Fimela.com, Jakarta - Kecerdasan emosional, atau yang sering disebut EQ (Emotional Quotient) atau EI (Emotional Intelligence), merupakan kemampuan esensial dalam menyadari serta mengelola emosi dan perilaku diri sendiri, sekaligus cara kita berinteraksi dengan orang lain. Definisi ini disampaikan oleh Avondale University. Mengukur kemampuan ini memang tidak mudah, sehingga menentukan perilaku yang dapat meningkatkan EQ kita menjadi tantangan tersendiri.
Namun, Daniel Goleman, seorang psikolog dan penulis yang mempopulerkan konsep kecerdasan emosional pada tahun 1990-an, mengidentifikasi lima pilar utama yang menjadi fondasinya, seperti dilansir dari Best Life Online. Pilar-pilar tersebut meliputi kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial.
Dengan secara konsisten mempraktikkan kebiasaan yang mendukung pengembangan di setiap area ini, Anda dapat secara efektif meningkatkan kecerdasan emosional Anda dan mulai merasakan berbagai manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut 9 kebiasaan yang menunjukkan kecerdasan emosional dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana dilansir fimela.com dari berbagai sumber, Jumat (30/7/2026).
Advertisement
Advertisement
1. Selalu Berpikir Positif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4536618/original/086191200_1691980067-woman-smiling-with-coffee-laptop_1_.jpg)
Masih melansir laman Avondale University, salah satu kebiasaan yang menunjukkan kecerdasan emosional adalah selalu berpikir positif. Orang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung mampu melihat sisi baik dari sebuah situasi, bahkan ketika menghadapi tantangan, sehingga mereka tidak mudah terjebak dalam emosi negatif yang berlarut-larut.
Cara pandang ini bukan berarti mengabaikan masalah yang ada, melainkan memilih untuk fokus pada solusi dan pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian. Dengan pola pikir semacam ini, seseorang juga cenderung lebih tangguh dalam menghadapi tekanan dan lebih cepat bangkit setelah mengalami kegagalan atau kekecewaan.
2. Menjaga Kesehatan Fisik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226571/original/048198700_1747743823-steptodown.com375466.jpg)
Chris Rabanera, LMFT, seorang psikoterapis dan pendiri The Base EQ, sebuah layanan terapi online dan konseling kesehatan mental sebagaimana dilansir dari laman Best Life Online, mengatakan bahwa kebiasaan seperti makan makanan bergizi, berolahraga secara teratur, dan tidur yang cukup cenderung menjadi prioritas utama bagi orang-orang dengan kecerdasan emosional (EI) yang tinggi.
Kondisi fisik yang terjaga membuat seseorang lebih siap mengelola emosinya dalam berbagai situasi, karena tubuh yang lelah atau kurang istirahat cenderung membuat emosi lebih mudah tersulut. Selain itu, olahraga rutin juga dikenal dapat membantu melepaskan hormon yang berpengaruh positif terhadap suasana hati. Dengan menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental, seseorang menjadi lebih mampu berpikir jernih sebelum merespons suatu keadaan.
Advertisement
3. Mengajukan Pertanyaan-pertanyaan Sulit kepada Diri Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5111884/original/063852100_1738068911-Wanita_pemberani.jpg)
Orang dengan kecerdasan emosional tinggi terbiasa melakukan refleksi diri secara jujur, termasuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang motivasi, kesalahan, atau pola perilaku mereka sendiri. Kebiasaan ini membantu mereka memahami akar dari sebuah reaksi emosional, bukan hanya bereaksi begitu saja tanpa mengetahui penyebabnya.
Dengan bertanya pada diri sendiri mengapa suatu situasi memicu perasaan tertentu, mereka dapat mengenali pola yang berulang dan mencari cara untuk meresponsnya dengan lebih baik di masa depan. Proses introspeksi semacam ini juga membantu seseorang tumbuh secara personal, karena ia tidak hanya menyalahkan keadaan eksternal, tetapi juga bersedia melihat ke dalam dirinya sendiri.
4. Menerima Ketidaknyamanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4943301/original/089957100_1726156937-christina-wocintechchat-com-eF7HN40WbAQ-unsplash.jpg)
Di tengah perjalanan mengembangkan kecerdasan emosional, seseorang perlu belajar menerima ketidaknyamanan sebagai bagian dari proses bertumbuh. Alih-alih menghindari situasi yang memicu rasa cemas atau canggung, mereka memilih untuk menghadapinya dengan kepala dingin dan menjadikannya pelajaran berharga.
Sikap ini membuat mereka lebih siap menghadapi percakapan sulit, konflik, atau perubahan yang tidak nyaman tanpa harus lari dari kenyataan. Semakin sering seseorang berlatih menerima ketidaknyamanan, semakin besar pula kapasitas emosionalnya dalam menghadapi tantangan hidup yang lebih besar di kemudian hari.
Advertisement
5. Jadi Pendengar yang Baik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261754/original/087741000_1750686285-young-lesbian-lgbtq-women-couple-using-mobile-phone-home.jpg)
Menjadi pendengar yang baik merupakan salah satu tanda kecerdasan emosional yang paling mudah dikenali. Orang dengan EQ tinggi tidak hanya mendengar kata-kata yang diucapkan lawan bicara, tetapi juga berusaha memahami perasaan dan maksud di baliknya sebelum memberikan respons.
Mereka cenderung memberikan perhatian penuh saat berkomunikasi, tanpa terburu-buru memotong pembicaraan atau memikirkan jawaban sebelum lawan bicara selesai berbicara. Kebiasaan mendengarkan secara aktif ini pada akhirnya membangun rasa percaya dan kedekatan yang lebih dalam pada setiap hubungan yang dijalani.
6. Mampu Mengelola Stres dengan Baik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5182905/original/085305400_1744111601-charming-young-woman-massive-earrings-bright-sweater-chats-phone-while-sitting-cafe-cup-coffee_197531-16890.jpg)
Kemampuan mengelola stres menjadi salah satu bentuk nyata dari pengaturan diri, salah satu pilar utama kecerdasan emosional. Alih-alih membiarkan tekanan menguasai suasana hati, mereka memiliki cara-cara sehat untuk menenangkan diri, seperti mengambil jeda sejenak sebelum merespons sesuatu.
Mereka juga cenderung mengenali tanda-tanda awal stres pada dirinya sendiri, sehingga bisa segera mengambil langkah untuk meredakannya sebelum berdampak pada orang lain di sekitarnya. Dengan begitu, mereka tetap mampu berpikir rasional dan membuat keputusan yang baik meski berada di bawah tekanan.
Advertisement
7. Bersikap Empati terhadap Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4717897/original/046756200_1705410794-Ilustrasi_ngobrol__nongkrong__kumpul_bareng_teman.jpg)
Empati menjadi salah satu pilar penting dalam kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman. Kebiasaan menempatkan diri pada posisi orang lain, memahami perasaan mereka, dan merespons dengan penuh pengertian menjadi ciri khas seseorang dengan kecerdasan emosional yang matang.
Mereka cenderung peka terhadap perubahan suasana hati orang di sekitarnya, bahkan tanpa perlu diucapkan secara langsung. Kepekaan semacam ini membuat mereka lebih mudah membangun hubungan yang hangat dan saling mendukung, baik dalam lingkup keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan.
8. Terbuka terhadap Kritik dan Umpan Balik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3459186/original/027332200_1621386353-brooke-cagle-g1Kr4Ozfoac-unsplash_Fotor.jpg)
Seseorang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung tidak defensif ketika menerima kritik atau umpan balik dari orang lain. Mereka mampu memisahkan antara kritik terhadap perilaku dan kritik terhadap diri secara utuh, sehingga bisa menerimanya sebagai bahan evaluasi tanpa merasa terserang.
Sikap terbuka ini memungkinkan mereka untuk terus belajar dan memperbaiki diri, alih-alih larut dalam sikap defensif yang justru menghambat perkembangan. Selain itu, kemampuan menerima kritik dengan lapang dada juga membuat orang lain merasa lebih nyaman untuk bersikap jujur kepada mereka.
Advertisement
9. Mampu Mengontrol Reaksi Emosional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325355/original/077961300_1755962747-cheerful-asian-young-women-sitting-cafe-drinking-coffee-with-friends-talking-together_11zon.jpg)
Kebiasaan terakhir yang menunjukkan kecerdasan emosional adalah kemampuan mengontrol reaksi emosional sebelum bertindak. Alih-alih langsung meluapkan amarah atau kekecewaan, mereka meluangkan waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu, sehingga respons yang diberikan lebih terukur dan tidak menyesatkan hubungan dengan orang lain.
Mereka juga menyadari bahwa reaksi yang diambil secara impulsif sering kali menimbulkan penyesalan di kemudian hari, sehingga lebih memilih untuk berpikir sebelum bertindak. Dengan mengontrol reaksi emosional secara konsisten, mereka mampu menjaga hubungan tetap sehat sekaligus mempertahankan reputasi diri sebagai pribadi yang dapat diandalkan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan yang Menunjukkan Kecerdasan Emosional
1. Apa itu kecerdasan emosional?
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk menyadari dan mengelola emosi serta perilaku diri sendiri, juga hubungan dengan orang lain.
2. Siapa yang mempopulerkan konsep kecerdasan emosional?
Daniel Goleman, penulis dan psikolog, yang mempopulerkan konsep kecerdasan emosional pada tahun 1990-an.
3. Apa saja lima pilar utama kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman?
Lima pilar tersebut adalah kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial.
4. Apa kebiasaan sederhana yang menunjukkan kecerdasan emosional tinggi?
Beberapa contohnya adalah berpikir positif, menjaga kesehatan fisik, dan menjadi pendengar yang baik.
5. Mengapa menerima kritik dianggap sebagai tanda kecerdasan emosional?
Karena orang dengan kecerdasan emosional tinggi mampu memisahkan kritik terhadap perilaku dari kritik terhadap dirinya secara utuh, sehingga dapat menerimanya sebagai bahan evaluasi tanpa merasa terserang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4815430/original/054716400_1714295793-pexels-olly-864994.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5062079/original/6532800_1734927727-asian-japanese-family-has-breakfast-home-asian-mom-daughter-happy-talking-together-while-eating-bread-drink-orange-juice-corn-flakes-cereal-milk-table-modern-kitchen-morning__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4711820/original/091390600_1704881029-pexels-mikhail-nilov-9158760.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4563380/original/025747500_1693878357-woman-giving-stack-gifts-her-surprised-boyfriend_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226606/original/088493900_1747746025-steptodown.com775526.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3342223/original/068413700_1609962210-WhatsApp_Image_2021-01-06_at_3.13.42_PM.jpeg)
![Aktivitas seni mengasah kreativitas anak Anda. [Dok/Pexels.com/RDNE Stock project].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/sYRo04pdq3jyVEYK1TRLHwhCotw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6211232/original/000151300_1779089269-pexels-rdne-7605918.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260534/original/047578000_1781600279-pexels-silverkblack-23224898.jpg)
![Penting bagi orangtua untuk menciptakan pengalaman liburan sekolah yang lebih interaktif agar anak tetap antusias selama perjalanan.[Dok/freepik.com/bearfotos]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/GSPzTjjXeOt4Hp6uEmaK-AJcRQI=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5694836/original/038786000_1778572235-5189.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7756548/original/097066400_1780565583-pexels-pixabay-39691_2.jpg)
![Staycation yang dikemas secara kreatif akan memperkuat ikatan emosional bersama anak. [Dok/Pexels.com/Micah Eleazar].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/jfrAvSsGA_Vx6yc0_1deRA3GU5Y=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7737925/original/016472200_1780544463-pexels-micahways-10498601.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5256412/original/010386300_1750236587-sensual-photo-cute-little-girl-people-walks-outside-woman-brown-coat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293366/original/017821600_1783695315-DSC09836.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562566/original/083037000_1776832876-2148454494.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9168686/original/052028100_1783089795-SnapInsta.to_731390804_18633683221028089_4612980540689131065_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111127/original/006590700_1783059947-WhatsApp_Image_2026-07-03_at_13.21.44__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537481/original/061504900_1774424944-pexels-polina-tankilevitch-3735155.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6928406/original/044133000_1779698635-young-activists-preparing-action.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2972913/original/082767900_1574245378-josh-applegate-p_KJvKVsH14-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2944946/original/016947600_1571646509-thiago-cerqueira-Wr3HGvx_RSM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4038631/original/060126900_1653984049-humphrey-muleba-xy3iffqI4L0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5384323/original/033026900_1760768424-IMG-20251018-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521169/original/060978200_1772682613-young-woman-looking-concerned-class.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542533/original/032149900_1774946379-smiley-family-high-five.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309743/original/016101200_1785247031-IMG-20260728-WA0030.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311655/original/009410900_1785414694-66310.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7690732/original/073927900_1780488072-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292890/original/041047500_1783663722-jam5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311456/original/033786300_1785402807-Kapolri_dan_Jaksa_Agung_duduk_bersebelahan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302187/original/020726000_1784536360-Screenshot_2026-07-20_at_15.30.41.jpg)
![Menolak ajakan nongkrong bukan berarti kamu teman yang buruk. Ketahui cara menyampaikannya dengan sopan tanpa menimbulkan rasa canggung. [Dok/Pexels.com/SHVETS production].](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/u0zxucD4riuZB0UKwi2Nd07Aoik=/260x125/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309078/original/028465200_1785218360-pexels-shvets-production-7516245.jpg)
![Sering merasa kewalahan dengan berbagai urusan yang menumpuk? Life admin day bisa menjadi solusi untuk membuat keseharianmu lebih terorganisir. [Dok/Pexels.com/RDNE Stock project].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/nsX83NlM7iPdPP1RHMd5Q58VVfk=/80x80/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309040/original/037573200_1785216945-pexels-rdne-7888650.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309167/original/085145000_1785220201-Depositphotos_876033008_L.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309358/original/052181100_1785225631-pexels-shvetsa-4587695.jpg)