengannya aku tetap menjadi pegawai kantoran dengan pekerjaan membosankan serta gaji kecil di Jakarta karena tak berani melangkah keluar dari zona nyaman. Mungkin Tuhan mengizinkannya masuk ke dalam hidupku untuk menerangi persimpangan jalan yang tadinya tidak nampak, sehingga aku mengambil jalan yang tepat. Terima kasih untukmu, walau mungkin kau tak membaca kisah ini.

#GrowFearless with FIMELA

What's On Fimela
Loading