Sukses

Lifestyle

Makna Wijikan atau Ranupada pada Upacara Pernikahan Kaesang dan Erina

Fimela.com, Jakarta Pada hari ini, Minggu 10 Desember, telah resmi menikah Kaesang pangerep dan Erina Gudono. Setelah acara akad nikah berjalan lancar, prosesi pernikahan dilanjutkan dengan temu manten. Ada banyak rangkaian upacara atau tradisi yang dilakukan dalam temu manten ini, salah satunya adalah ranupada atau wijikan.

Makna tradisi ranupada atau wijikan

Prosesi pernikahan berupa Wijikan ini diyakini secara sejarah berasal dari keraton. Zaman dahulu hanya keluarga keraton atau kerajaan Jawa khususnya Yogjakarta saja yang melakukan ritual Wijikan, namun seiring berjalannya waktu, budaya ini menyebar ke seluruh masyarakat sehingga hingga kini menjadi prosesi adat budaya pernikahan khas Yogjakarta.

Wijikan juga punya bahasa lain yang dikenal dengan nama Ranupada. Istilah Ranupada berasal dari kata 'ranu' yang berarti air dan 'pada' yang berarti membasuh kaki. Tradisi upacara wijikan sendiri memiliki makna filosofis yang baik, yaitu balti istri kepada suami serta perlindungan suami kepada istri.

Filosofi tradisi ranupada atau wijikan

Pada prosesi ini mempelai perempuan akan membasuh kaki mempelai pria. Air wijikan umumnya disiapkan dengan mencampur air dengan bunga setaman. Prosesi ini melambangkan pengakuan istri bahwa suami adalah imam atau pemimpin bagi keluarga, atau bakti perempuan kepada suami.

Pembasuhan kaki ini juga dimaknai sebagai penggugur perbedaan dan halangan dalam pernikahan sehingga kedua suami-istri bisa membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia. Pembasuhan kaki ini juga menunjukkan rasa hormat dan bakti istri kepada suami karena suami telah menerima amanah dari wali istri atau mempelai perempuan.

Prosesi ranupada atau wijikan

Dalam pelaksanaannya, tradisi Wijikan dimulai dengan memasukkan kedua kaki calon suami ke dalam kotak persegi panjang yang di dalamnya sudah diberi irisan daun pandan serta campuran bunga mawar dan melati. Sang istri kemudian membasuh kaki calon suami dengan air bunga setaman sebanyak tiga kali.

Setelah dibasuh tiga kali, istri akan mengelap kaki suami lalu suami membantu istri untuk bangkit atau berdiri. Sikap ini juga dimaknai sebagai perlindungan suami kepada istrinya kelak. Setelah itu keduanya akan berjalan kembali ke pelaminan.

Itu dia makna tradisi upacara wijikan dari rangkaian pernikahan adat Yogjakarta yang bisa kita lihat dari prosesi pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono.

#Women for Women

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading