Sukses

Parenting

Mengubah Kebiasaan dengan Upaya Lahir Batin demi Kehadiran Momongan

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik. 

***

Oleh: Fuatuttaqwiyah El-adiba

Salah satu tujuan menikah adalah mendapatkan keturunan. Begitu pun pernikahan yang kulakukan. Rasanya akan bahagia bila buah hati hadir di tahun pertama. Senyuman dan kebahagiaan mewarnai hari-hari yang indah. Namun, itu hanya impian bagiku. Tahun pertama pernikahanku belum juga membuahkan keturunan.

Awalnya aku cuek. Kuhibur diri dengan belum saatnya. Apalagi saat itu aku baru pindah kota dan masih proses adaptasi. Kuanggap semua ini bagian dari takdir. Namun, memasuki tahun kedua. Gelisah mulai melanda jiwa. Terlebih dengan pertanyaan beberapa teman di media sosial yang kuikuti. Aku masih bisa menjawab dengan satu kalimat. “Mohon doanya agar segera diberikan anak.” Sebuah senyuman kusampaikan kepada mereka sebagai tanda aku baik-baik saja. Meski, kenyataan di hati berkata lain.

Mengikuti Terapi

Saran seorang teman kuikuti. Aku mulai mengikuti terapi. Seminggu sekali aku ke rumah terapi untuk mendapatkan perawatan. Hampir 6 bulan perawatan rutin kulakukan. Hasilnya masih juga jauh dari harapan. Aku sempat terlambat datang bulan. Namun, beberapa hari kemudian menstruasiku datang. Hal yang membuatku menangis dan sedih. Padahal semua arahan dari terapis sudah kulakukan. Mulai dari pantangan makanan tertentu hingga hari berhubungan. Suamiku pun ikut terapi juga. Lagi-lagi, hasilnya masih nol.

Mengikuti Saran Teman

Seorang teman yang sudah pernah hamil menyarankanku minum susu kehamilan dan sereal kacang hijau. Aku pun mencoba melakukan anjurannya. Setiap hari dua gelas susu kuminum. Padahal aku kurang suka susu. Dari kecil, aku memang jarang minum susu karena eneg dan bau amis. Untuk mencegah eneg, kupilih susu dengan rasa vanilla. Aku juga mengonsumsi kacang hijau. Namun, kondisi perut dengan daya tampung kecil membuatku harus menjadwal waktu minum agar tidak kekenyangan dan membuatku mual.

 

Mengubah Pola Hidup

Sejak masuk tahun kedua pernikahan, aku memang sudah mengubah pola hidup. Apalagi dengan serangan virus corona yang membuatku harus memperhatikan pola hidup bersih dan sehat. Buah dan sayur menjadi pilihan yang harus hadir di meja makan. Kupilih sayur dan buah yang bisa mempercepat kehamilan. Aku yang tidak suka dengan sayuran hijau, mulai beradaptasi. Kumakan sayuran dengan lahap. Begitu juga buah.

Aku sampai membeli blender untuk membuat jus buah. Ada buah yang kumakan segar. Ada juga buah yang kubuat jus. Sekadar mengurangi rasa bosan. Tentu saja kupilih buah dan sayur yang murah dan hasil produksi petani lokal. Aku pun harus banyak berhemat di kebutuhan lain agar asupan buah di tubuhku cukup.

Makan Kurma dan Madu

Aku kurang suka dengan kurma dan madu. Di samping harganya yang  mahal, kedua makanan ini memang kurang masuk di lidahku. Namun, demi kehadiran buah hati, aku memaksa diri untuk makan keduanya. Awalnya sehari 3 butir dan sesendok madu. Sekarang madu sudah kumasukkan ke dalam anggaran belanja bulanan. Begitu juga kurma. Doaku semoga madu bisa membuatku sehat dan segera hamil.

Berhenti Begadang dan Stres

Kebiasaan begadang sudah kukurangi. Apalagi suamiku sudah sering memperingatkan. Aku juga menata hati agar pekerjaan di kantor dan rumah tidak membuat stres. Sebisa mungkin batin kubuat bahagia. Seberat apa pun persoalan di kantor dan rumah tidak boleh membuat hatiku sedih dan merana.

Usaha Batin

Selain usaha lahir, aku juga melakukan usaha batin. Aku yang biasanya santai dalam membaca Al-Qur’an, kuusahakan setiap pagi 30-45 menit tenggelam dalam lautan Kalam-Nya. Sejenak bisa mengobati jiwaku yang gersang dan membutuhkan belaian kasih sayang Allah.

Selain itu, aku juga rajin berdoa dalam setiap salat 5 waktu dan salat sunah lainnya. Doa tulus kupanjatkan agar segera diberikan momongan. Apalagi melihat teman yang menikah belakangan, sekarang sudah mempunyai anak. Aku langsung sedih dan menangis. Walau aku senang dengan kebahagiaan temanku tersebut.

Usaha lahir dan batin sudah kulakukan. Aku berharap segera ada keajaiban dari Allah agar rumah tanggaku ramai dengan kehadiran sang buah hati. Amin.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Tips Melatih Balita Tidur Sepanjang Malam dan Tidak Rewel
Artikel Selanjutnya
4 Pertimbangan sebelum Menyewa Jasa Fotografer Persalinan