Sukses

Lifestyle

Tentang Cinderella dan Sepatu Kaca, Ini yang Kupahami Dulu dan Kini

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Ika Susanti

Seperti anak perempuan pada umumnya, masa kecil saya sangat suka dengan segala cerita yang bertema putri-putrian. Dan tokoh favorit saya di waktu kecil adalah Putri Cinderella.

Entah mengapa saya suka sekali dengan kisah putri yang satu ini dengan sepatu kacanya. Putri yang nasibnya kurang beruntung pada awalnya, tapi hidup bahagia pada akhirnya. Saking sukanya, saya pun sempat berpikir, bila saya baik hati seperti Cinderella maka Ibu Peri akan melindungi saya, dan nantinya saya akan bertemu dengan seorang pangeran tampan yang menaiki kereta kencana. Hahaha, sungguh konyol... tapi itulah pemikiran anak-anak, tidak ada batasan salah atau benar dalam imajinasinya.

Menyukai Kisah Cinderella Sejak Kecil

Saya mengenal kisah Putri Cinderella sebelum duduk di bangku TK, ketika saya mulai belajar membaca di usia 4 tahun. Saat itu kisah haru biru putri yang satu ini sudah mulai populer di tanah air.

Sekitar tahun 1979 beredar album Kisah Cinderella dari Ira Maya Sopha artis kenamaan pada saat itu.  Kebetulan sejak kecil  saya hobi menyanyi, jadi lagu-lagunya pun saya hafal hingga saat ini. Munculnya album tersebut diikuti tren baju anak perempuan pada saat itu. Gaun Putri Cinderella dengan model bertumpuk atau rok lebar hingga berbentuk payung bila dipakai berputar. Ditambah lagi dengan asesoris rambut bando atau jepit bunga-bunga dan tiara, serta tak lupa sepatu kaca.

Ya, sepatu kaca. Sepatu yang sebenarnya terbuat dari bahan plastik berwarna bening dengan hiasan bling-bling. Bahagianya saya ketika ibu membuatkan saya baju Cinderella yang cantik, hasil jahitan ibu sendiri. Dan lebih bahagia lagi, saat bapak membelikan saya sepatu kaca, sebagai kejutan sepulang kerja.

Maka saya pun mulai bergaya, menyanyikan lagu-lagu Kisah Cinderella sambil berputar-putar seperti balerina. Memakai baju Cinderella kesukaan saya dan sepatu kaca yang sudah lama saya inginkan. Hampir setiap hari seperti itu,  bahkan saya menangis saat ibu ingin mencuci bajunya. Dan puncaknya, terjadi peristiwa naas yang membuat saya kapok.

Hari itu entah bagaimana saya bisa bergaya di atas dudukan beton teras rumah, seakan-akan sedang menyanyi di atas panggung. Dari ketinggian sekitar 50 cm kecelakaan itu terjadi. Saya terpeleset sepatu kaca, jatuh terjerembab, atau lebih tepatnya nyungsep di teras rumah.

Karena saya jatuh tepat di bagian muka, akibatnya  kening hingga dagu saya terluka. Baju dan sepatu kaca kesayangan saya pun sobek. Duh sakitnya. Sejak saat itu saya sudah tidak berminat lagi bergaya dengan sepatu kaca. Pengalaman terpeleset dan nyungsep benar-benar membuat saya jera.

Kisah Cinderella pada umumnya melibatkan peran ibu tiri dan dua putrinya yang bernama Drunela dan Barbeta. Kejahatan mereka  dimulai setelah ayah Cinderella meninggal dunia. Mereka menjadikan Cinderella sebagai Upik Abu, pembantu tanpa bayaran di rumahnya sendiri. Diberi nama Upik Abu, karena mukanya yang hitam, penuh dengan jelaga dapur. Mereka iri dengan kecantikan Cinderella dan ingin membuatnya terlihat buruk rupa.

Hingga suatu hari Sang Pangeran mengundang gadis-gadis di seluruh negeri menghadiri pesta dansa di Istana, untuk mencari calon permaisuri. Undangan itu tak terkecuali ditujukan pada Drunela, Barbeta dan Cinderella. 

"Pengumunan penting, dengar hei dengar, kabar gembira bagi kita semua, undangan pesta istimewa, tua muda, miskin kaya, pangeran kan mencari, calon permaisuri." Demikian lirik lagu dari para punggawa istana, yang berkeliling negeri menyampaikan pengumuman.

Tapi sayang, karena keculasan Drunela dan Barbeta, Cinderella gagal pergi ke pesta dansa.  Mereka tak ingin Sang Pangeran bertemu Cinderella, dan kemudian jatuh cinta karena kecantikannya.

Saat Cinderella merasa putus asa, datanglah Ibu Peri membantunya. 

"Cinderella sayang, aku telah datang, jangan kau berduka, serta putus asa," nyanyian Ibu Peri yang dengan kesaktiannya, merubah buah semangka (ada juga versi yang menggunakan buah labu) dan tikus-tikus menjadi kereta kencana, baju pesta dan sepatu kaca untuk Cinderella.

Saya masih ingat bagaimana tikus-tikus itu menyanyi dan menari, sambil menyiapkan baju yang indah untuk Sang Putri. "Kerja kerja mari kita kerja, gunting jahit, jadikan gaun, gaun indah menarik untuk putri yang cantik."

Dan berangkatlah Cinderella menuju istana Sang Pangeran. Ibu Peri mengingatkan agar Cinderella pulang sebelum pukul dua belas malam. Karena lewat waktu itu mantranya akan hilang, buah semangka atau buah labu dan tikus-tikus akan kembali ke bentuk aslinya.

Bertemulah Sang Pangeran dengan Cinderella yang seketika terpesona dengan kecantikannya. Tapi sayang sebelum sempat berkenalan lebih jauh, Cinderella meninggalkannya dengan terburu-buru, karena ingat pesan Ibu Peri untuk pulang sebelum pukul dua belas malam.

Dalam kondisi terburu-buru itulah, salah satu sepatu kaca Cinderella tertinggal di Istana. Sang Pangeran yang sudah telanjur jatuh cinta pada pandangan pertama, berniat mencari Cinderella ke seluruh negeri dengan sepatu kacanya.

Setelah gagal menemukan si pemilik sepatu kaca di seluruh negeri, sampailah rombongan Sang Pangeran di rumah Cinderella. Dengan culasnya Drunela dan Barbeta mengaku sepatu kaca itu miliknya.

Dan saat sepatu kaca itu dipaksakan untuk dicoba, tikus-tikus pun bernyanyi mentertawakan ulah mereka, "Hahahahaha hihihihihi sepatu kekecilan hahahahaha hihihihihi jarinya kesakitan." Hingga bertemulah sepatu kaca dengan si pemilik aslinya. Dan akhirnya Cinderella hidup bahagia bersama Sang Pangeran di Istana.

Memahami Kisah Cinderella dari Sudut Pandang Berbeda

Kisah Putri Cinderella yang paling membuat saya terkesan setelah dewasa adalah versi Walt Disney tahun 2015 yang diperankan Lily James. "Lavender blue, dilly-dilly Lavender green, If you were king, dilly-dilly, You'd need a queen." Lagu merdu ini dinyanyikan Sang Putri di  jendela ruangan tempatnya dikurung dan terdengar oleh Sang Pangeran, yang kemudian datang menolongnya.

Gaun Lily James saat bertemu Sang Pangeran di pesta dansa sungguh membuat saya terkesima. Gaun warna biru itu begitu indah seperti ombak biru di lautan. Cinderella dan Sang Pangeran terlihat sangat serasi dan berdansa dengan begitu  apik. Keren sekali. Saya pikir inilah versi film Cinderella yang terbaik yang pernah ada.

Walaupun saya sangat suka dengan kisah Cinderella hingga dewasa, tapi perspektif saya tentang sosok Putri Cinderella telah berubah. Hidup mengajarkan saya untuk berjuang meraih kesuksesan. Baik hati dan cantik saja tidak cukup, bila akhirnya melemahkan semangat kita untuk berjuang.

Sebagai perempuan kita harus berjuang dan pintar, dan itulah yang saya ajarkan kepada putri saya. Jangan hanya mengharapkan keajaiban seperti hadirnya Ibu Peri, tapi berusahalah untuk merubah nasib menjadi lebih baik dengan usaha dan doa. Termasuk dalam urusan jodoh, Sang Pangeran tidak harus sosok charming, yang hadir dengan kereta kencana. Cinta akan datang pada waktunya, dengan cara yang tidak terduga. Dan saya bersyukur telah menemukannya, tanpa harus menjadi seorang Putri Cinderella. 

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading