Malang, Wanita Ini Tewas Setelah Lakukan Terapi Chiropractic

Floria Zulvi diperbarui 07 Jan 2016, 19:14 WIB

Fimela.com, Jakarta Nasib malang bisa menimpa siapa dan kapan saja. Pada 7 Agustus 2015 lalu, berita pilu terdengar dari keluarga Alfian Helmy. Kabar duka menyelimuti karena hari itu merupakan kali terakhir sang keluarga bertemu Allya Siska Nadya.

Gadis yang akrab disapa Siska tersebut mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta Selatan setelah menjalani terapi di klinik chiropractic daerah Pondok Indah. Sang ayah menceritakan bahwa, awalnya Siska mengeluh sakit pada leher tulang belakangnya. Alfian berpendapat bahwa keluhan tersebut mungkin disebabkan oleh Siska yang sering menenteng bawaan berat. Akhirnya, gadis tersebut pun menjalani fisioterapi.

Tak lama, penyakitnya pun sembuh. Namun, rasa nyeri tersebut kembali datang beberapa bulan kemudian. Rencana Siska untuk pergi ke Prancis pada 18 Agustus 2015 untuk melanjutkan S-2 pun menjadi alasan bahwa ia harus menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu.

Chiropractic pun menjadi pilihan perempuan yang lahir pada 28 Desember 1982 ini. Pada tanggal 5 Agustus 2015, Siska mendatangi klinik terapi tersebut. Ia menjalani konsultasi dan bertemu dengan Randall Caferty seorang terapis asing. Dari hasil konsultasi, Siska harus menjalani terapi sebanyak 40 kali dengan harga 17 juta rupiah. Namun karena rencana keberangkatannya ke Prancis, ia pun menolak. Akhirnya sang terapis menawarkat 40 kali terapi dan dilakukan sebanyak dua kali sehari.

Siska menyetujui karena menurutnya itu merupakan saran dari seorang yang ahli di bidangnya. Keesokan harinya ia pun kembali untuk membayar biaya terapi ditemani dengan sang ibu. Betapa terkejutnya sang ibu ketika mengetahui terapinya hanya memakan waktu 5 menit saja. Caranya pun sangat sederhana, Siska hanya diminta tengkurap dan Rendall hanya mengangkat kepalanya dan memutar ke kiri dan ke kanan hingga berbunyi. Begitu pun dengan pinggulnya.

Setelah mengalami terapi, Alfian mengatakan bahwa Siska mengalami perubahan yang tak biasa. Siska meringis kesakitan di area lehernya. Tak pelak, sang ayah pun terkejut karena itu adalah kali pertama ia menyaksikan anak bungsunya merasakan sakit yang luar biasa. Dengan sigap, Siska pun diarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSPI tengah malam itu.

Catatan tim dokter RSPI mengatakan bahwa siska mengalami kesemutan di bagian leher hingga lengan dan bagian belakang lehernya bengkak. Dugaannya adalah adanya pembuluh darah yang pecah. Untuk memastikannya tim dokter ingin melakukan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Namun sayangnya, keadaran Siska hilang dan denyut jantungnya melemah sehingga tindakan tersebut tidak bisa dilakukan.

Berita duka pun tiba pada pukul 6 pagi. Dokter menyatakan kepergian Siska dan keluarga pun harus mengikhlaskan kepergiannya yang terasa tiba-tiba. Laporan dugaan malapraktik oleh dokter asing sudah dilayangkan ke Polda Metro Jaya pada 12 Agustus 2015. Dua kali sudah Rendal dipanggil namun tak bisa memenuhi. Diketahui ternyata ia sudah kembali ke negara asalnya, Amerika Serikat. Ia pun tak memiliki izin praktik di Indonesia.

What's On Fimela