Sukses

Lifestyle

Kisah Pria Yatim Piatu Berusia 17 Tahun dari Papua Menggapai Cita-Cita Jadi Polisi

Fimela.com, Jakarta Keadaan bukan menjadi masalah ketika kita ingin meraih cita-cita agar tidak hanya menjadi impian semata. Kerja keras menjadi hal yang lumrah dilakukan untuk menggapainya.

Pantang menyerah menjadi salah satu kunci agar kita berhasil menjalani hidup ini. Menggapai cita-cita tanpa ragu pun dilakukan Polisi asal Papua, Gasper Mirin.

Melansir akun Instagram @divisihumaspolri, salah satu anggota polir menceritakan bagaimana Gasper berjuang menjadi anggota kepolisian dengan kondisi keluarga yang tidak mendukung secara ekonomi.

Gasper kini baru berusia 17 tahun, namun karena tekatnya yang kuat ia berhasil menjalani pendidikan di SPN Polda Sumatera Utara.

Seorang yatim piatu

Gasper sehari-hari tinggal bersama neneknya. Hal ini dikarenakan ia telah menjadi yatim piatu sejak kecil, bahkan tidak ingat lagi usia berapa orangtuanya telah tiada.

"Orang tua kamu meninggal umur berapa?" tanya salah satu Polisi senior.

"Tidak tahu," jawabnya.

"Masih kecil?" kembali si senior bertanya.

"Iya," jawab Gasper.

Meski terhalang biaya, namun ia tetap semangat ingin menjadi seorang Polisi. keberuntungan pun menghampirinya, ia bertemu seorang Polwan yang membantu kesulitannya tersebut.

"Ia sempat terhalang biaya untuk berangkat ke jaya pura, hingga akhirnya dibantu oleh seorang Polwan," bunyi keterangan dalam video.

Sempat tidak percaya diri, kini Gasper Mirin sukses menjadi polisi.

"Sempat merasa tidak percaya diri bahwa ia mampu, namun berkat dukungan orang terdekat dan berkat Tuhan, ia mampu meraih cita-citanya menjadi anggota Polri dan menjalankan pendidikan SPN Polda Sumut hingga 5 bulan ke depan. Tetap semangat dan berdoa, semoga cerita Gasper Mirin dapat memotivasi kita semua dalam mengejar mimpi," tutup akun TikTok yang mengunggah kisah Gasper.

#elevate women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
10 Fakta Soal Varian COVID-19 dari Afrika Selatan yang Punya Mutasi Tinggi
Artikel Selanjutnya
Menurut Laporan PBB, Pandemi Covid-19 Perparah Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan