Sukses

Parenting

Fimela Fest 2020: Mom Sweet Moms Ajak Ortu Patahkan Stigma Kesehatan Mental Remaja

Fimela.com, Jakarta Sebelum menjadi seorang mom atau ibu, pasti semuanya pernah mengalami masa remaja. Saat diingat-ingat lagi, sepertinya tak jauh beda dengan anak-anak remaja mereka, seperti yang dirasakan dua anggota Mom Sweet Moms Mona Ratuliu dan Novita Angie.

Problem yang dianggap orang dewasa hal sepele bisa jadi big deal bagi para remaja, seperti konflik pertemanan sampai percintaan. Belum lagi kasus yang membutuhkan perhatian khusus seperti perundungan sampai kesulitan menjalani belajar online selama pandemi.

 

Hal itu membuat remaja tumbuh tidak gembira sampai kehilangan nafsu makan karena sudah mengganggu kesehatan mentalnya. Isu kesehatan mental menjadi sumber ide dan gagasan Instagram meluncurkan kampanye bertajuk #REALTALK sejak Mei 2020.

Instagram menemukan anak muda seringkali mengalami kesulitan saat ingin membicarakan isu kesehatan mental pada orangtua mereka. Kali ini Instagram menggandeng komunitas parenting Mom Sweet Moms yang terdiri dari ibu dan juga selebritas Mona Ratuliu, Novita Angie, Ersa Mayori, Meisya Siregar, dan Nola untuk meningkatkan kesadaran dan pehamanan orangtua seputar isu kesehatan dan mengajak untuk mematahkan stigma.

"Anakku yang sekarang kelas 3 SMA, Mima mengalami perkembangan yang cukup cepat dan kecemasannya saat itu merasa kesepian saat kelas 5 SD. Sampai akhirnya dia speak up, tentunya dengan sering ngobrol dan kami pergi mencari pertolongan pada profesional," ujar Mona Ratuliu lewat konferensi pers virtual Instagram Kampanye #REALTALK fase ke-3, Selasa (27/11).

Kolaborasi Instagram dan Mom Sweet Moms

Mencari pertolongan profesional menjadi salah satu stigma tentang kesehatan mental yang tabu. Beruntung para remaja sekarang cukup melek dengan hal tersebut, kata Mona, tinggal ia sebagai orangtua yang harus mendukung, mendampingi, dan memahami perubahan yang terjadi pada anak-anaknya. 

Tentunya untuk sampai di tahapan anak speak up diperlukan sebuah kebiasaan untuk saling bercerita satu sama lain. Peran proaktif orangtua terlebih ibu dituntut kreatif untuk mencari cara 'mengorek' tanpa bernada mengiterogasi si anak.

"Pasti tiap orangtua punya cara sendiri mancing anaknya curhat, seperti anak saya yang cowok itu cuma mau cerita masalahnya sama satu orang yang ditemui duluan. Misalnya saat pulang sekolah, dia bisa cerita ke adeknya, nanti di rumah dia minta adeknya Jema yang ceritain ke aku karena dia enggak suka cerita berulang-ulang. Dari situ aku memahami kebiasaan anak yang beda satu dan lain," sambung Angie dalam kesempatan yang sama. 

Itu baru segelintir pengalaman dari dua member Mom Sweet Moms, karena masih ada cerita dari tiga anggotanya yang tak kalah seru dalam dunia parenting. Selain kecemasan di dunia nyata, yang tak kalah menantang adalah isu kesehatan mental di dunia maya salah satunya dalam platform ber-social media.

Lewat kampanye #REALTALK fase 3 ini, Instagram berkolaborasi bersama Mom Sweet Moms serta aplikasi kesehatan mental Riliv mengemas tiga seri IGTV yang dibuat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman orangtua seputar isu kesehatan mental. Selain itu, Instagram juga merilis pembaruan Panduan Instagam untuk orangtua dengan lebih banyak informasi tentang fitur-fitur keamanan dan pentingnya membatasi waktu seorang anak mengakses platform online.

"Kami percaya orangtua punya peranan penting dalam membantu mematahkan stigma negatif kesehatan mental di kalangan remaja. Lewat fase lanjutan kampanye #REALTALK, kami ingin mengajak para orangtua untuk lebih memahami serta mendukung kondisi kesehatan mental anak remaja mereka terutama di masa-masa sulit ini," timpal Kepala Kebijakan Publik Instagram Asia pasifik Philip Chua.

Jadi Orangtua yang Bisa Bikin Nyaman dan Anti-Judge

Co-Founder dan CEO Riliv Audrey Maximilian Herli mengatakan di tengah pandemi banyak masyarakat Indonesia terutama anak muda yang merasa cemas dan stres. Ia merinci lima isu penting dalam sesi konseling para pengguna Riliv selama Maret sampai Agustus.

"Antara lain masalah dalam diri sendiri yang menimbulkan rasa cemas, panik, takut, dan depresi, masalah karier yang mengalami penurunan produktivitas, masalah hubungan dengan pasangan yang merenggang, masalah keluarga di mana anak lebih sering melihat pertengkaran orangtua dan anak kesulitan membahas topik kesehatan mental dalam keluarga, serta masalah pendidikan karena hilangnya motivasi belajar," ujar Maxi.

Volunteer Komunitas Anti-Bullying Sudah Dong Fabelyn Baby Walean juga menambahkan pentingnya membuat anak merasa nyaman untuk anak mulai bercerita tentang kegelisahan dan masalahnya. Terutama setelah menyimak penuturan Angie dan Mona sebagai orangtua yang punya banyak akal untuk membuat anak nyaman membicarakan apa saja pada mereka.

"Biasanya karena sibuk dengan pekerjaan jadinya sulit untuk anak curhat ke orangtua, yang ada malah udah ketakutan duluan. Padahal kalau mau mengorek cerita apapun dari anak kuncinya adalah bikin nyaman, mau denger, dan bisa ngomong dengan baik lalu enggak nge-judge," tutupnya.

Simak video berikut ini

#ChangeMaker 

;
Loading