Cerita Cinta, Erwin Parengkuan dan Jana Parengkuan

Komarudin diperbarui 05 Mar 2016, 12:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Erwin Parengkuan dan Jana Parengkuan mampu mengarungi rumah tangganya  selama 18 tahun hingga memiliki empat orang anak.

Hari itu malam Minggu pada sebuah bulan pada 1996, Erwin Parengkuan mendapat undangan ulang tahun dari teman bisnisnya, Gladys Suwandi. Ia mengundang Erwin untuk hadir dalam pesta ulang tahun ayahnya, Didi Suwandi. Sebagai bentuk penghormatan sebagai rekan bisnis, tentu Erwin tak melewati undangan tersebut.

"Saat itu Gladys merupakan partner bisnis saya. Dia mengundang saya agar hadir pada ulang tahun ayahnya di sebuah restoran di daerah Sudirman," kenang lelaki kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 4 Februari 1970 ini kepada Bintang.com,Jumat (4/3/2016).

Tak hanya soal ulang tahun, Gladys pun berjanji akan memperkenalkan Erwin dengan seorang gadis. Hal itu juga yang membuat ia penasaran. Erwin sendiri saat itu sedang jomblo dan pernah meminta kepada Gladys untuk dicarikan pacar pada Gladys. Siapa dia

 

 

Dari rumahnya di Cempaka Putih, Erwin melaju ke sebuah restoran di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Tak perlu waktu lama untuk mencapai kawasan tersebut. Suasana terlihat ramai saat Erwin tiba di restoran itu.

Erwin terlihat rapi. Datang sendirian, Erwin lalu melangkah menuju ruangan tersebut, Gladys menyambutnya dengan hangat. Tak beberapa lama Gladys memperkenalkan Erwin dengan gadis yang telah ia janjikan. Ia adalah Jana Gunawan, cewek berdarah Solo dan Ceko itu.

Mereka duduk di sebuah sofa bersebelah-sebelahan. Erwin sendiri agak kikuk dengan gadis yang baru ia kenal itu. Gladys pun mencolek cewek kelahiran Praha, 23 April 1973 itu agar mengobrol dengan Erwin. Dari situ mereka akhirnya ngobrol.

‘Saya akhirnya ngobrol dengan Jana. Dia baik dan selalu nyambung kalau diajak ngobrol,” kata pemain film Berbagi Suami.

Hiruk-pikuk lalulintas mulai mereda saat Erwin mengantar pulang Jana ke rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sepanjang Sudirman-Kelapa Gading mereka ngobrol. 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Janji Suci di Katedral

Sejak pertemuan dan mengantar pulang, Erwin rajin menelepon Jana. Secara perlahan ia merasa cocok dan menyenangkan berhubungan Jana.  Terlebih, mereka satu iman, sama-sama Katolik.

"Saya merasa nyambung saat ngobrol dengan Jana. Dia juga menyenangkan,"  puji Erwin.

Sebulan setelah pertemuan pertama, Erwin baru mengucapkan komitmen untuk menjalin hubungan dengan Jana. Sejak itulah mereka resmi pacaran. Sebelumnya, dua minggu mereka berkenalan, Erwin bahkan mengenalkan gadis itu ke ibunya dan mengatakan Jana calon istrinya. Perasaan cinta menyelinap dalam hati Erwin.

"Saat mengenal Jana. Saya merasa cocok, makanya saya mengenalkan dia ke ibu saya. Keluarga saya pun cocok. Kebetulan dia seiman dengan saya. Selama ini saya pacaran beda agama semua, keluarga saya menolak," kata Erwin.

Dua tahun pacaran, Erwin dan Jana sepakat untuk mengikat cinta kasih mereka dalam sebuah perkawinan. Namun, Jana mengajukan tiga syarat pada Erwin. Pertama, Erwin tak boleh berubah sampai kapanpun. Kedua, jika punya anak tak menggunakan babysitter atau jasa pengasuh anak. Ketiga, tak memaksa Jana untuk memasak.

Ia menyetujui syarat yang diajukan Jana. Bagi Erwin, syarat itu  tak merugikannya. Namun, dua bulan jelang pernikahannya terjadi kerusuhan hebat pada 1998. Untuk keamanan dan kenyamanan mereka kemudian pindah lokasi pernikahan.

"Awalnya, saya ingin menikah di Museum Tekstil, tapi kami akhirnya memilih Gereja Katedral. Alasannya, karena saya Katolik dan Jana pun Katolik," kata Erwin.

Meski mereka tak bisa mewujudkan konsep resepsi outdoor pernikahan impian, acara pemberkatan di Gereja Katedral menjadi momen paling sakral dalam kehidupannya. Mereka akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri pada 24 Juli 1998.

3 dari 3 halaman

Mendidik Anak

Hari-hari dilalui pasangan pengantin tersebut dengan indah dan penuh semangat. Setahun setelah mereka menikah, Jana melahirkan anak pertamanya. Mereka menyematkan nama yang indah, Giulio Parengkuan. Pada tahun-tahun berikutnya, mereka kembali dikaruniai momongan; Marcio Parengkuan dan Abielo Parengkuan.  Bersyukur, ia akhirnya dikarunia anak cewek yang diberi nama Matacha Giana Parengkuan. 

"Memang kita kembali kepada komitmen. Saya menikah dan mempunyai keluarga. Tentu anak-anak menjadi prioritas utama. Karena pekerjaan saya juga bukan pekerjaan kantoran, jadi masih bisa membagi waktu," ungkap pendiri  sekolah komunikasi bernama Talkinc.

Hal yang juga penting, dalam mengasuh anak mereka menerapkan gabungan dua metode. Metode yang diterapkan orang tua Erwin dan metode orang tua Jana. Dua pemikiran itu yang kemudian digabungkan untuk mendidik keempat anak mereka.

Untuk lebih menjaga keharmonisan, sebagai orang tua, Erwin dan Jana selalu meluangkan waktu untuk anak-anak mereka. Hal lain, mereka pun menyempatkan diri untuk berlibur. Mereka kebetulan sama-sama memiliki hobi travelling.

"Kami pergi ke tempat-tempat wisata yang baru atau pun menemani kegiatan-kegiatan anak. Kami menikmati semua itu," terang Erwin.

Seperti komitmen awal sebelum menikah, mereka tak menggunakan jasa pengasuh anak. Mereka ingin membesarkan, merawat, dan mengawasi sendiri anak-anak. Pasangan ini sadar betul mendidik anak bukan hal mudah. Sempat terlintas kekhawatiran yang dirasakan Erwin dn Jana. 

"Pertama, mereka kan teenagers ya, dan mereka good looking. Kedua, saya melihat anak-anak remaja zaman sekarang yang sangat agresif, itu menjadi pemikiran saya, di samping soal privasi," jelas Erwin.

Namun, kekhawatiran itu sirna.  Ia menyadari suka tidak suka anaknya pun mulai terekspos. Selain karena profesi orang tuanya  sebagai selebriti, anak-anaknya juga mulai menggunakan media sosial sehingga orang mulai mengenali mereka.