Sukses

Lifestyle

Mengenal Money Scripts, Naskah Bawah Sadar yang Membentuk Cara Kita Mengelola Uang

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa ada orang yang senang menabung, sementara yang lain justru merasa uang harus segera digunakan? Ada pula yang selalu takut mengeluarkan uang meski sebenarnya mampu, atau merasa membeli sesuatu menjadi cara untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Perbedaan tersebut ternyata tidak selalu soal jumlah penghasilan, tetapi juga bisa berkaitan dengan cara mengelola uang dan bagaimana seseorang memandang finansial sejak kecil.

Dilansir dari Psychology Today, money scripts merupakan keyakinan atau asumsi tentang uang yang biasanya terbentuk sejak masa kanak-kanak dan dapat diikuti secara tidak sadar hingga dewasa. Cara orangtua berbicara tentang uang, pengalaman keluarga, hingga kejadian tertentu yang berkaitan dengan finansial dapat ikut membentuk pola tersebut dan memengaruhi cara mengelola uang ketika seseorang beranjak dewasa.

Sederhananya, money scripts bisa dianggap seperti “naskah” yang memengaruhi cara seseorang memandang uang. Naskah ini dapat muncul dalam berbagai keputusan sehari-hari, mulai dari menabung, berbelanja, menggunakan kartu kredit, hingga menentukan apakah seseorang nyaman membicarakan kondisi keuangannya.

Misalnya, seseorang yang sejak kecil sering mendengar bahwa uang harus selalu dihemat mungkin tumbuh menjadi pribadi yang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uang. Sebaliknya, seseorang yang terbiasa melihat uang sebagai simbol keberhasilan bisa memiliki dorongan lebih besar untuk membeli barang tertentu demi menunjukkan pencapaian. Pola ini kemudian dapat memengaruhi cara mengelola uang dan mengambil keputusan finansial sehari-hari.

Kenali Empat Pola Money Scripts yang Umum

Money scripts tidak hanya berbentuk satu pola. Dalam konsep yang dikembangkan oleh financial psychologist, terdapat beberapa kategori yang menggambarkan cara seseorang memandang dan memperlakukan uang.

Pertama adalah money avoidance. Orang dengan pola ini cenderung menghindari atau merasa tidak nyaman ketika harus berurusan dengan uang. Membuka rekening, membuat anggaran, atau membicarakan kondisi finansial bisa terasa melelahkan. Ada pula keyakinan bahwa uang adalah sesuatu yang buruk atau dapat membawa masalah.

Kedua, money worship. Pola ini membuat seseorang melihat uang sebagai sesuatu yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan. Memiliki lebih banyak uang dianggap akan membuat hidup lebih bahagia, aman, atau memuaskan. Akibatnya, seseorang bisa terus mengejar uang tanpa merasa benar-benar cukup.

Berikutnya adalah money status. Dalam pola ini, uang dan barang yang dimiliki dapat dikaitkan dengan nilai diri atau status sosial. Seseorang mungkin merasa perlu membeli barang tertentu agar terlihat sukses atau mampu mengikuti standar lingkungan sekitarnya.

Terakhir, ada money vigilance. Orang dengan pola ini cenderung berhati-hati terhadap uang, memperhatikan pengeluaran, dan lebih fokus pada keamanan finansial. Kebiasaan menabung dan memikirkan masa depan dapat menjadi bagian dari pola tersebut.

Tidak ada satu kategori yang harus dianggap sebagai “kepribadian” tetap. Seseorang juga bisa menunjukkan lebih dari satu pola dalam situasi yang berbeda.

Misalnya, seseorang bisa sangat rajin menabung untuk kebutuhan masa depan tetapi tetap melakukan pembelian impulsif ketika sedang stres. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan seseorang dengan uang bisa cukup kompleks.

Yang terpenting bukan menentukan label mana yang paling tepat, tetapi mulai memperhatikan kebiasaan dan pikiran yang muncul ketika berhadapan dengan uang.

 

Cara Mengenali Money Scripts dalam Diri

Setelah mengetahui apa itu money scripts, langkah berikutnya adalah melihat bagaimana pola tersebut muncul dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu langsung mengubah semua kebiasaan finansial. Mulailah dengan memperhatikan respons diri ketika berhadapan dengan uang.

Coba tanyakan pada diri sendiri: Apa yang saya rasakan ketika harus mengeluarkan uang? Apakah merasa bersalah, takut, senang, atau justru tidak terlalu memikirkannya? Perasaan tersebut dapat menjadi petunjuk tentang keyakinan yang selama ini dimiliki.

Kemudian, perhatikan kalimat yang sering muncul di kepala. Misalnya, “Saya harus selalu punya uang,” “Orang kaya pasti serakah,” atau “Kalau punya uang lebih banyak, semua masalah akan selesai.” Kalimat-kalimat sederhana seperti ini bisa menunjukkan bagaimana kita memaknai uang.

Kita juga dapat mengingat kembali bagaimana uang dibicarakan ketika masih kecil. Apakah orangtua sering membicarakan pengeluaran? Apakah uang dianggap sebagai sesuatu yang sulit didapat? Atau justru menjadi simbol keberhasilan? Pengalaman tersebut mungkin ikut membentuk cara kita mengambil keputusan finansial saat ini.

Setelah menemukan pola tersebut, coba tanyakan lagi: Apakah keyakinan ini masih relevan dengan kondisi saya sekarang? Sebab, keyakinan yang terbentuk ketika masih kecil belum tentu sesuai dengan kehidupan yang dijalani saat dewasa.

Jika selama ini selalu takut menggunakan uang, misalnya, bukan berarti harus langsung menjadi boros. Kita bisa mulai mencari titik tengah dengan membuat anggaran yang tetap memberikan ruang untuk menikmati hasil kerja.

Begitu juga jika terbiasa membeli sesuatu untuk merasa lebih bahagia. Kita bisa mulai membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan pembelian yang hanya dilakukan karena emosi.

Karena hubungan yang sehat dengan uang bukan hanya tentang berapa banyak yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami, menggunakan, dan mengambil keputusan tentangnya.

Penulis: Revania Immanula

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading