Sukses

Lifestyle

Tanda Seseorang adalah Jodohmu, Perasaan Ini akan Hadir di Hatimu

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Dina Septy Prisca

Umurku 35 tahun pada Juni 2021 saat kami mengikat janji suci di hadapan Tuhan dan semua yang hadir di momen bahagia itu. Sepatu kets yang terpasang di kakiku dalam ball gown besar memanjang membuat aku lebih mudah berjalan dengan mantap menggandeng dia yang menjadi pilihan hatiku saat memasuki altar pemberkatan nikah.

Mungkin ada orang yang melihat di usiaku sekarang sangat matang bahkan lambat menemukan jodoh. Aku selalu menanggapi dengan santai karena yang kuyakini bahwa segala sesuatu memang sudah digariskan di waktu yang tepat.

Impian untuk berumah tangga sekali seumur hidup dan banyaknya kejadian di sekitarku membuat aku sangat berhati-hati dalam menetukan siapa pendamping hidupku. Ditambah lagi dengan umurku yang matang dan memiliki sahabat yang seirama denganku (sama-sama berusia matang dan belum menemukan jodohnya) membuat sifatku menjadi mandiri bahkan sempat berpikir mungkinkah aku ditakdirkan hidup sendiri?

Menikah di Waktu yang Paling Tepat

Aku bertemu dengannya di awal 2019 di saat aku hampir menyerah dengan berbagai macam pria dengan kisahnya yang kurasa seperti drama cinta yang melelahkan. Ada terbersit rasa trauma dan enggan untuk membuka hati di saat dia masuk ke kehidupanku. Namun usaha gigih yang dia tunjukkan dan sifatnya yang apa adanya ternyata perlahan meluluhkan hatiku.

Ya, kuakui sifat mandiriku ini membuat aku tidak semata-mata melihat materi, penampilan atau hal standar lain yang dibutuhkan untuk meluluhkan hati seorang wanita pada umumnya. Ada hal yang lebih dari itu dan dia memiliki hal tersebut. Yes, ketulusan. Itu dia. Hal yang selama ini belum kudapat dari pria manapun juga yang menghampiri hidupku. Dan anehnya kami memiliki banyak sekali kesamaan sifat dan tentunya cara pandang dan tujuan hidup yang membuat hubungan kami merasa semakin yakin satu sama lain.

Bukan hubungan namanya jika tidak ada kerikil didalamnya. Kami sempat mengalami “sedikit” penolakan dari orang tua. Dengan latar belakang suku dan organisasi keagamaan dengan prinsip-prinsipnya yang berbeda membuat orang tua kami mungkin seperti berusaha meyakinkan kami sekali lagi apakah kami yakin dengan hubungan ini.

Umur yang terpaut 3 tahun di mana aku lebih tua dari dia mungkin sedikit disayangkan oleh orang tua dan saudara-saudara kami. Selama satu tahun kami menjalani pergolakan tersebut dan anehnya ada saja kebaikan di dalamnya dan segala proses yang kami jalani terasa sangat lancar dan dimudahkan.

Hingga restu itu sepenuhnya kami terima dan akhirnya melangsungkan pertunangan di Maret 2020. Di situ aku ingat kata-kata orang bahwa salah satu tanda dia adalah jodohmu, kamu akan merasa yakin dan semua jalan akan terasa dilancarkan. Lucu bila memikirkan namun ternyata aku benar-benar mengalami hal tersebut.

Selama kurang lebih satu tahun bertunangan dan melakukan persiapan pernikahan di tengah-tengah pandemi covid-19 tentu banyak tantangannya. Mengingat kami sama-sama memiliki keluarga besar dan saling berjauhan, serta status kami sebagai anak yang berkerja jauh dari rumah membuat persiapan ini terasa cukup menguras pikiran dan materi.

Aku dibantu dengan papa mama memilih vendor-vendor pernikahan sendiri karena acara kami tidak menggunakan wedding organizer. Namun khusus untuk makeup dan gaun aku benar-benar memilih sendiri. Bahkan aku sudah memilih MUA dan gaun tersebut 6 bulan sebelum acara pernikahan.

Aku ingat saat pertama kali melihat gaun tersebut aku bisa membayangkan betapa cantiknya aku nanti, membuat rasa lelah saat mendapatkan gaun tersebut terbayarkan di mana aku harus memesan gaun tersebut di luar kota sehingga fitting dan koreksi gaun membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar. Aku pun tak lupa memesan wedding heels putih yang akan mempercantik diriku nanti.

Mungkin menjadi salah satu cobaan dalam persiapan pernikahan bahwa kami menjadi lebih sering bertengkar. Hal-hal kecil bisa menjadi besar mengingat tekanan yang kami alami. Belum lagi dengan konflik-konflik kecil keluarga yang aku maklumi hal tersebut karna aku berpikir bahwasanya tiap-tiap orang memiliki selera dan pikirannya yang berbeda.

Selain itu jujur aku sempat dihantui akan ketakutan terhadap kesiapan materi. Namun ajaib semua biaya tercukupi, bahkan aku sempat iseng-iseng menghitung anggaran dan realisasi biaya pernikahan waktu itu, dan betapa aku tertegun biaya yang dikeluarkan ternyata di atas yang kami anggarkan sebelumnya. Lagi-lagi tak henti-hentinya aku bersyukur kepada-Nya, dan satu hal yang kuyakini hingga sekarang bahwa segala sesuatu akan indah dan tepat pada waktunya.

The Kets Bride

Tibalah di saat yang ditunggu-tunggu di hari H kami akan melangsungkan pemberkatan nikah, malamnya benar-benar aku tidak bisa tidur. Walau aku menutup mata ini namun pikiranku terus mengusik. Ya, aku bahagia sekaligus deg-degan.

Aku seperti bermimpi bahwa diriku yang kupikir akan hidup sendiri terus akhirnya akan menikah dengan seseorang yang aku cintai dan yakini sebagai pemimpin rumah tangga kami. Pagi itu sesaat sebelum dia datang ke rumahku, aku sudah siap dengan ball gown panjang putih berhiaskan veil manis di kepala dan heels di kakiku.

Para bridesmaid cilik dengan keranjang bunga di tangannya mulai berjalan melangkah didepanku. Namun entah mengapa saat mau melangkah aku merasa harus mengganti heels dengan sepatu kets andalanku. Bagaimanapun cantiknya riasan dan gaun yang kukenakan, pribadiku yang santai layaknya sepatu kets ternyata tidak bisa dihilangkan.

Ya, aku memilih memakai sepatu kets agar lebih mudah bergerak. Heels yang sudah kusiapkan ternyata akhirnya hanya sebagai pelengkap properti fotograpfer mengabadikan momen pernikahan kami. 

Akhirnya dia datang dengan setelan jas hitam bersama keluarganya dengan membawa buket bunga edelweis berhiaskan bunga putih ke rumahku, dan kami bersama-sama menuju ke gereja. Ketika di dalam mobil pengantin menuju gereja aku sempat berbisik, “Sayang, aku lagi pakai kets loh ini, heels yang kemarin enggak kupakai,” bisikku. Sempat agak kaget namun dia hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala diikuti aku yang ikut tertawa menghiasi susasana bahagia dalam mobil pengantin saat itu.

Akhirnya tiba di gereja kami melangkah dengan mantap masuk menuju altar, senyum yang selalu mengembang tanda bahagia kami di hari itu. Suasana bahagia plus haru tatkala kami saling mengucap janji suci di hadapan Tuhan dan seluruh keluarga yang hadir.

Tetesan air mata bahagia terselip dalam doa-doa orang tua tatkala kami sujud memohon restu. Kehadiran dan ucapan selamat berbahagia tertumpah sebagai bukti restu dari semua yang merasakan kebahagiaan kami, baik dari para undangan yang hadir ataupun secara online dikarenakan kami tidak bisa mengundang semuanya demi mematuhi protokol kesehatan. Semua acara berjalan dengan khidmat, lancar dan tentunya akan kami ingat selalu momen bahagia ini dalam hidup kami. 

Akhirnya aku sudah resmi sebagai istri dari seseorang yang aku cintai. Hingga aku menulis kisah ini kami masih belajar dan berdoa semoga rumah tangga ini bisa menjadi berkah bagi kami berdua. Dan satu hal yang bisa aku petik, selama niat kita baik, semua akan datang tepat dan indah pada waktunya.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading

Live Streaming

Powered by