Sukses

Parenting

Deteksi Dini Lazy Eyes pada Anak, Kenali 6 Gejalanya

Fimela.com, Jakarta Pernah dengar istilah lazy eyes? Lazy eyes atau yang dikenal juga dengan istilah ambliopi adalah istilah yang mengacu pada pengurangan ketajaman visual pada mata. Kondisi ini mengganggu perkembangan penglihatan selama masa bayi dan anak usia dini.

Melansir Wikipedia, penurunan fungsi penglihatan pada ambliopi ini terjadi karena adanya kegagalan stimulasi penglihatan atau tak cukup kuatnya stimulasi yang ditransmisikan dari saraf optikus ke otak pada periode tertentu. Pada mata dengan struktur normal sekalipun, gangguan ini dapat terjadi. Dalam artikel Lazy eye (amblyopia) via mayoclinic.org, ambliopi umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir hingga pada anak usia tujuh tahun. Diagnosis dini dan perawatan yang segera dilakukan dapat mencegah dampak jangka panjang terhadap penglihatan anak. Mata dengan gangguan penglihatan bisa diatasi dengan penggunaan kacamata atau kontak lensa, atau melalui terapi penutup mata.

 

Gejala Ambliopi

Secara umum, ada enam gejala ambliopi, antara lain:

1. Salah satu mata bergerak ke dalam atau ke luar (juling)

2. Mata yang terlihat tak bekerja bersamaan.

3. Sering memiringkan kepala untuk melihat lebih jelas.

4. Kesulitan dalam memperkirakan jarak.

5. Sering menutup atau menyipitkan salah satu mata.

6. Hasil tes penglihatan buruk.

Terkadang untuk mendeteksi lazy eyes, perlu melewati tes penglihatan terlebih dahulu. Segera hubungi dokter bila kita melihat salah satu mata pada bayi tampak bergerak-gerak (ke dalam atau ke luar). Tes penglihatan sanagt penting dilakukan khususnya bila ada riwayat keluarga yang memiliki mata juling, katarak pada anak, atau gangguan penglihatan. Pemeriksaan mata menyeluruh sangat direkomendasikan pada anak usia 3 hingga 5 tahun.

Faktor pemicu lazy eyes bisa disebabkan oleh beberapa hal. Mulai dari mata juling, gangguan refreaksi, katarak pada anak, luka pada kornea mata, dan kelopak mata yang terkulai. Kelahiran prematur, bayi yang lahir dengan berat badan di bawah normal, faktor keturuna, dan gangguan perkembangan anak juga dapat menjadi pemicunya. Orangtua perlu lebih jeli dalam melakukan deteksi dini lazy eyes pada anak agar bisa segera memeriksakan anak untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

#ChangeMaker

Loading