Sukses

Parenting

8 Tips agar Anak Tidak Jadi Pelaku Bully di Sekolah

Fimela.com, Jakarta Maraknya pemberitaan mengenai bullying pada anak di media tentu saja membuat resah dan membuat sedih para orangtua. Apalagi jika ternyata anaknya menjadi korban atau pelaku bullying. Bullying atau perundungan bukanlah hal yang sepele dan wajar. Perilaku ini berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan fisik anak. Prestasi akademis dan kehidupan sosial juga bisa hancur karena bullying. Ada pula yang mengalami depresi dan bahkan bunuh diri.

Perundungan (bullying) merupakan suatu pola perilaku, dan bukan suatu kejadian yang terisolasi. Anak-anak yang melakukan perundungan biasanya berasal dari status sosial atau posisi kekuasaan yang lebih tinggi, misalnya anak-anak yang lebih besar, lebih kuat, atau dianggap populer.

Anak-anak yang paling rentan menghadapi risiko lebih tinggi untuk ditindas. Seringkali anak-anak tersebut adalah mereka dari komunitas yang terpinggirkan, anak-anak dari keluarga miskin, anak-anak dengan identitas gender yang berbeda, anak-anak penyandang disabilitas atau anak-anak migran dan pengungsi. 

Bagi para orangtua, Sahabat Fimela dapat melakukan beberapa tindakan berikut sebagai upaya preventif dalam mencegah anak menjadi pelaku perundungan di sekolah.

1. Memberi pemahaman mengenai perilaku perundungan

Anak-anak melakukan perundungan karena berbagai alasan. Ada yang melakukannya karena merasa tidak aman. Memilih seseorang yang tampak lebih lemah secara emosional atau fisik juga dapat memberikan perasaan lebih penting, populer, atau memegang kendali. Hal pertama yang dapat Sahabat Fimela lakukan untuk mencegah perilaku perundungqn adalah mendidik anak tentang apa itu perundungan.

Apa itu perilaku bullying, jenis-jenisnya, dan bagaimana cara menghindarinya agar tidak menjadi korban atau pelaku. Termasuk langkah dan tindakan apa yang harus dilakukan jika melihat kejadian bullying di sekitar.

2. Berikan contoh yang positif

Tunjukkan perilaku baik saat Sahabat Fimela bersama teman-teman, orang-orang terkasih, dan anak-anak. Anak meniru bahasa dan perilaku orang tuanya. Jika ingin anak bersikap baik kepada anak lain, bersikaplah baik kepada anak sendiri. Ketika ada anak, cobalah yang terbaik untuk menjaga emosi tetap tenang. Jangan biarkan mereka melihat orangtua berteriak, atau berdebat dengan orang lain.

Jangan pernah meremehkan anak karena ingin bermain, atau karena masih anak-anak. Biarkan mereka bermain dan bersenang-senang, dan mereka juga akan berperilaku seperti itu saat bersama anak-anak lain.

3. Bicaralah secara terbuka dan sering kepada anak

Semakin sering orangtua berbicara dengan anak tentang penindasan, mereka akan semakin nyaman memberi tahu Sahabat Fimela jika mereka melihat atau mengalaminya. Hubungi anak-anak setiap hari dan tanyakan tentang waktu mereka di sekolah dan aktivitas mereka lainnya. Tanyakan tidak hanya tentang kelas dan aktivitas saja, tetapi juga tentang perasaan mereka.

4. Membangun rasa percaya diri anak

Anak yang terlihat lemah, minder, dan kurang percaya diri sering kali menjadi sasaran bullying oleh temannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk mengajarkan rasa percaya diri pada anak. Misalnya, mengajarkan kontak mata saat berhadapan dengan orang lain, berjalan tegak (tidak menunduk atau terlihat sombong), berbicara dengan nada tegas dan jelas.

5. Awasi anak di sekitar anak-anak lain

Jika anak berusia 5 tahun atau lebih muda, awasi mereka saat berada di sekitar anak-anak lain. Jika mereka melakukan sesuatu seperti mendorong anak lain atau mengatakan sesuatu yang kasar, segera perbaiki perilakunya dan disiplinkan jika perlu. Jika Sahabat Fimela menitipkan anak kepada babysitter atau kerabat lainnya, bicarakan dengan mereka tentang cara mengawasi anak saat mereka bermain dengan anak lain.

6. Jauhkan anak dari orang dewasa yang kejam dan kasar

Jika anak diperlakukan dengan buruk, mereka mungkin akan melampiaskannya pada anak lain dengan bersikap kejam atau bahkan menyakiti orang laim. Jangan izinkan siapa pun menganiaya anak, semakin sering hal ini terjadi, semakin besar kemungkinan mereka menjadi penindas.

7. Ajari anak berperilaku hormat dan baik hati terhadap orang lain

Ajari anak bahwa mengejek perbedaan seperti ras, agama, penampilan, kebutuhan khusus, jenis kelamin, status ekonomi adalah hal yang salah. Cobalah untuk menanamkan rasa empati terhadap mereka yang berbeda. Pertimbangkan untuk terlibat bersama dalam kelompok komunitas di mana anak dapat berinteraksi dengan anak-anak yang berbeda.

8. Memenuhi kebutuhan cinta dan psikologis anak

Anak yang kurang mendapat perhatian atau kasih sayang berlimpah dari orangtuanya cenderung akan bertindak untuk mendapatkan perhatian. Terlebih lagi, jika mereka sering mendapat perlakuan kasar atau dicap negatif, maka mereka berpotensi menjadi pelaku perundungan.

Oleh karena itu, jadilah orangtua yang dapat menjadi teladan dan menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang di rumah. Ajari anak untuk memiliki empati dan kasih sayang terhadap orang lain. Dengan begitu, mereka tidak akan berperilaku tidak baik atau jahat terhadap temannya.

 

 

Penulis: Miftah DK

#Unlocking The Limitless

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading