Sukses

Lifestyle

Tiga Sosok Ibu dalam Hidupku dan Harapanku setelah Menikah

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh: Rosalina Tri Septi Wulandari

Setiap manusia, hidup dan dibesarkan dengan cinta oleh orang tuanya. Kasih sayang melimpah ruah yang kuterima membuatku selalu ingin mencintai. Aku adalah anak yang paling bahagia karena aku dibesarkan oleh ibu-ibu hebat yaitu ibu kandung dan ibu pengasuh.

Ibu kandungku, ia sosok yang hebat karena tetap berjuang dalam pergumulannya, dalam gejolak hatinya dan dalam imannya untuk bisa membawaku menjadi bagian dari semesta. Dari bayi hingga usia dua tahun, aku masih tinggal dengan ibu kandungku.

Pengalaman yang begitu membekas dalam hati di masa kecilku adalah ketika ibu mengajari aku untuk menyayangi kucing. Aku merasa sejak saat itulah hatiku mulai belajar menyayangi makhluk hidup lain. Ibu mana yang ingin berpisah dengan anak semata wayangnya? Tentu di dalam hatinya yang terdalam, ibuku ingin selalu bersamaku. Namun, ibu merelakan aku tinggal di sebuah lembaga pengasuhan anak di sebuah kota di Jawa Tengah.

Ibu Kandung dan Ibu Pengasuh

Mulanya aku tak mengerti maksud ibu menitipkan aku di tempat seperti itu.  Terpisah jarak kurang lebih 90 km tidak membuat hubungan kami terputus. Ibu selalu rajin mengirimkan surat padaku dan setahun sekali saat aku ulang tahun ibu selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungiku.

Baru saat SMA, aku memberanikan diri untuk pulang ke kampung halaman. Kepulanganku ke kampung halaman inilah yang membuka jalan pikiranku dan menyadarkan aku betapa cintanya yang tak terbatas untukku. Aku mulai menyadari bahwa ibuku ingin aku mendapatkan kehidupan yang layak seperti anak-anak lain. Tepat di usia 55 tahun ibuku berpulang kepada Sang Khalik.

Aku memiliki dua ibu pengasuhku. Ibu pengasuh yang pertama merawatku sejak usia 2 tahun hingga kelas 3 SMA. Kenangan yang paling membekas bersama beliau adalah ketika aku marah dan berselisih paham dengannya, ibu mengingatkanku dengan berkata, “Ingat ibu kandungmu, jangan sampai kamu di sini tidak jadi anak baik!” Kata-kata itu begitu membekas dalam pikiranku hingga saat ini. Setiap ibu memiliki caranya masing-masing untuk mendidik aku.

Ibu pengasuhku yang kedua selalu menyediakan waktu buatku bercerita mengenai kegiatan yang kujalani di kampus. Beliau juga memberikan nasihat dengan cara yang lembut kepadaku. Hal itu membuatku terbiasa jujur dan terbuka kepada ibu mengenai masalah yang kuhadapi.

Aku sendiri mengakui ini bukan proses yang mudah dan singkat bagi ibu-ibu pengasuh untuk mendidik anak-anak dengan beragam latar belakang dan karakter. Meski tak terlahir dari rahim mereka namun, mereka berkenan menerimaku menjadi anaknya adalah suatu anugerah yang istimewa.

Keinginan Menjadi Ibu

Saat ini aku sudah bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Jakarta. Semangat mencintai dengan tulus yang telah diwariskan oleh ibu-ibuku yang hebat adalah hal yang sangat menginspirasi aku dalam menjalani pekerjaanku.

Puji Tuhan, aku juga sudah dipinang oleh seorang laki-laki yang sangat mencintai, menghormati dan menghargai aku apa adanya. Setelah menikah tentu sering ditanya mengenai kehamilan dan rencana memiliki anak. Pertanyaan ini sesekali membuatku merenung dan menjadi khawatir jika tidak bisa memiliki anak.

Pada saat seperti itu aku teringat kehadiran ibu pengasuh dalam kehidupanku yang sudah memberikan contoh menjadi ibu tanpa ikatan darah. Hal itu membuatku menyadari bahwa untuk menjadi ibu tidak harus melahirkan seorang anak dari rahimnya sendiri.

Untukmu sahabatku, janganlah takut jika saat ini kalian masih belum memiliki anak, kamu tetap bisa menjadi ibu bagi orang lain dan alam sekitarmu. Tetap semangat, Tuhan memberkati.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Menghadapi Pandemi Tak Mudah, tapi Bisa Bertahan Hingga Saat Ini Sudah Luar Biasa
Artikel Selanjutnya
4 Cara Menata Diri dan Hati saat Pandemi Belum Berakhir