Sukses

Lifestyle

Sebuah Perjalanan yang Mengubah Pola Pikirku soal Pernikahan

 

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: M

Setiap mahasiswa semester akhir pasti ada kalanya sering merasa lelah saat mendapat tugas dari dosen. Hal tersebut membuat mereka berpikir untuk menikah saja. Banyak dari kalangan mahasiswa yang sering menyebutkan, “Udahlah aku mau nikah aja,” termasuk diriku. Di saat lelah melanda aku selalu berpikir lebih baik menikah saja. “Di mana jodohku, Tuhan? Aku ingin menikah saja. Aku sudah lelah dengan tugas-tugas dosen yang tidak ada habisnya.” Hal itu terus ku ucapkan semenjak aku memasuki semester-semester akhir perkuliahanku.

Namun suatu hari kebetulan aku mendapat tugas penelitian ke daerah terpencil. Aku merupakan mahasiswa psikologi di salah satu universitas swasta. Kami diberi kesempatan oleh dosen untuk mengunjungi salah satu daerah terpencil di Sumatra Utara di mana di daerah tersebut banyak ditemui kasus kekerasan dalam rumah tangga dan pernikahan dini.

Saat baru memasuki desa tersebut aku melihat begitu banyak pakaian bayi tergantung di depan rumah warganya. Hampir semua seperti itu. Banyak kutemui perempuan-perempuan yang masih di usia sekolah namun sudah memiliki anak.

Menurut dari cerita mereka, ternyata mereka tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Hal tersebut yang pertama disebabkan oleh jauhnya akses untuk menuju sekolah, dan yang kedua karena faktor ekonomi. Banyak dari mereka yang ingin melanjutkan namun terkendala oleh hal tersebut sehingga membuat mereka mau tidak mau akhirnya menikah saja. Menikah di usia yang masih tergolong muda membuat mental mereka belum stabil sehingga sering terjadi percekcokan dalam rumah tangga yang berujung kekerasan dalam rumah tangga.

Menikah Butuh Kesiapan Mental

Setelah pulang dari sana aku pun mulai berpikir, apakah menikah selama ini segampang seperti apa yang kupikirkan? Di saat aku lelah menghadapi tugas yang diberikan dosen aku langsung ingin menikah saja padahal sebenarnya tugas yang diberikan dosen tidak ada apa-apanya dibandingkan permasalahan yang ada didalam rumah tangga.

Aku berpikir, aku yang belum sanggup menghadapi tugas yang diberikan oleh dosenku bagaimana aku akan menghadapi masalah di dalam rumah tangga? Ditambah lagi di zaman sekarang banyak perceraian-perceraian yang diakibatkan mental yang belum siap untuk membina rumah tangga.

Dari situ aku mulai berpikir ternyata menikah tidak segampang yang aku pikirkan. Butuh mental yang benar-benar siap untuk menghadapi permasalahan rumah tangga. Aku juga lebih bersyukur mendapatkan kesempatan untuk belajar ke jenjang yang lebih tinggi tidak seharusnya gampang menyerah seperti itu. Banyak orang di luar sana yang menginginkan berada di posisiku.

Untuk mahasiswa-mahasiswa semester akhir, aku harap kita jangan cepat putus asa terkhususnya para wanita. Untuk wanita-wanita di luar sana yang belum mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi, jangan menyerah dan berkecil hati, karena belajar tidak harus selalu didapatkan dari sekolah. Banyak hal yang bisa didapatkan dari pengalaman-pengalaman hidup. Seperti aku yang justru mendapat pelajaran hidup dari lingkungan dan dari pengalamanku sehingga mampu mengubah pola pikirku.

#ElevateWomen

PLAYLIST VIDEO 27 JULI 2021
Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories My Trip Story
Artikel Selanjutnya
Indahnya Toleransi di Selandia Baru: Ada Sebuah Pengalaman yang Berkesan Untukku