Cerita Cinta, Nina Tamam - Erikar Lebang

Komarudin diperbarui 30 Apr 2016, 12:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Suatu hari pada 1999. Dama, sahabat Nina Tamam, menawarkan diri untuk mengenalkan Nina pada seorang cowok. Maklum personel grup vokal Warna itu sedang menjomblo setelah putus cinta. Nina sempat menolak setelah mengalami kegagalan. Alasannya sederhana, ia tak mau sakit hati lagi.

"Saya sempat patah hati setelah putus dengan pacar.  Saya sampai mau mati," kenang perempuan kelahiran Surabaya, 29 Maret 1975 itu tergelak ketika dihubungi Bintang.com, Kamis (28/4/2016) siang. "Ngapain gua nikah, gua bisa cari nafkah sendiri, kok!" jelasnya.

Setelah diyakini Dama, Nina pun bersedia untuk bertemu dengan lelaki bernama Erikar Lebang yang akrab disapa Erik. Namun, Nina sempat menggerutu kepada Dama, karena ia dan sahabatnya, Dea Mirela, harus menunggu lama. Rupanya, Dama harus lebih dulu jemput Erik.

 

"Saat ketemu, saya kaget. Erik pakai baju norak banget," nilai putri sulung musisi senior, Tamam Husein saat mereka pertama bertemu. 

Dari pertemuan itu Nina dan Erik kemudian menjalin hubungan. Hubungan tersebut berjalan lancar dan cenderung datar. Tak ada ungkapan cinta yang sampaikan Erik kepada Nina, begitu pula sebaliknya. Meski begitu, Erik secara diam-diam memberi kejutan pada Nina.

Salah satunya, saat Nina ingin punya boneka beruang gede, Erik mewujudkan keinginan Nina. Ia membelikan boneka tersebut di Tenda Semanggi untuk Nina. Hal itu yang sampai saat ini yang cukup membekas dalam ingatan Nina. Secara diam-biam, Erik mengantar boneka itu ke rumah Nina di Bekasi.

"Saat itu Erik tinggal di daerah Blok A, Jakarta Selatan, sedangkan saya tinggal bersama ibu saya di Bekasi. Jadi, dari sana ia ke Bekasi hingga akhirnya Erik telat menyaksikan konser Warna di daerah Senayan. Ternyata, dia dari rumahnya ke Bekasi untuk mengantarkan boneka, terus baru ke Senayan. Boleh jadi telat. Saya sempat marah karena ia datang telat," Nina kembali tertawa mengenang peristiwa tersebut.

2 dari 3 halaman

Banjir Tamu Saat Resepsi Pernikahan

Setelah tiga tahun berhubungan, Nina akhirnya menantang Erik untuk menikah.  Ia menanyakan apakah Erik bersedia menikahinya. Kalau tidak, Nina akan mencari laki-laki lain.  Erik akhirnya menyetujui keinginan Nina.  Bagi Nina dan Erik, tiga tahun sudah cukup mengenal karakter masing-masing. Selain itu, kriteria yang diinginkan Nina ada dalam diri Erik. 

"Pertama, saya kepengen punya pasangan hidup yang memiliki pemahaman agama yang kuat yang mampu membimbing saya lahir dan batin. Kedua, ia pekerja keras. Ketiga, bertanggung jawab dan tidak menelantarkan saya dan anak. Keempat, bisa menantang otak saya untuk berpikir terus-menerus dan bisa nyambung jika bicara," papar Nina.

Erik kemudian melamar Nina pada 29 Maret 2002. Setelah acara lamaran, Erik mengucap ijab kabul di hadapan penghulu pada 29 Agustus 2002 di sebuah masjid di Gang Kerinci, Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Nina sering salat di masjid tersebut jika bertamu ke rumah temannya. 

"Masjid itu bagus, nyaman. Jika salat di sana terasa adem. Apalagi,  anginnya yang semilir. Saya betah salat di sana," kata Nina, ". "bersyukurnya, saat hendak melakukan akad nikah semuanya dimudahkan oleh Allah sehingga akad nikah berjalan lancar," lanjutnya.

Erik memberi maskawin sejumlah uang. Malamnya mereka mengadakan resepsi pernikahan di Klub Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan. Jika mengingat betapa beratnya mempersiapkan segala pernik pernikahan, Nina merasa bersyukur semua bisa berjalan lancar. Hal yang lebih menyenangkan, tamu penuh.

"Padahal, undangan yang kami sebar hanya 300, tapi yang hadir sekitar 2.000 tamu. Seluruh keluarga saya yang dari Jawa datang. Mereka menyewa 10  bus," kata Nina tertawa. "Acara untuk dansa pun akhirnya dibatalkan karena banyaknya tamu," jelas Nina tertawa.

3 dari 3 halaman

Komunikasi dan Menanti 12 Tahun

Sebagai pasangan baru menikah, mereka menikmati sebagai pasangan yang masih berpacaran. Tahun demi tahun, mereka belum juga dikaruniai anak. Berbagai upaya usaha mulai dari cek ke dokter hingga menjalani pengobatan alternatif.

Namun, usaha tersebut juga belum membuahkan hasil. Beruntung, Nina mendapatkan pengertian dari orangtua serta mertuanya. Mereka tak pernah memaksakan kehendak soal keturunan. Mereka sangat memahami bahwa anak merupakan anugerah dari Tuhan.

"Aku sempat diminta untuk minum hormon, tapi aku enggak mau," jelas Nina.

Namun, seiring waktu berjalan keinginan Nina dan Erik akhirnya dijawab oleh Allah. Nina dinyatakan hamil, mereka menyambutnya dengan penuh rasa syukur. Padahal, mereka sempat berpikir tak ada anak juga tak masalah. Pada 6 Oktober 2014 bayi mungil itu akhirnya lahir. Mereka menyematkan nama Shaquille Skylar Kama.

Kini, usia perkawinan Nina Tamam dan Erikar Lebang telah 14 tahun. Kehadiran Shaquille kian menambah keharmonisan keluarga. Terlebih mereka juga selalu menjalin komunikasi yang baik. 

"Meski kedengarannya klise, komunikasi salah satu kunci agar pernikahan bisa langgeng. Jika enggak suka sesuatu harus dikomunikasikan dengan baik," jelas Nina. 

Selain itu, mereka juga selalu menyempatkan diri untuk berlibur berdua. Selain itu, mereka juga berusaha untuk saling mengingatkan karena lingkungan pekerjaan mereka juga banyak perempuan, begitu juga sebaliknya di lingkungan pekerjaan Nina.