Sukses

Lifestyle

Merasa Bersalah Saat Istirahat? Mungkin Kamu Terjebak Toxic Productivity

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, siapa di antara kita yang merasa bersalah kalau tidak “produktif”? Rasanya waktu yang tidak dipakai untuk bekerja harus diisi dengan hal bermanfaat seperti mempelajari skill baru, beres-beres rumah, atau bahkan mengerjakan side project. Kalau kamu sering merasa bersalah hanya karena beristirahat, mungkin kamu sedang terjebak dalam toxic productivity.

Mengutip dari asana.com, 40% pekerja percaya bahwa burnout adalah harga yang harus dibayar untuk sukses. Padahal, apabila hal ini dilakukan secara terus-menerus dan memaksakan diri untuk produktif secara terus menerus, hal ini dapat merusak kesehatan fisik dan mental. Yuk, kenali tanda-tandanya dan temukan cara memutus siklus toxic productivity

Apa Itu Toxic Productivity?

Toxic productivity adalah dorongan untuk selalu produktif, tidak hanya di pekerjaan tapi di semua aspek hidup. Akhirnya, kita jadi merasa semua kegiatan harus punya tujuan, bahkan waktu santai pun harus “bermanfaat”.

Masalahnya, siklus ini menguras energi, menghilangkan kebahagiaan dari aktivitas sehari-hari, dan dalam jangka panjang bisa memicu burnout, depresi, bahkan masalah kesehatan serius.

 

 

Apa Penyebab Toxic Productivity?

Budaya modern sering mengagungkan hustle culture, yaitu budaya yang mendorong individu untuk bekerja keras, cepat, dan tanpa henti demi mencapai kesuksesan dan produktivitas dan seringkali mengorbankan istirahat seperti contohnya mulai dari tweet Elon Musk tentang kerja 80 jam seminggu, hingga konten influencer yang memamerkan “productive morning routine”.

Tak heran, apabila banyak orang yang merasa bersalah setelah melihat konten tersebut. Selain itu, toxic productivity juga sering muncul saat kita menghadapi ketidakpastian. Bekerja ekstra memberi kita rasa kontrol dan sedikit “dopamine hit”.

Tanda-Tanda Kamu Terjebak dalam Toxic Productivity

Toxic productivity sulit dikenali karena sedikit produktivitas itu sehat. Namun, tanda-tanda ini dapat menjadi bukti bahwa kamu sudah terjebak dalam toxic productivity. 

  • Sering lembur bukan karena tuntutan pekerjaan, tapi karena ingin “menyelesaikan lebih banyak”.
  • Merasa bersalah saat istirahat, bahkan ketika sudah menyelesaikan pekerjaan yang wajar.
  • Menolak aktivitas tanpa tujuan, seperti nongkrong santai atau sekadar jalan sore.
  • Mengabaikan perawatan diri, sampai lupa makan, minum, atau istirahat demi kerja.
  • Mengalami kecemasan atau depresi, merasa tidak cukup produktif meski sudah bekerja keras.

Jika tanda-tanda ini terasa familiar, saatnya dirimu untuk tarik napas dan evaluasi ulang atas semua yang sudah kamu lakukan selama ini. 

 

 

Cara Memutus Siklus Toxic Productivity

Apabila kamu sudah merasakan bahwa kamu mengalami toxic productivity, kamu dapat mengatasinya dengan langkah sederhana namun konsisten dibawah ini. 

1. Tetapkan Batasan Waktu Kerja

Buat jam mulai dan selesai kerja yang jelas. Hindari membuka email atau chat kerja di luar jam tersebut.

2. Buat Target Realistis

Gunakan metode SMART Goals (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Time-bound) supaya kamu tidak memforsir diri mengejar standar yang tidak masuk akal.

3. Prioritaskan Waktu Istirahat

Jadwalkan waktu santai di kalender seperti kamu menjadwalkan rapat. Nikmati hobi, meditasi, atau sekadar rebahan tanpa rasa bersalah.

4. Batasi Paparan Konten Pemicu FOMO

Kurangi konsumsi media sosial yang membuatmu membandingkan diri dengan orang lain.

5. Dengarkan Tubuh dan Pikiran

Perhatikan tanda-tanda kelelahan. Jika tubuh meminta istirahat, berhentilah sejenak. Rayakan Kecil-KecilanApresiasi dirimu setiap kali berhasil menyelesaikan sesuatu, sekecil apa pun.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading