Sukses

Lifestyle

8 Kebiasaan yang Menunjukkan Seseorang Memiliki Self Esteem Rendah

Fimela.com, Jakarta - Halo Sahabat Fimela! Sadar atau tidak, terkadang kita sering merasa kurang percaya diri saat menghadapi berbagai situasi baru di kehidupan sehari-hari. Perasaan ragu atau minder ini wajar saja terjadi pada siapa pun, namun jika berlarut-larut dan mendominasi pikiran, bisa jadi itu adalah tanda kamu memiliki self esteem rendah. Mengabaikan kondisi ini sama saja dengan membiarkan potensi luar biasa di dalam dirimu terkubur oleh ketakutan yang sebenarnya tidak berdasar.

Sering kali, banyak dari kita yang melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil setiap hari tanpa menyadari bahwa hal tersebut mencerminkan betapa rapuhnya penghargaan terhadap diri sendiri. Kebiasaan ini terkadang keliru dianggap sebagai bentuk kerendahan hati atau sikap mengalah, padahal secara psikologis, tindakan-tindakan tersebut justru diam-diam menggerogoti rasa percaya diri dan kesehatan mentalmu dari dalam.

Sangat penting bagi kita, para perempuan tangguh, untuk mulai peka terhadap sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh pikiran dan tubuh kita sendiri. Oleh karena itu, mari bedah bersama apa saja kebiasaan sehari-hari yang menjadi indikator bahwa kamu mungkin butuh lebih banyak cinta untuk dirimu sendiri, dirangkum Fimela.com dari berbagai sumber pada Rabu (9/9/2026).

1. Terlalu Sering Meminta Maaf (Over-apologizing)

Sahabat Fimela, pernahkah kamu meminta maaf untuk hal-hal yang sebenarnya di luar kendalimu atau bahkan bukan kesalahanmu? Seseorang yang kurang menghargai dirinya sendiri cenderung selalu merasa bahwa keberadaannya merepotkan atau menjadi beban bagi orang lain. Akibatnya, kata "maaf" terucap secara refleks dan menjadi tameng otomatis dalam setiap interaksi.

Kebiasaan over-apologizing ini tidak hanya membuatmu terkesan tidak yakin di mata orang lain, tetapi juga secara perlahan meyakinkan alam bawah sadarmu bahwa kamu selalu dalam posisi yang salah. Mulailah berlatih memutar narasi ini dengan mengganti kata "maaf" menjadi ungkapan apresiasi, misalnya dari ucapan "maaf saya banyak bertanya" menjadi "terima kasih banyak atas kesabarannya menjelaskan hal ini padaku."

2. Sulit Menerima Pujian dengan Tulus

Mendapatkan pujian dari rekan kerja atau pasangan seharusnya membuat hati berbunga-bunga, namun bagi mereka yang sedang berjuang dengan harga diri, pujian justru sering kali terasa canggung. Mereka umumnya menolak pujian tersebut dengan respons merendah, seperti mengatakan, "Ah, ini cuma kebetulan saja," atau "Biasa saja kok, semua orang juga bisa melakukannya."

Sikap menolak ini muncul karena pandangan negatif di dalam kepala mereka tidak sejalan dengan validasi positif yang datang dari luar. Alih-alih merasa tidak pantas dan menyangkalnya, cobalah untuk sekadar tersenyum tulus dan mengucapkan terima kasih saat seseorang mengapresiasi usahamu. Percayalah pada mereka, kamu memang sehebat itu dan pantas mendapatkannya.

3. Menjadi "People Pleaser" Tanpa Batas

Selalu ingin menyenangkan orang lain atau people pleasing adalah salah satu ciri paling nyata dari krisis penghargaan diri. Orang dengan kebiasaan ini rela mengorbankan waktu, energi mental, bahkan kenyamanannya sendiri hanya demi memastikan orang lain tidak merasa kecewa atau marah kepadanya.

Sayangnya, berusaha memastikan kebahagiaan semua orang sembari mengabaikan kebutuhan dirimu sendiri hanya akan berujung pada kelelahan emosional yang ekstrem (burnout). Ingatlah bahwa menolak permintaan yang memberatkan dengan kata "tidak" adalah hak personalmu, dan menerapkan batasan yang sehat sama sekali tidak membuatmu menjadi sosok yang egois.

4. Menghindari Kontak Mata Saat Berbicara

Mata sering disebut sebagai jendela jiwa, dan dari tatapan mata kita bisa melihat seberapa besar keyakinan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang merasa tidak aman atau rendah diri sering kali kesulitan menahan kontak mata dengan lawan bicaranya, sehingga mereka lebih memilih untuk menunduk atau mengalihkan pandangan ke arah lain.

Menghindari kontak mata secara konstan sering kali menjadi mekanisme pertahanan diri untuk menyembunyikan perasaan takut dihakimi atau dievaluasi oleh orang lain. Cobalah untuk perlahan melatih mempertahankan kontak mata dalam obrolan santai; selain memancarkan aura percaya diri yang anggun, ini juga menunjukkan bahwa kamu menghargai dan hadir sepenuhnya bagi lawan bicaramu.

5. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Di era media sosial yang serba estetis dan gemerlap ini, sangat mudah bagi kita untuk tergelincir ke dalam lubang perbandingan. Namun, jika kamu terus-menerus mengukur kesuksesan, kecantikan, bentuk tubuh, atau pencapaianmu berdasarkan standar orang lain di internet, itu adalah sinyal bahaya bagi ketenangan batinmu.

Menganggap rumput tetangga selalu lebih hijau hanya akan mendistorsi realitas dan membuatmu lupa untuk bersyukur atas keistimewaan yang kamu miliki. Sadarilah bahwa setiap orang memiliki tantangan, garis waktu, dan jalan hidupnya masing-masing, jadi fokuslah untuk merayakan kemenangan-kemenangan kecil dalam proses perkembangan dirimu sendiri.

6. Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri (Self-Deprecation)

Menggunakan candaan yang merendahkan diri sendiri (self-deprecating humor) memang kadang terasa ampuh untuk memecah kecanggungan atau mencairkan suasana. Namun, jika kebiasaan ini dilakukan secara terus-menerus dan menjadi gaya komunikasi utamamu, hal ini justru memproyeksikan keyakinan di alam bawah sadar bahwa kamu memang merasa tidak berharga.

Kritik internal yang terlampau kejam ini akan menggerus rasa cintamu pada diri sendiri hari demi hari. Saat pikiranmu mulai merendahkan atau meremehkan kemampuanmu, segera jeda sejenak, hentikan dialog negatif tersebut, dan gantikan dengan afirmasi positif yang mampu membangun kembali motivasimu.

7. Takut dan Ragu Menyampaikan Pendapat

Dalam situasi rapat kantor atau bahkan sekadar diskusi ringan dalam sirkel pertemanan, apakah kamu lebih sering memilih untuk bungkam meski memiliki ide yang brilian? Kebiasaan memendam opini sering kali berakar dalam dari ketakutan akan penolakan, kritik, atau kekhawatiran dianggap kurang cerdas oleh audiens.

Padahal, setiap perspektif yang kamu miliki sangatlah valid dan suaramu berhak untuk didengar. Jangan biarkan rasa minder membungkam potensimu yang sebenarnya bersinar; mulailah beranikan diri untuk bersuara dari hal-hal yang sederhana, dan rasakan bagaimana setiap kalimat yang kamu ucapkan perlahan menebalkan rasa percaya dirimu.

8. Menunjukkan Bahasa Tubuh yang Tertutup

Sering kali, postur tubuh kita berbicara jauh lebih lantang dan jujur dibandingkan kata-kata yang keluar dari mulut. Kebiasaan berjalan dengan bahu melengkung ke depan (slouching), menundukkan kepala, atau sering menyilangkan tangan di depan dada adalah cara refleks tubuh untuk "membuat diri sekecil mungkin" agar terhindar dari sorotan.

Bahasa tubuh yang defensif dan tertutup ini tidak hanya mencerminkan perasaan tidak berdaya, tetapi secara biologis juga memperkuat kecemasan di otakmu. Biasakanlah untuk berdiri atau duduk dengan tegak, tarik bahumu dengan rileks ke belakang, angkat dagumu, dan bernapaslah dengan lapang—postur yang terbuka terbukti mampu memicu hormon yang membuatmu merasa lebih tangguh.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan self esteem rendah?

Ini adalah kondisi psikologis di mana seseorang memiliki persepsi yang negatif terhadap dirinya secara keseluruhan, merasa tidak berharga, selalu merasa kurang, dan tidak yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

2. Apakah orang dengan masalah harga diri ini bisa berubah menjadi percaya diri?

Tentu saja sangat bisa. Dengan niat untuk berubah, membangun kesadaran diri yang kuat, rutin mempraktikkan afirmasi positif, serta dukungan dari lingkungan yang sehat, penghargaan diri bisa dipupuk kembali menjadi kuat.

3. Apa faktor utama yang menyebabkan seseorang kurang menghargai dirinya?

Kondisi ini jarang terjadi secara tiba-tiba; biasanya berakar dari trauma masa lalu, pengalaman perundungan (bullying), pola asuh masa kecil yang terlalu menuntut dan kritis, atau trauma dari kegagalan yang belum disembuhkan.

4. Kapan saya harus memutuskan untuk pergi berkonsultasi ke psikolog?

Jika perasaan rendah diri yang kamu alami sudah memicu kecemasan yang parah, menghambat produktivitas karier, mengganggu hubungan sosial, hingga membuatmu menarik diri dari lingkungan, sangat disarankan untuk segera mencari bantuan profesional.

5. Bagaimana cara paling sederhana untuk mulai belajar mencintai diri sendiri?

Langkah paling awal adalah belajar memaafkan dirimu atas kesalahan di masa lalu, lakukan detoks media sosial untuk menghentikan kebiasaan membandingkan diri, dan berlatihlah menuliskan tiga hal positif yang kamu syukuri dari dirimu setiap malam sebelum tidur.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading