Sukses

Lifestyle

Merantau demi Menghidupi Adik-Adik, Memenuhi Pesan Terakhir Ibu Tercinta

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Fuatuttaqwiyah El-adiba

Pelukan ibu 15 tahun lalu di salah satu stasiun kereta api itu masih kurasa. Kalimat terakhir itu terus terngiang di telinga. “Mbak, titip adik-adik.” Ibu mengucapkan kalimat itu dengan lembut. Aku tidak kuasa menjawab selain mempererat pelukanku.

Hingga kini aku masih tidak percaya ibu sudah tidak ada. Harum aroma perempuan yang melahirkanku itu masih bisa kuhidu. Ibu, rasanya baru kemarin kubersimpuh di kakimu. Rasanya belum lama kutidur di pangkuanmu.

Kehilangan Ibu adalah Kesedihan Terbesar

Ketika mengunjungi makam ibu, kesedihan kutahan di dada. Air bening yang mau keluar, sebisa mungkin kuseka. Namun, lagi-lagi aku menyerah. Aku masih menangis setiap ingat ibu. Aku merasa belum bisa membahagiakan beliau.

Di depan adik-adik, kuperlihatkan ketegaran yang luar biasa. Entah dari mana kekuatan itu muncul. Begitu juga ketika bertemu para tamu yang takziah. Hingga hari ketujuh masih banyak yang mengunjungi rumahku. Aku senang ibu dikenal sebagai pribadi yang baik dan mempunyai teman banyak. Aku bersyukur dikelilingi tetangga dan keluarga yang mengurus pemakaman ibu hingga acara tahlilan.

Bangkit dan Melanjutkan Hidup

Sepeninggal ibu, aku memang mengalami kedukaan. Namun, aku harus tetap berjuang memberikan pendidikan yang terbaik buat adik-adik. Amanah ibu harus kutunaikan agar beban di hatiku berkurang.

Aku tetap meneruskan pekerjaan di perantauan. Kutahan rindu kepada adik-adik demi memberikan bekal hidup layak kepada mereka. Adik bungsu kutitipkan kepada adik tertua dan nenek. Adik yang masih kuliah kuminta tetap melanjutkan kuliah.

Kuniatkan hidupku untuk membiayai adik-adik. Untuk soal ini, aku sudah tidak memikirkan diriku lagi. Bagiku adik-adik lebih penting. Kutahan semua keinginan dan nafsu belanja. Apalagi makan makanan enak. Aku tidak mau hidup enak di perantauan sementara adik-adikku kelaparan.

Ada satu masa aku ingin menyerah ketika adik-adikku berulah. Terkadang aku ingin menangis bila mengingat semua yang telah kulakukan. Namun, lagi-lagi kutahan diri. Sebisa mungkin aku tidak memarahi adik-adik karena mereka juga sedih dengan ketiadaan ibu.

Aku bahagia ketika satu per satu adik-adikku lulus sekolah. Mereka sudah hidup bahagia dengan keluarga masing-masing. Aku juga menikmati kebahagiaan dengan keluarga kecilku. Amanah ibu sudah kutunaikan dan itu yang kusampaikan setiap mengunjungi makam ibu. Doa pun masih terus kupanjatkan untuk ibu selesai salat fardu. Kuyakin ibu pasti tersenyum bahagia di sana.

#ChangeMaker

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading