Sukses

Parenting

Dukungan Nenek pada Cucu Transgender: Aku Mencintaimu Apapun yang Terjadi

Fimela.com, Jakarta Elliot Page baru-baru ini mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang transgender dan sebagai seorang nenek dari transgender, Maryann Durmer merasa ia memiliki kisah yang layak untuk dibagi. Pengakuan Elliot Page membuat cucu Maryann yang berusia 22 tahun yang juga transgender merasa lebih bisa hidup terbuka dan bebas.

Cucu Maryann terbuka sejak 5 minggu lalu dan ketika mendengar tentang hal tersebut, Maryann mengirimkan SMS yang bertuliskan, "Aku bicara dengan ayahmu semalam. Aku sangat senang kamu akhirnya terbuka dan aku mendukungmu 100%. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Jika ada yang bisa aku lakukan untuk membantumu, aku di sini."

Maryann menghabiskan 6 bulan terakhirnya memikirkan sang cucu yang mungkin sedang dalam masa transisi. Maryann menjadi sangat lega ketika akhirnya cucunya mengungkapkan dirinya sebagai transgender.

Maryann adalah seorang perempuan cisgender heteroseksual berusia 75 tahun, berkulit putih, dan dibesarkan di sebuah rumah yang otoriter. Di usia yang ke 50, Maryann menyadari bahwa dirinya tidak mengenal banyak orang dengan pengalaman hidup yang berbeda dari dirinya.

Maryann dibesarkan untuk percaya bahwa ia akan masuk surga jika ia mengikuti aturan iman dan bahwa mereka yang tidak mengikutinya, tidak akan masuk surga. Pada akhir tahun 1970-an, Maryann pindah ke Texas untuk membesarkan keluarganya.

Di sana, Maryann mengalami secara langsung sikap konservatif fundamentalis dan kurangnya penerimaan terhadap orang lain, yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Perceraian membawa Maryann ke komunitas teater dan ketika anak-anaknya tumbuh, mereka kembali ke New York dan di sini perjalanan Maryann mengenal perbedaan, serta mendapati cucunya yang menjadi transgender.

Maryann mendapati bahwa memahami perbedaan pada orang lain adalah hal penting

Maryann menyadari bahwa berusaha memahami orang yang berbeda dari dirinya itu penting. Seperti banyak orang lainnya, ia juga menyadari bahwa agama yang terorganisir mengacaukannya dan bahwa ia perlu memikirkan kembali bias dan pemahamannya tentang seksualitas, serta gender.

Pencucian otak seringkali harus dihilangkan dengan membuka mata seluas-luasnya terhadap kemanusiaan. Dan ini bisa dimulai dari lingkaran keluarga dan teman dengan latar belakang yang berbeda.

Dalam beberapa kasus, memahami seorang transgender akan lebih mudah bagi non anggota keluarga, karena tidak adanya ikatan emosional dan sejarah dengan orang tersebut. Namun, bagaimana jika itu cucumu yang transgender?

Maryann meneliti, membaca, dan menonton film dokumenter untuk membantunya memahami dan berempati dengan apa yang dialami oleh transgender. Pengetahuan baru yang didapatkannya membantu Maryann untuk mendukung sang cucu.

Namun, tidak peduli seberapa baik niatnya, kesalahan tetap terjadi. Terkadang, Maryann masih memanggil nama lama dari cucunya.

Kebanyakan transgender tidak pernah mengidentifikasi diri mereka dengan nama yang diberikan saat lahir, sehingga mereka cenderung memilih nama baru yang mencerminkan dan mengkomunikasikan siapa mereka sebenarnya. Jika kamu tidak bisa memahami hal ini, mungkin kamu juga tidak akan mengerti mengapa menggunakan nama lama mereka akan mencegah mereka dikenali sepenuhnya.

Maryann melakukan segala hal untuk bisa mendukung sang cucu

Ini hal yang sangat tidak terhormat dan sangat menyakitkan bagi mereka. Namun, bukan berarti mudah untuk mengubah cara Maryann, terutama mengingat sejarah cucunya yang manis.

Maryann berkomitmen untuk melakukan apapun yang ia bisa untuk merangkul cucunya sebagai seorang perempuan muda yang cantik. Ia belajar sebanyak mungkin untuk membantu seluruh keluarganya melewati masa transisi dan agar cucunya memiliki waktu yang lebih mudah.

Menjadi seorang nenek adalah peran terindah yang pernah Maryann capai dalam hidupnya. Menerima dan mencintai cucunya tanpa syarat adalah pengalaman luar biasa.

Maryann hanya memiliki seorang kakek yang menunjukkan cinta tanpa syarat setiap kali mereka bertemu dan ia masih bisa membayangkan setiap momen spesial yang mereka bagikan bersama. Maryann tidak bisa berjalan di sepatu cucunya, namun ia dapat melakukan yang terbaik untuk terus menjangkaunya dengan kebaikan dan penerimaan, berdoa agar cucunya itu dilindungi dari kebencian dan intoleransi yang sering diungkapkan secara terbuka oleh orang-orang di tempat tinggalnya.

Menjadi seorang nenek, ia berharap dapat membagikan kebijaksanaan yang akan dibawa oleh generasinya selanjutnya. Maryann berharap ia dapat mengajari keluarganya untuk tidak hanya menjadi diri mereka sendiri, namun juga merangkul dunia dan keunikan masing-masing.

Kepada cucunya, Maryann berterimakasih telah mengajarinya nilai tentang menjalani kehidupan yang otentik. Maryann merasa bangga dapat menjadi nenek dari cucunya dan ia sangat mencintainya.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
3 Cara Bebas Stres Mengasuh Anak Saat Liburan di Rumah
Artikel Selanjutnya
Rayakan Tahun Baru Bersama Si Kecil, Di Rumah Aja Tetap Terasa Happy