Sukses

Lifestyle

Kisah Changpeng Zhao, CEO Binance yang Pernah Kerja di Pom Bensin hingga Jual Rumah Kini Masuk Daftar Orang Terkaya Dunia

Fimela.com, Jakarta Sosok Changpeng Zhao menjadi sorotan dunia saat ini. CEO Binance, salah satu bursa mata uang kripto terbesar di dunia itu berhasil masuk ke jajaran orang terkaya di dunia.

Dilansir Fortune, Changpeng Zhao memiliki kekayaan bersih menyaingi jumlah yang dikumpulkan miliarder teknologi seperti Elon Musk, Bill Gates dan Mark Zuckerberg. Kekayaan bersihnya mencapai USD96 miliar atau Rp1,3 triliun. Hal itu menempatkannya sebagai orang terkaya ke-11 di dunia.

Sementara Bill Gates menempati urutan keempat sebagai orang terkaya di dunia dengan kekayaan bersih USD135 miliar atau Rp1,8 triliun. Di bawah Gates ada Mark Zuckerberg, orang terkaya kelima di dunia dengan harta USD124 miliar atau Rp1,7 triliun

Kekayaan Zhao diperkirakan bisa jauh lebih besar, karena perhitungan kekayaan tidak termasuk dengan kepemilikan kripto pribadinya yang mencakup Bitcoin dan token perusahaannya sendiri.

Perjalanan Zhao untuk mencapai kesuksesan ini tentu tidaklah mudah. Bahkan ia sempat menjual rumahnya untuk mendapatkan bitcoin dan memulai usahanya.  Lantas seperti apa perjalanan Zhao hingga menjadi orang terkaya di dunia? berikut selengkapnya.

 

Pernah Bekerja di McDonalds dan Pom Bensin

Zhao lahir di Jiangsu, China. Kedua orangtuanya merupakan pendidik dengan ayahnya yang merupakan seorang profesor. Ia kerap dicap sebagai “intelek pro-borjuis” dan diasingkan tak lama setelah Zhao lahir. Keluarga itu akhirnya bermigrasi ke Vancouver, Kanada, pada akhir 1980-an.

Dilansir Forbes, ketika Zhao beranjak remaja, ia bekerja paruh waktu di McDonald’s dan bekerja shift malam di pom bensin untuk menutupi pengeluaran keluarganya. Meski bekerja di dua tempat sekaligus, Zhao tetap berkuliah.

Dia kuliah di jurusan ilmu komputer di Universitas McGill Montreal sebelum pindah ke Tokyo dan bekerja di Bursa Efek Tokyo. Zhao kemudian pindah ke New York dan bekerja di Bloomberg Tradebook untuk mengembangkan perangkat lunak perdagangan berjangka.

Berkat keahliannya di bidang coding komputer, di usia 27 tahun, Zhao mendapat tiga kali promosi jabatan dalam kurun waktu dua tahun untuk mengelola tim di New Jersey, London, dan Tokyo.

Namun Zhao menyadari kalau dirinya lebih dari sekedar anak berbakat di perusahaan tempatnya bekerja. Hingga akhirnya dI tahun 2005,  Zhao memutuskan resign dan pindah ke Shanghai untuk memulai Fusion Systems, sebuah perusahaan yang dikenal membangun sistem perdagangan frekuensi tinggi tercepat untuk broker.

Awal Mula Terjun ke Dunia Bitcoin

Di tahun 2013, Zhao mulai belajar tentang kripto bitcoin dari seorang pemodal yang ditemuinya. Saat itu, ia sempat terpental dari proyek kripto terkemuka.

Zhao pun bergabung dengan Blockchain.info, sebagai anggota ketiga dari tim dompet mata uang kripto. Di sana, Zhao dipercaya sebagai kepala pengembangan selama delapan bulan dan bekerja bersama orang-orang top seperti Roger Ver dan Ben Reeves.

Zhao juga bekerja di OKCoin, sebuah platform untuk perdagangan spot antara fiat dan aset digital sebagai chief technology officer selama kurang dari satu tahun. Untuk belajar dan bertransaksi ini, Zhao harus merelakan apartemennya di Shanghai pada tahun 2014 lalu. Hal ini dilakukannya demi mendapatkan semua Bitcoin.

Dari situ, barulah dia mempertimbangkan untuk membuat bursa pertukaran aset digital miliknya sendiri. Hingga pada 2017 lalu, Zhao mendirikan Binance Exchange, bursa pertukaran kripto.

Hanya dalam waktu tujuh bulan setelah didirikan, perusahaan yang didirikan sudah menjadi bursa pertukaran kripto terbesar di dunia. Binance yang dikembangkan dari sebuah ruang sempit mampu menjadi mata uang digital yang populer dalam waktu 180 hari.

Binance kini mampu memproses 1,4 juta transaksi saat ramai dan berhasil menarik 6 juta pengguna per detik. Forbes mendeskripsikan Zhao sebagai persilangan antara Mark Zuckerberg dan Steve Jobs. Ini dikarenakan penampilan yang sederhana dan santai hanya menggunakan hoodie hitam dan kacamata bak kutu buku.

 

#Women for Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Prediksi Performa Cuan Aset Crypto di 2022, Jenis Apa yang Paling Menguntungkan?
Artikel Selanjutnya
Waspada Investasi Bodong, Ini Cerita Miris Kripto yang Buat Warga Australia Rugi Rp 1 Triliun