Eksklusif Irwan Hidayat, Jatuh Hati kepada Industri Jamu

Gadis Abdul diperbarui 01 Apr 2016, 09:40 WIB

Fimela.com, Jakarta Dulu, sama seperti anak muda lainnya Irwan Hidayat lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, atau lebih tepatnya ia jarang sekali berada di rumah. Bahkan demi memuaskan hobi jalan-jalannya, setelah lulus SMA, pria kelahiran Yogyakarta, 23 April 1947 ini menghabiskan waktu selama dua tahun untuk pergi ke tempat-tempat yang ia suka.

Namun semua memang ada masanya, masa di mana ia berpikir bahwa hidupnya mulai membosankan akhirnya datang, maka di saat itulah ia mulai 'mencemplungkan diri' ke dunia rempah-rempah yang memang sudah mendarah daging di dalam tubuhnya. Ya, inilah kisah hidup Irwan Hidayat, Presiden Direktur Sido Muncul, sebuah brand jamu paling terkenal di Indonesia.

Melihat kesuksesan anak pasangan alm. Yahya Hidayat dan Dessy Sulistyo ini semua orang pasti akan merasa iri. Jika takaran kebahagiaan hanya diukur dengan jumlah harta dan kepopularitasan yang dimiliki, maka Irwan memang sudah memiliki semuanya. Tapi, untuk Irwan sendiri kebahagiaan tidak bisa diukur dengan sebuah materi belaka.

Ditemui Bintang.com di kantornya yang terletak di Cipete, Jakarta Selatan, orang nomor satu di Sido Muncul ini terlihat sangat ramah kepada para pegawainya. Ia tersenyum dan bahkan menyapa para pegawainya yang terlihat tengah asyik ‘bermain’ dengan layar monitor.

"Ayo masuk, silahkan duduk," suara Irwan terdengar begitu lembut, namun tetap berwibawa. "Setel TV, dalam sehari saya biasa nonton TV hingga enam jam," kata Irwan yang terlihat tengah sibuk mencari remote TV. Tentunya kali ini kita tidak akan berbincang soal masalah TV, berada dihadapan orang hebat seperti Irwan Hidayat, pastinya ada banyak pertanyaan, dan rasa keingintahuan dibalik kisah sukses ayah dari tiga orang anak ini.

"Saya pernah mengalami susah makan. Badan saya kurus, kecil seperti kekurangan gizi," jawab Irwan saat ditanya soal kehidupan masa kecilnya. Namun kehidupannya berubah setelah sang nenek Rakhmat Sulistyo, mendirikan Sido Muncul yang berarti ‘Impian yang Terwujud’ pada 11 November 1931 di Kota Semarang. Lalu usaha jamu sang nenek pun dikembangkan oleh kedua orang tuanya sehingga menjadi perusahaan jamu yang lebih modern.

Apakah semenjak itu kehidupan ekonomi keluarga Irwan Hidayat menjadi lebih baik? “Kami bersyukur. Tuhan itu baik, masih memberikan secercah harapan di setiap permasalahan yang kita hadapi. Nah, itu yang membuat seseorang meskipun jatuh dia bisa bangkit lagi,” ungkap Irwan. Ya, tidaklah mudah untuk membesarkan perusahaan jamunya seperti sekarang ini, kepada Bintang.com Irwan pun menceritakan kisah jatuh bangun mendirikan Sido Muncul yang telah mendapatkan lebih dari 700 penghargaan ini.

2 dari 3 halaman

Berawal dari Keterpaksaan

Mulanya tak tertarik sama sekali, tapi lambat laun Irwan Hidayat jatuh hati terhadap industri jamu. (Foto by Galih W Satria/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Ketika kecil Irwan Hidayat bercita-cita menjadi seorang arsitek. Tapi ternyata Tuhan memberikannya pilihan lain, yakni menjadi seorang tukang jamu. Ia pun terpaksa menjalaninya, tapi lambat laun ia menyadari bahwa mengurus perusahaan jamu sudah menjadi keahliannya.

Dikelola atau dibangun oleh Nyonya Rahkmat Sulistio (Nenek Anda sendiri), apa yang membuat Anda berpikir untuk mau mengurus bisnis keluarga?

Saya mulai gantiin orang tua saja sejak 1971, bukan karena niat berbisnis, karena waktu itu nggak punya pilihan lain. Satu-satunya pekerjaan cuma ini. Jadi, setelah lulus SMA saya sibuk jalan-jalan, lama-lama bosan, teman-temannya kan sudah kerja semua. Jadi saya nyari kerjaan, tapi juga nggak bisa nyari kerjaan dimana-mana, satu-satunya yang ada usaha keluarga. Yaudah cuma bantuin orang tua saya saja. Awal mulanya itu!

Kapan akhirnya Anda mulai menyadari bahwa kehidupan Anda 100 persen hanya untuk mendirikan perusahaan jamu atau perusahaan keluarga ini?

Iya, awalnya saya memang kepepet karena tidak ada pekerjaan lain. Sampai 22 tahun sudah ngurus jamu pun masih merasa kepepet, tapi setelah itu akhirnya saya menyadari bahwa ini memang sudah jalan Tuhan. Jadi, saya jalani saja apa yang ada.

Adakah masa di mana Anda merasa gagal ketika mengelola Sido Muncul?

Semua pekerjaan pasti akan menemui sebuah masa itu (kegagalan), jadi kita harus mencari cara supaya bagaimana bisa bangkit. Sido Muncul pernah mengalami masa krisis pada tahun 71, lalu 88, tahun 2004, 2005. Tapi soal krisis pekerjaan banyak yang ngalamin, ada yang enak ada yang nggak, ada yang menyenangkan, juga ada yang nggak menyenangkan.

Saat gagal apa yang Anda lakukan untuk bisa bangkit kembali?

Ya, kepepet harus bangkit, semua orang nggak berhasil, tapi kan harus jalan lagi. Tapi ini kepaksa, pengalaman saya disetiap kegagalan adalah saya sadar bahwa Tuhan itu baik, pasti dia masih masih memberikan secercah harapan. Orang jatuh itu ya harus bangun, masa mau tiduran, harus berusaha berdiri lagi. Dan kepaksa yang harus dijalanin. Yang buat orang bangkit dan selalu sukses adalah karena mereka masih bisa melihat setitik harapan.

Sejumlah produk Sido Muncul sudah menembus pasar mancanegara, sebut saja Tolak Angin. Bagaimana Anda memperkenalkan produk yang ‘sangat Indonesia’ ke luar negeri?

Dulu dibuatnya serbuk, lalu tahun 92 dibuatlah versi cair. Karena itu dulu pemikirannya supaya enak gimana? Jamu yang dulu kan awalnya sulit mesti di seduh, ribet, saya buat yang gampang dan rasanya enak. Lalu untuk memperkenalkan ke luar negeri yang saya lakukan adalah membangun kepercayaan di dalam negeri sendiri. Saya berpikir segala sesuatu yang bisa menjadi produk yang bisa dikenal di luar negeri, harus sukses di dalam negeri dulu. 

3 dari 3 halaman

Belajar dari Kegagalan

Mulanya tak tertarik sama sekali, tapi lambat laun Irwan Hidayat jatuh hati terhadap industri jamu. (Foto by Galih W Satria/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Meskipun sulit, tapi Irwan Hidayat selalu belajar untuk bangkit. Ia tidak pernah membiarkan satupun masalah membuatnya merasa terpuruk atau putus asa. Dan satu hal yang harus dipelajari saat bangkit adalah bagaimana kita mensyukuri segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan.

Apakah kunci dari keberhasilan atau bertahannya Sido Muncul hingga sekarang?

Industri jamu di Indonesia itu ada 1300, semua masih ada. Kalau Sido Muncul bisa bertahan sampai hari ini mungkin karena nggak lepas dari keberuntungan. Maksudnya punya ide untuk berinovasi, semua itu dibukakan oleh Tuhan. Karena beruntung saja, jadi kalaupun saya di suruh ngulang lagi, saya masuk ke perusahan lain misalnya, saya tidak akan bisa. Saya masuk diperusahaan yang berkembang mungkin pengalaman bisa digunakan. Tapi kalau memulai dari kecil lagi belum tentu berhasil. Kalau bisa seperti ini makanya saya beruntung.

Kini Sido Muncul telah menyabet lebih dari 700 penghargaan, lalu apalagi keinginan Anda untuk Sido Muncul kelak?

Pokoknya yang penting saya pesan sama anak, dan karyawan kalau mereka harus bekerja dengan sebaik-baiknya. Mereka harus mencintai pekerjaan yang dikerjakannya. Kesuksesannya tergantung pemberian Tuhan. Kalau penghargaan bukan tujuan, sebuah hasil dari sebuah usaha kalau penghargaan itu, dan bisa digunakan untuk memberikan semangat juga.

Bagaimana bisa dari bisnis jamu sekarang Anda melirik bisnis properti dengan mendirikan Hotel Tentrem?

Itu cuma karena punya uang, kemudian coba-coba bangun hotel. Uangnya dibeliin tanah, lalu tanahnya dibangun hotel, nanti kita juga mau bangun di Semarang. Buat tabungan aja. Juga ngasih kerjaan ke anak-anak dan keponakan, anakkan ada tiga keponakan 10. Tapi, sebenarnya saya memang nggak bisa menganggur, nggak ada rasa capek. Saya meyakini bahwa panggilan hidup saya, rezeki saya sudah dijamin sama Tuhan.

Soal pemilihan bintang iklan seperti Kusrin dan Manny Pacquiao,apakah Anda turun langsung untuk memilih?

Kusrin ini adalah salah satu orang hebat di Indonesia, dia nggak banyak ngeluh, walaupun lulusan SD dia bisa membuat TV dari limbah yang bisa dibilang berbahaya untuk lingkungan. Manny Pacquiao dia juga orang yang hebat, terbukti walaupun dia kalah dia tetap dicintai oleh masyarakat. Saya bertemu langsung dengan Pacquiao, dia orangnya sangat sederhana, masa kecilnya susah sama seperti saya.

Saya ada di semua lini, saya CEO, tugas pasti CEO sama direktur marketing. Tapi, saya juga masuk dan mengerti proses produksi, saya buat sendiri, distributor grosir, saya ketemu peminum jamu di pasar. Turun kelapangan, saya punya feeling terhadap perusahaan saya. 90 persen hidup saya, saya habiskan di jalan, dan ketemu orang.

Bagaimana agar pengusaha muda bisa sesukses Anda?

Menurut saya, pertama jangan kalau ngerjain A jangan kepengen bisnis B, jangan dianggep bisnisnya kecil, contoh, orang membuat travel, dia harus lain dari yang lain. Asal jujur, baik, serius, profit yang terbesar adalah mendapatkan kepercayaan. Orang sering melupakan network, kalau papahnya dokter gigi, jadi aja dentist, harus kreatif juga. Harus percaya sama waktu, nggak ada yang instan. Yakin saja jika orangnya baik, produknya baik, maka akan baik pula hasilnya, bisa sukses