Sukses

Lifestyle

Aktivitas Padat Bikin Waktu Tidur Terpangkas? Ini Risiko yang Bisa Mengintai Kesehatan Perempuan

Fimela.com, Jakarta - Di tengah rutinitas yang semakin padat, tidur sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan. Pekerjaan yang belum selesai, aktivitas sosial, pekerjaan rumah tangga, hingga waktu untuk sekadar scrolling di malam hari membuat banyak perempuan terbiasa tidur lebih larut dan bangun lebih pagi.

Padahal, tidur bukan sekadar waktu ketika tubuh berhenti beraktivitas. Bagi otak, tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan sekaligus membantu berbagai fungsi kognitif, termasuk konsolidasi memori. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa selama tidur, khususnya pada fase non-REM, terjadi proses pengolahan dan penguatan memori yang baru terbentuk.

Kurang tidur sesekali mungkin terasa seperti sesuatu yang mudah ditoleransi. Namun, jika berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat mulai terasa dalam keseharian, mulai dari tubuh yang mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga brain fog dan perubahan suasana hati.

Dokter Spesialis Neurologi Seraphim Medical Center, dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K., menjelaskan bahwa tidur memiliki kaitan erat dengan berbagai fungsi otak.

“Tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan proses penting bagi otak untuk memperbaiki sel saraf dan memperkuat memori. Deteksi dini melalui pemeriksaan seperti qEEG sangat membantu menentukan penanganan yang tepat,” ujar dr. Niken.

 

Perempuan di Usia Produktif Punya Tantangan Tersendiri

Ia juga menjelaskan bahwa otak berperan dalam berbagai fungsi penting, mulai dari konsentrasi, fungsi eksekutif, atensi, konsolidasi memori, hingga regulasi sistem tubuh. Karena itu, gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak lebih luas daripada sekadar rasa mengantuk keesokan harinya.

Penelitian terbaru mengenai tidur dan memori juga memperkuat pemahaman tersebut. Tinjauan ilmiah yang diterbitkan Physiological Reviews pada 2026 menjelaskan bahwa tidur berperan aktif dalam pembentukan memori jangka panjang melalui proses konsolidasi sistem, termasuk aktivitas jaringan otak dan osilasi saraf selama tidur non-REM.

Persoalan tidur juga tidak selalu berhenti pada kesibukan. Perubahan hormonal sepanjang kehidupan perempuan dapat ikut memengaruhi kualitas tidur, terutama ketika memasuki fase perimenopause dan menopause.

Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara gangguan tidur pada masa menopause dengan kualitas hidup yang lebih buruk, termasuk keluhan psikologis dan penurunan produktivitas. Karena itu, perubahan pola tidur yang menetap sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai konsekuensi normal dari bertambahnya usia.

Pada kondisi seperti ini, penting untuk melihat tidur secara lebih menyeluruh. Bukan hanya berapa lama seseorang tidur, tetapi juga seberapa konsisten jadwal tidur, bagaimana kualitas tidurnya, serta apakah seseorang tetap merasa lelah setelah bangun.

 

Bukan Hanya Soal Durasi, Kualitas Tidur Juga Penting

Tidur yang sehat pada dasarnya mencakup beberapa aspek, termasuk durasi, keteraturan, waktu tidur, dan kualitas tidur. Bagi orang dewasa, rekomendasi umum berada pada kisaran tujuh hingga sembilan jam per malam, meski kebutuhan setiap orang dapat berbeda.

Karena itu, mengejar jumlah jam tidur saja belum tentu cukup jika seseorang sering terbangun, sulit mempertahankan tidur, atau memiliki jadwal tidur yang sangat tidak teratur.

Dr. Febby Astari, IFMCP, dari Seraphim Medical Center, menekankan pentingnya melihat kondisi setiap individu secara personal sebelum menentukan pendekatan yang diperlukan.

“Setiap program di Brain Wellness & Sleep Center disusun secara personal berdasarkan hasil pemeriksaan masing-masing klien, sehingga penanganan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan otak serta tidur setiap individu,” jelas dr. Febby.

Pendekatan tersebut kemudian diterapkan melalui pemeriksaan dan program yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Salah satunya adalah qEEG Brain Mapping, yang digunakan untuk memetakan aktivitas gelombang otak sebagai bagian dari proses evaluasi.

 

Tidur dan Kesehatan Tubuh Saling Berkaitan

Menurut dr. Niken, gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan stres dan memengaruhi fungsi kognitif serta memori. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan gangguan aktivitas sehari-hari dan risiko masalah metabolik.

Di sisi lain, kesehatan tubuh secara keseluruhan juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Karena itu, menjaga pola aktivitas fisik, mengelola stres, memperhatikan konsumsi makanan dan minuman menjelang tidur, serta menciptakan rutinitas malam yang konsisten dapat menjadi bagian dari kebiasaan tidur yang lebih sehat.

Apabila seseorang sudah mencoba memperbaiki kebiasaan tidur tetapi tetap mengalami kesulitan tidur, sering terbangun, atau merasa sangat lelah pada siang hari, kondisi tersebut layak dievaluasi lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading