Sukses

Lifestyle

Andai Waktu Bisa Diputar, Ingin Aku Kembali ke Masa Kecilku

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh:  Suci Ramadanti

Masa kecil adalah masa–masa yang paling indah untuk dikenang, apalagi masa kecilku belum mengenal yang namanya gadget, online game, dsb. Sebagai seoarang anak yang lahir di tahun 2000 aku selalu merasa bersyukur karena masa kecilku tidak dihabiskan dengan bermain gadget. Masa–masa yang akan selalu aku rindukan.

Ada cerita yang paling membekas di hatiku, ketika aku dan kedua sepupu perempuanku bermain. Aku adalah anak yang lahir dan besar di kampung, jadi mainnya pun tidak jauh dari kebun dan sawah. Aku dan kedua sepupuku berniat untuk mengambil cokelat di kebun yang lumayan jauh dari rumah, kami berencana sambil menghabiskan waktu libur sambil bermain ke kebun coklat. Ngomong-ngomong kebun coklatnya milik orang ya. kebun ini bukan milik perorangan jadi siapa pun boleh mengambil buahnya.

Perjalanan menuju ke kebun cokelat adalah kami harus melewati kuburan, sawah, ladang singkong, dan turunan yang lumayan terjal. Nah, ketika kami sampai di kebun cokelat udaranya masih sangat asri membuat kami serasa sedang menyegarkan otak kami. Sejuk, sepi, dan tenang. Di situ kami mulai menelusuri kira–kira pohon mana yang buahnya sudah matang. Di sana ada penggembala kambing tapi kami tidak tahu penggembalanya ke mana. Kami hanya melihat kambing–kambing yang sedang memakan rumput.

Dikejar-kejar Kambing

Kami bertiga mencari dan menemukan ada coklat yang sudah matang, kami pun mengambilnya namun banyak sekali semut membuat kami agak kesusahan. Setelah mendapatkannya kami bertiga merasa ada sesuatu yang aneh, dan ternyata entah kenapa ada satu kambing yang melihat terus kearah kami.

Kami pun bersikap masa bodoh dan melanjutkan perjalanan untuk mencari cokelat yang sudah matang. Namun tiba–tiba aku sangat penasaran untuk menengok kebelakang dan ternyata kambing itu sedang berlari ke arah kami. Aku panik dan langsung berteriak, “Lariiiiiiiiiiiiiii.”

Kedua sepupuku kaget dan bingung ada apa, lalu mereka menengok ke belakang ternyata kambing yang tadi memang mengejar kami. Di situ kami bertiga langsung lari tanpa memikirkan jalanan yang banyak rumput lebat. Di saat kami bertiga sedang lari kami terus menengok ke belekang untuk memastikan apakah masih dikejar atau tidak ternyata masih dan karena tidak memperhatikan jalan kami terperosok ke sebuah lubang yang tertutupi daun kering, ya memang di kebun ini banyak lubang bekas pohon yang sudah ditebang.

Kami bertiga masuk kedalam lubang tersebut dan untungnya kambing tersebut berhenti mengejar kami karena kehilangan jejak kami mungkin haha. Kami bertiga mengintip sedikit – sedikit dan menghela napas lega karena sudah tidak dikejar lagi.

Di situ kami bertiga saling pandang lalu tertawa karena mengingat tindakan konyol kami. Lalu kami pun naik ke atas lagi dengan saling membantu. Lubangnya tidak terlalu dalam jadi kami bisa naik dengan mudah, coklat yang kami sudah ambil pun entah ke mana, mungkin sudah kubuang karena saking paniknya berlalri.

Itulah cerita paling mengesankan sewaktu aku kecil, sebenarnya banyak kenangan yang seru. Ada ketika SD pulang sekolah dikejar anjing, ada yang pulang sekolah parno kalo ada mobil Jeep disangka penculik, lalu bermain di gardu listrik mencari undur–undur sambil memetik buah jeruk milik orang.

Ya, itu cerita masa kecil paling menyenangkan yang akan selalu aku ingat. And if I could turn back time, I want to go back to my happy childhood. Terima kasih sudah berkenan membaca momen masa kecilku.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Tanpa Bertatap Muka, Kemeriahan HUT RI Tetap Bisa Dirayakan dengan Lomba Ini
Artikel Selanjutnya
Grup Alumni adalah Tempat Menjalin Hubungan Baik, bukan Ajang Perdebatan