Sukses

Parenting

Inilah 3 Fase Tantrum pada Anak dan Cara Menghadapinya

Fimela.com, Jakarta Amukan marah berupa rengekan, tangisan, teriakan, hingga memukul merupakan ciri-ciri anak sedang mengalami tantrum. Umumnya, tantrum terjadi pada anak antara usia satu hingga tiga tahun.

Dalam kebanyakan kasus, anak-anak mengalami tantrum ketika mereka merasa lelah, mengantuk, lapar, atau tidak nyaman. Karena balita belum bisa mengatakan apa yang mereka inginkan, keinginannya tersebut disampaikan lewat amukan.

Ketika berada di situasi ini mungkin orang tua merasa cukup jengkel dan malu, apalagi jika tantrum anak terjadi di tempat umum. Namun, tugas kamu sebagai orang tua sebenarnya cukup sederhana, yakni tetap tenang dan menunjukkan belas kasih.

Melansir Parenting From The Heart, menurut sebuah studi 2011 yang diterbitkan dalam jurnal Emotion, tantrum memiliki pola dan ritme yang dapat diprediksi. Mereka menemukan tiga fase tertentu dari tantrum. Berikut fase tantrum pada anak dan cara menghadapinya.

 

Fase 1: Berteriak dan menjerit

Selama fase ini, seorang anak baisanya menegaskan keinginannya secara vokal. Baik itu berteriak atau menjerit.

Ia akan semakin histeris ketika orang tuanya memberikan komentar, memberikan penjelasan, atau mengajukan pertanyan. Mencoba untuk mengungkapkan perasaanya pada tahap ini tidaklah efektif.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Tetaplah di sisi sang anak tanpa berbicara satu patah kata. Pada fase ini buah hatimu membutuhkan keamanan, meninggalkan ruangan hanya akan membuatnya semakin marah. Tetaplah tenang, netral, dan berikan energi penuh kasih.

Fase 2: Tindakan fisik

Selama fase ini seorang anak mungkin akan memukul, menendang, atau melempar mainan. Jika orang tua mencoba menenangkan anak dengan berbicara atau menyentuhnya, dia biasanya akan menjadi lebih agresif secara fisik.

Apa yang bisa kita lakukan? Tetap hadir, tugasmu bukanlah menghentikan amukan, tetapi memastikan anak tidak merasa ditinggalkan dan memastikan dia tidak menyakiti apa pun atau siapa pun. Namun, ini mungkin memerlukan perubahan lokasi atau menemukan lokasi yang aman, di tempat yang netral, seperti mobil atau kamar tidur di mana si kecil dapat memiliki waktu yang dia butuhkan untuk mengatur diri sendiri.

Jika si kecil mencoba menyakitimu, peluk dia. Tetaplah tenang, jangan biarkan amukan mempengaruhi emosimu. Setelah amarah si kecil mulai mengendur, lepaskan dia.

Fase 3: Kesedihan

Setelah tahap fisik selesai dengan sendirinya, tahap selanjutnya dimulai. Seorang anak akan merasa sedih atau takut dengan apa yang baru saja terjadi. Dia mungkin menangis, merengek, atau rewel.

Dia ingin terhubung kembali dan dihibur.  Oleh sebab itu, rangkul dan peluklah dia. Si kecil mungkin ingin naik ke pangkuanmu untuk berpelukan dan menangis.

#Elevate Women

Ultah Ke-25, Hoshi SEVENTEEN Donasi Rp 1,27 Miliar ke Kampung Halaman
Loading
Artikel Selanjutnya
Mengenal Sindrom Mythomania pada Anak, Kebiasaan Berbohong yang Jadi Gangguan Psikis
Artikel Selanjutnya
Penyebab Speech Delay pada Anak dan Cara Mengatasinya