Sukses

Parenting

Menganalisa Lebih Dalam Dampak Sosial dan Ekonomi Pandemi COVID-19 terhadap Rumah Tangga di Indonesia

Fimela.com, Jakarta Pandemi COVID-19 telah memengaruhi kehidupan ekonomi di tatanan rumah tangga, di mana 50% di antaranya mengalami kesulitan keuangan. Keterbatasan lapangan pekerjaan karena kegiatan bisnis yang lesu akibat dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), menyebabkan berkurangnya pemasukan rumah tangga, di saat harga berbagai kebutuhan sehari-hari cenderung meningkat.

Akses untuk mendapatkan layanan dasar sosial juga semakin sulit di masa pandemi COVID-19 ini, sehingga masyarakat kesulitan untuk memperoleh pangan berkualitas untuk gizi yang layak, layanan kesehatan, dan pendidikan bagi anak. Perlu analisa lebih mendalam terkait dampak ekonomi-sosial pandemi pada pendapatan dan pengeluaran rumah tangga di Indonesia, sehingga pemetaan masalah menjadi jelas dan lebih mudah diatasi.

Sehubungan dengan ini, UNDP, UNICEF, Australia-Indonesia Partnership for Economic Development (Prospera) dan SMERU Indonesia, didukung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengadakan studi untuk menilai dampak ekonomi-sosial pada rumah tangga akibat pandemi COVID-19 yang berfokus pada kelompok rentan yaitu anak-anak, perempuan dan disabilitas. Dengan melibatkan lebih dari 12.000 keluarga di 34 provinsi dan 247 kabupaten selama periode Oktober-Desember 2020, hasil studi tersebut telah disusun dalam laporan berjudul “Analisis Dampak Sosial dan Ekonomi Pandemi terhadap Rumah Tangga di Indonesia.”

 

 

Dampak sosial dan ekonomi yang dialami oleh keluarga di masa pandemi COVID019

Survei ini adalah situasi yang menggambarkan dampak sosial dan ekonomi pandemi. Berikut adalah beberapa fakta mengenai dampak sosial dan ekonomi pandemi terhadap rumah tangga di Indonesia. Athia Yumna selaku Deputi The SMERU Research Institute menyampaikan, “Hasil survei kami menunjukkan 3 dari 4 rumah tangga mengalami penurunan pendapatan atau sebesar 75 persen kehilangan pekerjaan selama pandemi. Sementara itu, 1 dari 2 rumah tangga di Indonesia tidak memiliki tabungan untuk bertahan hidup karena sektor pendapatan bisnis rumah tangga 90 persen mengalami kemunduran di tahun 2020.”

Dampak rumah tangga bukan hanya dirasakan secara ekonomi melainkan dampak sosial yang menyasar pada anak-anak dan perempuan. Untuk masalah kesehatan dan nutrisi, 11,7 persen anak Indonesia mengalami permasalahan kerawanan pangan. 2.1 juta anak Indonesia mengalami kesulitan ekonomi yang membuat 7,15 persen anak Indonesia terpaksa putus sekolah untuk bekerja. Hal ini ditandai dengan menurunnya kemampuan belajar 3 dari 4 anak akibat 57% anak tidak memiliki akses internet dan perangkat untuk mengakses internet. Pembelajaran jarak jauh tidak hanya menyulitkan untuk anak Indonesia tetapi untuk perempuan yang memegang peran ganda sebagai tenaga pendidik sekaligus ibu rumah tangga. 71,5 persen perempuan di Indonesia mendampingi anaknya dalam pembelajaran jarah jauh mengalami tekanan mental dan siklus sosial.

Menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai bagi anak di masa pandemi COVID-19

Hal ini membuat UNDP, UNICEF dan SMERU Indonesia mendesak pemerintah untuk memberikan terobosan bagi permasalahan sosial dan ekonomi rumah tangga Indonesia selama pandemi. Mereka menyarankan langkah awal untuk memberikan fasilitas pendidikan yang memadai bagi anak Indonesia dan memaksimalkan upaya proses pendidikan tatap muka dengan protokol kesehatan. Hal ini juga dengan memberikan akses layanan kesehatan mental dan distribusi vaksin bagi perempuan dan anak Indonesia.

Suahasil Nazara, Wakil Kementerian Keuangan Indonesia mengatakan, “Pemerintah Indonesia dan Kementerian Keuangan akan berusaha keras untuk menyiapkan implementasi hukum guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa pandemi. Selama pandemi pendapatan menurun dan angka kebutuhan meningkat. Akan ada tiga terobosan yang akan kami lakukan untuk mengatasi, yaitu paket stimulus perekonomian untuk rumah tangga yang membutuhkan, memberikan layanan kesehatan dan vaksinasi kepada seluruh lapisan masyarakat dan reformasi ketenagakerjaan dengan kartu prakerja.”

Penulis : Adonia Bernike Anaya (Nia)

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Hore! Anak di Bawah 12 Tahun Kini Boleh Masuk Bioskop dan Tempat Bermain di Wilayah PPKM Level 1-2
Artikel Selanjutnya
2,5 Juta Dosis Vaksin COVID-19 Pfizer Tiba di Indonesia, Didistribusi ke 3 Daerah